Begini Cara Mengenali Penyebab Gangguan Pendengaran


SURATKABAR.ID – Indera pendengaran merupakan salah satu anggota paling vital dalam tubuh kita. Jadi jika pendengaran sedang bermasalah, hal itu tak bisa disepelekan.

Berdasarkan tingkatannya, gangguan pendengaran bisa saja ringan, yakni menurunnya fungsi pendengaran, tetapi yang bersangkutan masih bisa berkomunikasi dengan baik. Bisa juga gangguannya sangat berat atau mengalami tuli total, yakni tidak bisa mendengar sama sekali meskipun ada suara/ bunyi yang nyaring di dekatnya.

Dokter Damayanti Soetjipto, SpTHT-KL(K), selaku Ketua Komite Nasional Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) mengatakan bahwa gangguan pendengaran sering luput dari perhatian mengingat ia tidak tampak secara fisik. Demikian sebagaimana diwartakan dalam Kompas.

Kendati demikian, gangguan pendengaran tak bisa dianggap sepele karena bisa menurunkan kualitas hidup. Oleh sebab itu, bertepatan dengan Hari Pendengaran Sedunia pada 3 Maret, mari kenali beberapa penyebab gangguan pendengaran.

Baca juga: Punya Gangguan Pendengaran? Baca Ini

  1. Tuli sejak lahir

Diperkirakan kasus tuli sejak lahir atau kongenital di Indonesia terjadi pada 6500 anak setiap tahunnya. Tuli sejak bayi bisa mengganggu kemampuan bicara anak dan kemudian berpengaruh pada pendidikannya.

Maka, anak baru lahir seharusnya diperiksa dengan alat OAE (Oto-Aacoustic Emission). Bila ada indikasi masalah pendengaran, usia 3 bulan kembali menjalani pemeriksaan secara lengkap.

“Kalau bayi tidak bisa mendengar, sebelum usia 6 bulan dipasang alat bantu dengan supaya kemampuan bicaranya nanti juga bagus, ” tutur Damayanti.

  1. Infeksi telinga tengah

Infeksi telinga tengah juga rentan terjadi pada anak-anak. Umumnya keluhan ini ditandai dengan batuk, pilek atau radang tenggorokan.

Bila tidak segera diatasi, infeksi bisa menjalar ke telinga tengah melalui saluran yang menghubungkan hidung dan telinga. Pada tahap lanjut, ini bisa menyebabkan pecahnya gendang telinga.

“Jadi saat anak sering batuk, pilek, periksa juga kesehatan telinganya,” terang Damayanti.

  1. Kotoran telinga

Menumpuknya serumen atau kotoran telinga dapat menyebabkan gangguan pendengaran ringan. Jika telinga kemasukan air, serumen dapat mengembang dan terasa telinga seperti tertutup.

Hindari membersihkan telinga sendiri dengan menggunakan korek kuping. Kebiasaan itu malah bisa mendorong serumen lebih dalam ke telinga.

  1. Tuli akibat bising

Siapa sangka, paparan suara bising yang terlalu keras dalam waktu lama pun dapat merusak pendengaran bahkan bisa sampai menyebabkan ketulian.

Damayanti menyebutkan, batas aman tingkat kebisingan bagi pendengaran adalah tak lebih dari 80 desibel. Bila  terlalu sering mendengar suara bising di atas 80 desibel, fungsi telinga bisa rusak.

Damayanti mengungkap bahwa suara bising yang keras bisa dijumpai pada pusat permainan anak di mall, saat nonton konser musik, hingga bengkel mesin di sekolah menengah kejuruan jurusan teknik. Untuk mencegahnya, hindari paparan bising yang keras dan terlalu lama.

  1. Tuli pada usia lanjut

Baca juga: 5 Manfaat Melajang Bagi Kesehatan 

Proses penuaan juga terjadi pada telinga. Biasanya penurunan fungsi pendengaran terjadi pada usia di atas 65 tahun. Lansia jadi sulit mendengar lebih baik dari biasanya.

Pada lansia kesulitan mendengar bisa menyebabkan emosi tidak stabil, pemarah, komunikasi dengan keluarga terganggu, bahkan depresi.