Setelah Tipu Korban Hingga Triliunan Rupiah, Bos Pandawa Cuma Bilang Begini


SURATKABAR.ID – Kasus investasi abal-abal di tubuh Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Grup hingga kini masih terus diusut oleh Polda Metro Jaya.

Investasi bodong yang digawangi bos Pandawa Grup, Salman Nuryanto, memakan korban tak sedikit. Sedikitnya 5.000 orang terjerumus di dalamnya. Direportasekan kembali dari Merdeka, kerugian akibat investasi bodong ini tercatat mencapai triliunan Rupiah.

“Rp 1,5 triliun, kemudian data korban yang sudah melapor ada 5.168 itu semuanya keseluruhan yang melapor,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono kepada media, Rabu (8/3/2017).

Argo Yuwono mengatakan, korban yang melapor rupanya tak hanya berdomisili di Jakarta. Para korban investasi bodong tersebut juga ada yang berasal dari Jawa Tengah.

Baca juga: Inilah Asal-Usul Kenapa Polisi Usut Dugaan Pencucian Uang yang Menjerat Bachtiar Nasir

“Tidak hanya di Jakarta saja, di luar Jakarta seperti di Indramayu dan Jawa Tengah,” jelasnya.

Sampai sekarang, Argo mengatakan, sedikitnya 22 orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus investasi bodong tersebut. Saat ini sudah dilakukan penahanan terhadap semua tersangka itu.

Terkait hal ini, bos Pandawa Grup, Salman Nuryanto, malah melontarkan suatu pengakuan dengan entengnya. Bekas tukang bubur ini berdalih bahwa dirinya tak memaksa para korban untuk menanamkan modalnya di Pandawa Grup.

Salman juga mengklaim tidak tahu menahu perihal sistem yang dipakai bawahannya hingga mampu menarik orang sampai sebanyak itu.

“Biasa aja, orang pada ngikut sendiri, banyak yang ngikut sendiri. Saya banyak yang enggak tahu dari bawah soalnya,” aku Salman di Polda Metro Jaya, Kamis (9/3/2017).

Selain pengakuan entengnya tersebut, ia juga menceritakan awal mula membangun Pandawa Grup. Salman mengaku ada banyak orang menitipkan uang kepadanya selagi ia masih berjualan bubur ayam di Sawangan, Depok.

Ia lantas terinspirasi menawarkan peluang investasi untuk disalurkan ke pedagang kecil. Salman mendapatkan inspirasi membangun KSP berawal dari obrolan kosong.

“Orangnya kumpul, terus pada ngobrol-ngobrol, akhirnya ada yang percaya ada yang nggak. Jadi yang percaya langsung pada ikutan, gitu aja,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan, pada awal pembangunan usaha tersebut mulanya berjalan dengan baik. Namun, akhirnya semakin lama semakin tidak benar.

Sebanyak 28 kendaraan hasil investasi bodong Pandawa Grup telah disita Polda Metro Jaya. Dari 28 kendaraan, terdapat mobil Mazda MX-5 Miata Sport. Mobil-mobil tersebut diduga merupakan hasil tindak pencucian uang yang dilakukan oleh 22 tersangka dalam kasus ini. Pencucian uang tersebut digadang-gadang hingga mencapai Rp 1,5 triliun.

Baca juga:  Bachtiar Nasir Terseret Kasus Pencucian Uang

Polda Metro juga menyita 20 unit kendaraan roda dua berbagai tipe mulai dari motor bebek, sport, hingga motor besar yakni Harley Davidson yang dimodifikasi hingga sedemikian rupa. Juga, polisi telah menyita 12 sertifikat hak milik, enam rumah mewah, sepuluh bidang tanah, logam mulia, mata uang asing, perhiasan dan buku tabungan.

Hingga berita diterbitkan, penyidik sudah menjerat 22 pelaku yang dijadikan tersangka dalam kasus investasi abal-abal ini. Diketahui korban (nasabahnya) sudah mencapai lebih dari 5.000 orang.