Benarkah Orang Tinggi Lebih Cepat Mati?


SURATKABAR.ID – Pria tertinggi di Inggris, Neil Fingleton, meninggal di usia 36. Neil terkenal karena telah membintangi beberapa film termasuk Game of Thrones, Doctor WhoAge of UltronX-Men: First Class, dan Jupiter Ascending. Belum dipastikan penyebab kematiannya, tapi Nick Fingleton bukan pria tertinggi pertama yang mati di usia sangat muda.

Sebelumnya, pegulat dan aktor Andre the Giant meninggal akibat serangan jantung di usia 46. Matthew McGory, aktor setinggi 2.29 meter yang terkenal akan perannya di Big Fish juga meninggal di umur 32 akibat serangan jantung. Robert Wadlow, pria tertinggi dalam sejarah, meninggal di umur 22. Zeng Jinlian, wanita tertinggi dalam sejarah meninggal di umur 17. Apa sebenarnya penyebab orang dengan tinggi di atas rata-rata ini memiliki umur pendek?

Seperti yang dikutip dari gizmodo.com, gigantisme disebabkan oleh tumor pada kalenjar pituari yang memicu hormon pertumbuhan terlalu banyak diproduksi saat anak-anak. Kelebihan hormon pertumbuhan ini akan merusak fungsi jantung.

“Itu penyebab paling umum orang-orang dengan tinggi diatas rata-rata mengalami serangan jantung,” ungkap professor klinis Alexander Vortmeyer dari Indiana University. Dirinya menjelaskan jantung akan lebih meregang untuk mensuplai darah ke orang yang sangat besar.

Kelainan hormon pertumbuhan juga dapat membuat jantung lebih tebal, namun biliknya tetap berukuran sama. Hormon pertumbuhan juga bisa mengganggu fungsi insulin normal, akibatnya orang dengan kelainan hormone pertumbuhan sering kali terserang diabetes. Penanganan kelainan ini biasanya dengan pengangkatan atau penyusutan  tumor kelenjar pituari melalui operasi, obat-obatan atau pengobatan radiasi.

Sindrom Marfan adalah kelainan yang menyebabkan pertumbuhan tinggi yang tak normal pada seseorang. Sindrom tersebut menyebabkan jaringan ikat pada tubuh tergangg, khususnya kolagen.

Layaknya akromegali, penderita sindrom Marfan mudah dikenali karena bentuk tubuh dan penampilannya yang berbeda. Penderita kelainan ini biasanya meninggal karena pembuluh darahnya pecah.

Pada kasus Nick Fingleton tak ditemukan tanda-tanda ia menderita akromegali, namun Alexander Vortmeyer menduga Nick sepertinya meproduksi terlalu banyak hormon pertumbuhan.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaTerbaring Sakit, Jupe Pasrah Saat Dipandu Berdzikir
Berita berikutnyaTernyata Reaktor Nuklir Adalah Sumber Energi Yang Paling Aman