Polisi Sebut Buku “Jokowi Undercover” Ditulis Tanpa Data Akurat


    polisi-sebut-buku-jokowi-undercover-ditulis-tanpa-data-akurat-cover

    SURATKABAR.IDIrjen Polisi Boy Rafli Amar selaku Kepala Divisi Humas Polri mengungkapkan jika pihak kepolisian sudah melakukan penelusuran terkit laporan kepada penyusun buku Jokowi Undercover: Melacak Jejak Sang Pemalsu Jatidiri.

    Pihak kepolisian menyebutkan jika isi buku tersebut tidak bisa dijadikan landasan dan tidak bertanggung jawab karena tidak melalui data-data yang valid.

    “Ini tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh penulis, hanya berdasarkan hasil pemikiran sendiri, tidak didukung data primer dan sekunder,” ujar Boy di Komplek Mabes Polri, Jakarta pada Selasa (3/1/2016), dilansir dari Kompas.com.

    Polri juga menyebutkan jika pihaknya telah melakukan penyelidikan mulai awal Desember 2016. Awalnya, tim patroli dunia maya menemukan konten buku yang ditulis oleh Bambang Tri dan kemudian melakukan penelusuran. Dari penelsuran tersebut, pihak kepolisian menemukan jika buku tersebut berisi hal-hal bersifat tendensius dan tidak jelas sumbernya.

    Ditambah lagi, pihak kepolisian mendapatkan laporan dari masyarakat mengenai isi buku tersebut. Pihak penyelidik melakukan penelusuran lebih lanjut lagi dan meminta keterangan sejumlah ahli untuk menganalisinya. Ahli tersebut antara lain, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli sosiologi, ahli pidana.

    Polisi juga mengungkapkan jika pihaknya sudah melakukan penahanan terhadap Bambang Tri di kediamannya.

    “Kesimpulan sementara dari analisis konten dan keterangan ahli, buku ini tidak didukung data yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga pelanggaran hukum makin menguat,” papar Boy.

    Boy juga meyakini jika apa yang dituliskan oleh Bambang tersebut hanya berasal dari berbagai informasi di social media dan tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dalam bukunya tersebut, Bambang menyebtkan jika Jokowi telah memalsukan data diri saat mencalonkan diri sebagai Presiden pada tahun 2014 yang lalu.

    Tidak itu saja, di dalam bukunnya Bambang juga menyebut jika Desa Giriroto, Boyolali merupkan basis Partai Komunis Indonesia (PKI) paling kuat yang ada di Indonesia. Padahal, sudah sejak tahun 1966 PKI telah dibubarkan.