Trump Marah-Marah ke PM Australia. Kenapa?


SURATKABAR.ID – Donald Trump, raja bisnis yang kini menjabat sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat dikabarkan sempat marah kala berbicara di telepon dengan Perdana Menteri Australia. Bahkan, kemarahan Trump dikatakan sampai membuatnya tiba-tiba menutup telepon ketika baru bercakap selama 25 menit. Padahal mestinya mereka dijadwalkan bercakap-cakap selama satu jam.

Amarah Trump kepada Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull tersebut muncul saat mereka membahas soal pengungsi. Bahkan menurut sejumlah media, percakapan via telepon yang berlangsung pada tanggal 29 Januari lalu diwarnai cekcok dan “seruan-seruan kasar”. Demikian seperti diwartakan dalam Tribun.

Apa pasal? Dalam pembicaraan itu, Malcolm Turnbull disebut mendesak Trump untuk menepati kesepakatan AS yang sedianya akan memberikan penampungan bagi 1.250 pengungsi dari Australia. Kesepakatan tersebut rupanya pernah dibuat pada masa pemerintahan mantan Presiden AS sebelumnya, Barack Obama.

Namun kemudian, Trump bersiteguh menolak keras kesepakatan yang tersebut. Ia tak bersedia menerima lagi pengungsi asal Australia di negaranya lalu menyebut kesepakatan tersebut sebagai “kesepakatan bodoh”.

Perbincangan melalui telepon itu kemudian diakhiri begitu saja secara sepihak oleh Trump. Trump menutup sambungan teleponnya sesaat setelah Malcolm Turnbull menjelaskan betapa pentingnya peran AS dalam menampung para pengungsi itu dari Australia tersebut.

Ada pun seperti diketahui, belum lama ini Donald Trump telah memberlakukan larangan pengungsi masuk ke negaranya.

Trump yang aktif di media sosial Twitter juga mencuitkan persoalan itu di akun resminya pada hari Kamis (02/01/2017). Dalam cuitan tersebut, ia mempertanyakan pemerintahan Obama yang menyetujui kesepakatan penampungan imigran tersebut.

Sedangkan dalam kesepakatan yang telah disetujui Obama pada tahun 2016 itu, dikatakan AS bersedia menampung 1.250 pengungsi yang ada di kamp-kamp kepulauan Papua Nugini dan Nauru. Sebagai gantinya, Australia akan menampung pengungsi dari El Salvador, Guatemala dan Honduras.

Namun kesepakatan Obama- Turnbull tersebut kini malah bertabrakan dengan kebijakan baru yang diberlakukan Trump yang berisi larangan untuk menampung pengungsi dan imigran dari tujuh negara.

Ketujuh negara yang dimaksud adalah Suriah, Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman. Diketahui negara-negara ini merupakan negara dengan populasi mayoritas muslim. Demikian seperti dilaporkan dalam New York Times/Washington Post.