Tim Penasehat Hukum Ahok Membongkar Latar Belakang Irena Handono


irena handono

SURATKABAR.ID – Irena Handono belakangan menjadi pusat perhatian setelah menjadi saksi pelapor di persidangan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tim pengacara Ahok kini mengungkit mengenai latar belakang Irena.

Seperti diwartakan oleh republika.co.id, Edi Danggur, salah satu tim penasehat hukum Ahok mengaku telah melakukan investigasi latar belakang para saksi pelapor, salah satunya adalah Irena Handono.

“Contoh Irena. Kami dapat dari berita acara pemeriksaan (BAP) dari Irena, langsung kami search cerita di internet tentang dia. Tapi ya tidak bisa dipercaya begitu saja. Jadinya, di-compare dengan bukti lain, kami ke Bandung, kan dia terangin kuliah di situ,” kata Edi di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (12/1/2017).

Edi menjelaskan bahwa pihaknya menelusuri hingga tempat Irena bersekolah, seperti yang tertuang di BAP.

“Kami cari biarawati, ada dua biarawati. Hasil investigasi kami, hal 1 BAP pendidikan terakhir dia D3, hal 2 lulusan Institusi Filsafat Teologi Bandung. Dari dosen sana bilang Institut Filsafat Teologi Bandung tidak ada. Kampus itu sejak beberapa tahun lalu dihapus dan menyatu dengan Unpar, ” jelas Edi.

Selanjutnya, Edi juga memberikan penjelasan mengenai temuannya tentang ketidaksesuaian tahun kelulusan sekolah Irena dengan sejah berdirinya jurusan tempat ia belajar. Irena menuliskan lulusan Diploma 3 pada 1975, sementara di Indonesia D3 baru dibuat pada 1980. “Saya dapat dari dosen di sana hanya ada BA tiga tahun dan Dra untuk wanita,” ucapnya.

Tim investigasi dari pengacara Ahok juga mengunjungi salah satu teman biarawati Irena yang menyatakan jika mustahil dia mendapatkan gelar D3. Hal itu dikarenakan Irena hanya menjalani masa perkuliahan sekitar lima sampai enam bulan.

“Sekolah itu khusus untuk calon pastor, imam, biarawati. Ia dikeluarkan tidak berhak sekolah lagi di situ (karena tidak lolos tes kesehatan). Tetapi di sidang ketika kami tanyakan tentang masuk sekolah itu pada 1974 dia bilang tidak, dia bilang 1972. Lagi-lagi berbohong, padahal kami dapat bukti dari dua suster, dia bilang senior Irena yang masuk 1973 kan tidak mungkin lebih lama,” kata Edi.

Edi kemudian melanjutkan kisahnya mengenai Irena berdasarkan penyelidikannya. Menurutnya, Irena setelah dikeluarkan dari sekolah biarawati melanjutkan kuliah di Universitas Atmajaya Jakarta. Akan tetapi, kuliah tersebut tidak rampung karena Irena keburu menikah dengan salah satu kakak kelasnya.

Berdasar informasi tersebut, Edi menegaskan jika Irena tidak jujur dengan latar belakang kehidupannya.

“Nah, pas ditanya di BAP, apakah pernah menikah dia bilang ya menikah dengan Muhammad Mansyur Amin meninggal 2010 lalu tanpa anak. Dia tidak menceritakan kenyataan yang sebenarnya. Padahal, dari keterangan suster, Dia sudah men‎ikah dengan kakak kelasnya Maxi, jelas ini dia membohongi tidak mengungkapkan diri secara benar dan jujur,” tegas Edi.