Di Desa Ini ada 350 Anak Ditinggal Orangtuanya


    SURATKABAR.ID – Di daerah Lombok Timur, NTB, kelompok belajar Smart Class Dua Bersaudara diadakan setiap sore di rumah kader desa Suprihatin dan saudaranya. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak TKI yang ditinggal orangtuanya bekerja ke luar negeri.

    Jika ditotal, setidaknya terdapat 40 anak usia sekolah, sebagian besar anak-anak itu ditinggal ayah dan ibunya untuk mencari nafkah di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

    “Kegiatan belajar ini dapat menjadi saluran bagus bagi mereka agar mereka tidak terlalu bersedih karena ditinggal oleh ibu mereka dan bahkan oleh kedua orang tua mereka,” tutur Suprihatin, sebagaimana dilansir dari BBC.

    Awalnya kegiatan belajar dan bermain tersebut tidak direncanakan diadakan setiap sore. Tapi menurut Suprihatin, anak-anak justru datang setiap hari.

    Baca juga: Pemulung Ini Sumbang 330 juta untuk Sekolahkan 37 Siswa Miskin

    Anak-anak itu tampak antusias membaca berbagai buku bacaan di teras sebuah rumah di Desa Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Satu ruang di samping teras juga penuh dengan anak yang mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Ada pula kelompok bermain di sudut. Di halaman depan, anak-anak kecil dengan formasi bundar bernyanyi bersama.

    Remitansi Hampir Rp 1 Triliun

    Kelompok belajar untuk anak-anak buruh migran seperti Smart Class Dua Bersaudara mudah dijumpai di Desa Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur.

    Berdasarkan penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015, di desa tersebut terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal oleh ibu atau bapak dan bahkan keduanya untuk bekerja di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong dan negara-negara Timur Tengah. Jumlah yang hampir sama juga ditemukan di desa tetangganya, Lenek Lauk.

    “Kita tidak bisa membayangkan, kalau kemudian satu desa rata-rata sekitar 300 anak dan di Kabupaten Lombok Timur ada sekitar 250 desa berapa jumlah keseluruhan,” ucap Suharti, direktur Yayasan Tunas Alam Indonesia. Selama ini ia jugalah yang melakukan pendampingan anak-anak buruh migran di kabupaten itu.

    Berdasarkan data pemerintah setempat, Lombok Timur diketahui merupakan kabupaten pengirim tenaga kerja terbesar ke luar negeri dengan jumlah 15.000 lebih pada 2016. Setiap tahun mereka mengirimkan uang dalam jumlah besar untuk kabupaten yang tergolong miskin tersebut.

    Pada 2016, jumlah remitansi (transferan uang dari TKI) tercatat Rp 820 miliar. Ini belum termasuk uang yang dikirim pulang tanpa melalui bank, misalnya lewat teman atau tetangga yang pulang. Tahun sebelumnya, jumlah kiriman TKI ke Lombok Timur Rp 966 miliar.

    Mayoritas yang merantau dari Desa Wanasaba adalah perempuan. Sedangkan di Desa Lenek Lauk, sebagian besar yang menjadi buruh migran adalah laki-laki. Hampir setiap rumah punya anggota keluarga yang bekerja di luar negeri sebagai pekerja domestik atau pekerja perkebunan dan pekerja-pekerja kasar lain.

    Sementara itu, pendorong kepergian mereka dari desa-desa yang mata pencaharian penduduknya bertani tersebut adalah faktor ekonomi.

    “Lemahnya perekonomian di Desa Lenek Lauk [serta] kurangnya lapangan kerja sehingga [membuat] mereka pergi ke luar negeri. Ketika kami persentasikan sesuai dengan pantauan kami di desa, persentasi masyarakat Lenek Lauk -kalau laki-laki yang pergi ke Malaysia sampai 80%,” ungkap Kepala Desa Lenek Lauk, M. Zaini.

    Mereka sendiri mengaku tidak rela meninggalkan kampung halaman serta keluarganya untuk merantau. Namun apa daya, mereka tak punya pilihan lain.

    ”Sebenarnya masyarakat kami sering mengeluh. ‘Seandainya pak kepala, ada lapangan kerja di Lombok ini, bukan hanya di skala Lenek Lauk maka kami tidak mungkin pergi ke luar negeri. Karena meninggalkan keluarga, anak, sanak famili sangat berat rasanya,” ujarnya kepada tim wartawan.

    Kini, hasil jerih payah TKI tampak nyata di kedua desa. Rumah-rumah bata berdiri kokoh dengan atap genteng. Tampak di depan rumah diparkir sepeda motor bahkan ada yang lebih dari satu, serta warga mengolah lahan pertanian yang subur.

    Meski begitu, M. Zaini mengakui, tidak semua warganya berhasil mengumpulkan uang sebagaimana yang direncanakan. Banyak pula yang tidak mujur dan ditipu oleh para calo tenaga kerja. Padahal, di desa mereka sudah meminjam uang atau menjual tanah untuk biaya keberangkatan ke luar negeri.

    Nikah di Bawah Umur

    Bagaimanapun ketidakhadiran orang tua di antara anak-anak mereka menimbulkan persoalan lain. Penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) yang melakukan pendampingan anak-anak buruh migran di Lombok Timur ini menunjukkan kecenderungan adanya pernikahan dini (di bawah umur, 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki) di dua desa; Lenek Lauk dan Wanasaba.

    ”Kasus anak yang menikah di usia anak tersebut ada sekitar 136 orang anak dan sekitar 100 pasang adalah sesama anak buruh migran,” imbuh Kepala Divisi Pemberdayaan Anak, Pemuda dan Masyarakat di Yayasan Santai, Zurhan Afriadi.

    Menurut Zurhan, setidaknya ada dua penyebab dari pernikahan dini tersebut.

    Baca juga: Keren! Robot Ini Cocok Jadi Sahabat Para Petani

    ”Salah satunya karena kurang pengawasan dari orang tua karena ibu atau bapaknya harus bekerja ke luar negeri dan anak-anak tersebut dititipkan bersama kakek, nenek dan pamannya jadi pengawasan terhadap anak bisa jadi agak longgar. Dan itu menyebabkan anak-anak tertarik untuk menikah di usia anak.”

    Yang kedua, sambung Zurhan, anak-anak merasa terhimpit ekonomi. Hal itu mendorong mereka untuk menikah dini, dengan harapan pernikahan tersebut dapat mengubah nasib mereka.