Jurnalis Asing Ini Sebut Panglima TNI sebagai Jenderal Paranoid


SURATKABAR.ID – John McBeth, seorang jurnalis dan penulis asal Selandia Baru menyebutkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai jenderal paranoid. Hal ini dituliskan dalam artikel berjudul, “Widodo, His Paranoid General and a ‘Rotting Situation’ in Indonesia” dalam South China Morning Post, Minggu (15/01/2017).

Seperti diinformasikan dalam Republika Nasional, Senin (16/01/2017), sikap Gatot belakangan ini mengindikasikan sebuah kemunduran, demikian anggap McBeth. Menurut penilaiannya, Gatot telah melontarkan hal-hal yang berlebihan. Salah satu contohnya yakni terkait pada ucapan Gatot mengenai kegiatan latihan marinir Amerika Serikat di Australia utara yang diduga sebagai upaya untuk mengambil alih Papua.

Dalam artikel tersebut, McBeth juga menyebutkan sikap Gatot yang menduga perwira militer yang belajar di luar negeri bisa menjadi agen pengaruh asing, juga Gatot berpikir warga negara asing secara umum terlibat dalam perang proksi untuk mengacaukan Indonesia.

McBeth juga mengomentari kejadian belum lama ini, di mana Gatot memutus hubungan kerja sama politik dengan Australia tanpa berkonsultasi dengan Presiden Joko Widodo terlebih dahulu. Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan sikap Gatot yang ‘kurang bertanggungjawab’ pada Jokowi.

“Di tempat lain, Nurmantyo (Gatot) mungkin sudah dipecat. Namun, Indonesia bukan “tempat lain dan kebijakan harus dipertimbangkan baik-baik terutama menghadapi suasana politik yang memburuk,” tulis McBeth dalam artikelnya tersebut.

Menurut analisanya, posisi Jokowi saat ini tengah cukup terguncang usai dua kali demonstrasi besar atas dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Ia juga menyentil seorang jenderal lain yang juga pernah bersikap sama seperti Gatot. Sebagai contoh, McBeth membandingkan hal ini dengan salah satu kasus yang pernah terjadi pada awal 2000-an, yakni Ryamizard Ryacudu selaku Kepala Staf Angkatan Darat yang pada saat itu juga bermasalah.

Ryamizard yang saat ini menjabat sebagai menteri pertahanan sejak 27 Oktober 2014 secara terbuka pernah menolak kesepakatan damai dengan pemberontak separatis Aceh pada 2005. Sama seperti Gatot, Ryamizard juga pernah mencurigai perwira Indonesia yang berlatih di luar negeri.

Diketahui Ryamizard merupakan mantan perwira tinggi militer TNI AD yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 2002 hingga 2005.