1,7 Juta Anak-anak di Bawah Umur Meninggal Tiap Tahunnya Karena Polusi Lingkungan


    © indianexpress.com

    SURATKABAR.ID – Selain masalah bencana alam, peperangan atau kelaparan, ternyata menurut data yang dihimpun oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, salah satu penyebab utama kematian anak-anak adalah disebabkan oleh polusi.

    Dalam laporannya, WHO menjelaskan bahwa setiap tahunnya, ada sekitar 1,7 juta anak-anak meninggal karena polusi lingkungan, seperti polusi udara di dalam atau luar ruangan, air yang sudah terkontaminasi zat kimia berbahaya sampai dengan sanitasi yang buruk.

    Bahkan, dari 5 anak-anak yang meninggal di seluruh dunia, 4 di antaranya disebabkan oleh imbas dari polusi lingkungan yang semakin memburuk dari hari ke hari.

    Dalam laporan pertamanya, WHO menyebutkan bahwa penyakit yang merupakan imbas dari buruknya sanitasi adalah ada sekitar 361 ribu anak-anak yang meninggal karena diare, 200 ribu di antaranya disebabkan oleh malaria dan pneumonia. Uniknya, sebenarnya penyakit-penyakit tersebut dapat ditanggulangi dengan penyediaan air bersih dan layak konsumsi.

    “Lingkungan yang tercemar sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak. Organ-organ mereka (anak-anak) tidak sama seperti orang dewasa di mana sistem kekebalan tubuhnya lebih rentan terhadap polusi, seperti udara atau air yang kotor,” kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan, seperti yang dikutip dari TheVerge.com (6/3/2017).

    Di laporan keduanya, WHO menjelaskan bahwa setiap tahun sekitar 570 ribu anak berusia di bawah 5 tahun meninggal dunia karena infeksi pernapasan karena buruknya sirkulasi udara di dalam ruangan atau jeleknya udara di luar, serta karena asap.

    Di sejumlah negara, peningkatan volume sampah elektronik, terutama yang berasal dari smartphone dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak sekaligus membuat kerusakan pada paru-paru dan menyebabkan kanker.

    Tidak hanya itu saja, perubahan iklim yang mana terkena imbas dari polusi udara dapat meningkatkan suhu serta kadar CO2 dalam udara kemudian secara tidak langsung dihirup anak-anak dan orang dewasa yang mana dapat meningkatkan risiko penyakit asma.

    Memang bagi orang dewasa, polusi-polusi tersebut tidak begitu berimbas pada mereka pribadi, namun secara efek jangka panjangnya, kesehatan juga akan terus digerogoti secara perlahan. Jika orang dewasa dengan kekebalan tubuh serta organ yang sudah kuat saja dapat terserang penyakit karena polusi, apalagi anak-anak yang masih dalam taraf pertumbuhan, menurut WHO dalam penjelasannya.

    Untuk itu, WHO berharap pemerintah di setiap negara di dunia untuk melakukan tindakan pencegahan untuk tanggulangi polusi lingkungan yang terjadi agar dapat memangkas jumlah kematian anak-anak yang setiap tahun terus bertambah.