Apakah Tes Darah dapat Mendiagnosa Autis Secara Akurat?


    © bach-blueten-portal.de

     

    SURATKABAR.ID – Potensi alat diagnostik terbaru yang telah ditemukan yaitu menggunakan tes darah sederhana yang memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi apakah seorang anak pada spektrum autisme atau tidak.

    Kejelasan dalam diagnosis anak yang terkena Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah tantangan yang tengah dihadapi oleh peneliti medis modern sekarang ini. Sedangkan penyebab ASD sejauh ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, deteksi sedini mungkin dipercaya dapat meningkatkan efektivitas pengobatan dan manajemen bagi perkembangan anak autis.

    Seperti yang dilansir oleh NewAtlas.com (17/3/2017), pada umumnya para dokter hanya melakukan pengkajian terhadap perilaku anak dan kemampuan sosial untuk mendiagnosis ASD. Namun sayangnya, mayoritas diagnosis autis hanya dapat diketahui setelah usia anak menginjak empat tahun. Padahal setiap anak autisme memiliki manifestasi tanda dan gejala yang berbeda.

    Penelitian terbaru telah mulai memfokuskan pada tanda biologis tertentu yang dapat dijadikan diagnostic test dini, yaitu dengan cara melakukan uji coba yang lebih akurat dan objektif saat melakukan tes fisik secara medis.

    Pada tahun 2015, para ilmuwan mengidentifikasi ada protein tertentu yang hanya ditemukan di air liur penderita autis yang mana kemungkinan besar dapat dijadikan diagnosa dini untuk mengetahui hal tersebut. Pada tahun 2016, kembali sekelompok peneliti berusaha menemukan teknik eye-tracking yang diharapkan sebagai cara awal untuk menguji dan mendiagnosis anak autis.

    Para peneliti di Renseller Polytechnic Institute juga mengklaim bahwa tengah mengembangkan proses diagnosis fisiologis yang paling komprehensif untuk ASD. Jika penelitian sebelumnya berfokus pada metabolit tunggal atau biomarker, pada penelitian kali ini mengukur 24 metabolit terpisah dari sampel darah, menggunakan algoritma yang kompleks yang mana diyakini dapat menentukan apakah sesorang merupakan spektrum autisme atau tidak.

    Hasil dari penelitian yang melibatkan 83 partisipan dengan ASD dan berusia 76 tahun orang yang memiliki gangguan neurotipikal, terungkap bahwa 96,1 persen dari para sukarelawan itu mengalami neurotipikal dan 97,6 persen lainnya mengalami ASD.

    Tapi sayangnya perlu adanya tindak lanjut seperti metode korelasi antara gangguan dan metabolik tertentu, sehingga teknik ini masih belum dapat dijadikan acuan sepenuhnya dalam penentuan diagnosis.