Prabowo Beri Lampu Hijau untuk Hak Angket Penyadapan SBY


    SURATKABAR.ID – Dugaan bahwa komunikasi antara Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan K.H. Ma’ruf Amin telah disadap, kini berujung menjadi usulan hak angket di DPR.

    Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat adalah hak untuk melakukan penyelidikan yang dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam kebijakan Pemerintah, yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Seperti disadur dari Merdeka, sampai saat ini belum ada yang tegas menyatakan setuju tentang usulan tersebut. Namun, Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, memberikan lampu hijau.

    Prabowo Subianto menginstruksikan agar partainya menggulirkan isu dugaan penyadapan tersebut di fraksi DPR. Hal itu dibahas dalam HUT Partai Gerindra ke-9 kemarin, Senin (06/02/2017). Keinginan Prabowo ini diungkapkan oleh Sekjen Gerindra Ahmad Muzani.

    “Beliau [Prabowo] merasa bahwa penyadapan-penyadapan itu akan disikapi oleh fraksi,” ungkap Muzani di DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Senin (06/02/2017).

    Isu dugaan penyadapan ini berawal ketika sidang kedelapan kasus penistaan agama terdakwa Basuki T. Purnama (Ahok) pada 31 Januari lalu. Ahok beserta kuasa hukumnya mengaku mengetahui percakapan antara SBY dan Ketua MUI Ma’ruf Amin pada 7 Oktober 2016.

    Percakapan SBY dan Ma’ruf ini, oleh kubu Ahok, diyakini sebagai asal muasal dikeluarkannya fatwa penistaan agama dari MUI kepada Ahok.

    Bukan hanya itu saja, rupanya Prabowo juga punya cerita sendiri terkait penyadapan. Dalam pertarungan Pilgub DKI 2017 ini, mantan Danjen Kopassus itu juga merasa telepon pribadinya telah disadap oleh pihak-pihak tertentu.

    “Semua negara nyadap, ya kita kalau bicara yang benar ya enggak apa-apa. Saya tahu kalau saya juga disadap,” imbuhnya.

    Prabowo juga menyarankan kepada semua anak bangsa untuk saling berpegangan tangan alih-alih menyudutkan untuk menjatuhkan.

    “Kalau menurut saya, condong masyarakat kita ini selalu mau menghardik temen sendiri, menghardik bangsa sendiri. Untuk apa, sih? Kita semua ini, ‘kan, semua dalam satu kapal. Mari kita sama-sama,” himbau Prabowo.

    “Berkuasa ini amanah. [Berkuasa] itu ada saatnya naik, ada saatnya turun. Enggak usah terlalu dibuat tegang begitu. Maunya saya, maunya kita baik baik aja, sih... Jangan suka mencela, jangan suka mencari [gara-gara], jangan suka maki-makilah,” tukas Prabowo.