Heboh, Deretan Kasus Kejahatan Yang Menggemparkan Indonesia Di 2016


    000borgol

    SURATKABAR.ID – Kriminalitas atau tindak kriminal merupakan segala macam bentuk tindakan yang melanggar hukum undang-undang serta norma sosial dan agama, perbuatan yang merugikan dari segi apapun (misal secara ekonomis dan psikologis), atau sebuah tindak kejahatan, sehingga masyarakat menentang dan memberikan “reaksi sosial”.

    Reaksi sosial tersebut dapat berupa reaksi formal, informal dan non-formal, atau singkatnya, sanksi, hukuman dan celaan. Pelaku kriminalitas disebut seorang kriminal. Biasanya yang dianggap kriminal adalah para pencuri, pembunuh, perampok, pemerkosa atau teroris.

    Di sepanjang tahun 2016, angka kasus kriminalitas yang terjadi di Indonesia cukup banyak dan mengkhawatirkan. Beberapa kasus p*********n dan pembunuhan brutal di awal tahun, penyalahgunaan sabu-sabu dan pesta s**s oleh Gatot Brajamusti, hingga penipuan dan ajaran menyimpang oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Inilah rangkumannya seperti dikutip dari reportase berbagai media mainstream Indonesia.

    #NyalaUntukYuyun, Korban P*********n Di Bawah Umur Yang Tewas Tragis Mengenaskan

    Yuyun, siswi SMP Padang Ulang Talik asal Bengkulu berumur 14 tahun ditemukan tewas mengenaskan setelah diperkosa oleh 14 remaja, awal April 2016 lalu. Tak kunjung tiba di rumah seusai pulang sekolah, 3 hari berlalu. Tak dinyana, Yuyun malah ditemukan sudah tidak bernyawa dengan sekujur tubuh penuh luka serta tulang pinggang yang patah.

    Kasus ini bahkan sempat disorot media asing. “Yuyun merupakan satu dari 44 wanita dan gadis yang dibunuh pada 4 bulan pertama 2016, tapi kasusnya adalah salah satu yang paling brutal,” tutur salah satu media asal Inggris, BBC.

    BBC sempat mengutip pernyataan aktivis perempuan dari Kolektif Betina, Kartika Jahja; yang mencetuskan gerakan kepedulian di media sosial dengan hashtag #NyalaUntukYuyun.

    BBC juga mengangkat pernyataan Sophia Hage, aktivis LSM Lentera, sehubungan stigma di Indonesia, bahwa p*********n terjadi karena kesalahan perempuan.

    “Orang-orang menyalahkan korban dan keluarga serta teman-teman korban, ketimbang berfokus pada hukuman pada para pelaku p*********n,” cetus Sophia Hage.

    “Saya harap gerakan ini tak berhenti hanya di media sosial. Kita harus melawan kekerasan seksual di dunia nyata dan melakukan segalanya yang kita bisa, menggunakan apa yang kita miliki. Kekerasan seksual adalah isu darurat di Indonesia, tapi kebanyakan orang tidak peduli,” sebut Kartika.

    Sedangkan media asal Australia, Sydney Morning Herald mengangkat desakan akvitis dari Politik Rakyat, Vivi Widyawati, soal pengesahan rancangan undang-undang tentang kekerasan seksual.

    “Semakin lama RUU itu disahkan menjadi UU, semakin banyak korban-korban yang akan berjatuhan,” tegas Vivi.

    Sebagai tanggapan, Presiden Joko Widodo melalui Twitter juga mengungkap duka atas meninggalnya Yuyun, “Kita semua berduka atas kepergian YY yang tragis. Tangkap & hukum pelaku seberat-beratnya. Perempuan & anak2 harus dilindungi dari kekerasan.”

    Beberapa minggu setelah kasus ini bergulir, Presiden Jokowi menerbitkan Perppu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 2 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Di dalam Perppu itu, memuat beragam hukuman, termasuk kebiri kimia sebagai efek jera.

    Satu diantara pembunuh dan pemerkosa Yuyun dihukum mati. Lainnya divonis 20 tahun penjara dan denda sebesar masing-masing Rp 2 milyar. Seorang, dikarenakan masih berusia 13 tahun, dijatuhi hukuman rehabilitasi dan pelatihan kerja di Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPKS) Marsudi Putra Jakarta Timur selama satu tahun (bbc.com/indonesia).

    Eno Farihah, Korban Kebiadaban P*********n Dan Pembunuhan Yang Tak Berprikemanusiaan

    13 Mei 2016, ibu pertiwi kembali menangisi kemalangan tragis yang menimpa Eno Farihah. Buruh plastik yang baru berusia 18 tahun itu ditemukan tewas mengenaskan di mess pabrik tempatnya bekerja, di bilangan Jatimulya, Dadap, Kosambi, Kabupaten Tanggerang. Ketiga temannya menangis histeris ketika Eno ditemukan berlumuran darah, dengan kondisi gagang cangkul menancap di alat vitalnya hingga hampir sebatang penuh.

    Foto hasil scan tubuh Eno menunjukkan gagal pacul tersebut merusak organ tubuh bagian dalam, tembus ke paru-paru dan dada. Kombes Krishna Murti pun mengakui bahwa kasus pembunuhan Enno merupakan kasus paling sadis selama ia bertugas.

    Dari hasil pemeriksaan luar dinyatakan bahwa korban mengalami luka terbuka di bagian pipi kanan, luka lecet pada pipi kiri dan kanan, memar pada bagian bibir atas dan bawah, luka lecet pada bagian leher, luka terbuka dan pendarahan pada organ intim yang diakibatkan kekerasan dengan benda tumpul (cangkul), luka lecet pada bagian dada kiri dan kanan serta kedua puting susu yang dikelilingi memar melingkar akibat bekas gigitan, luka diakibatkan 90% gagang cangkul masuk ke dalam kelaminnya, serta leher patah akibat dihantam dengan cangkul.

    Meski sempat simpang siur karena para tersangka menuturkan berbagai alibi yang tak masuk akal, ditemukan persamaan dari ketiga pelaku yang menjadi kunci terungkapnya fakta kronologis kasus Eno: sakit hati karena ditolak. Salah satu pelaku berinisial RA (usia 15 tahun), yang juga merupakan pacar Eno, sakit hati karena ajakannya b********h ditolak korban. Dua pelaku lainnya merasa sakit hati karena cinta mereka yang ditolak.

    Setelah penyelidikan intensif dilakukan kepolisian, terbukti kematian Eno merupakan sebuah pembunuhan berencana. Karena logikanya, tidak mungkin sebuah cangkul tergeletak begitu saja di tempat mess karyawati buruh pabrik.

    Salah satu pelaku yang masih dibawah umur (RA, 15 tahun) tidak dapat dijatuhi hukuman mati, karena UU Perlindungan Anak-anak yang berlaku. Sebagai gantinya ia dijatuhi hukuman setengahnya, yakni seumur hidup. Hukuman seumur hidup adalah 20 tahun. Hukuman dapat berkurang menjadi setengahnya, yakni 10 tahun. Hal ini tak ayal membuat warga geram dan pihak keluarga korban mendesak naik banding (news.detik.com, kompasiana.com).

    Gatot Brajamusti, Penyalahgunaan Narkoba Dan Pencabulan

    Kasus penyalahgunaan sabu-sabu, pesta s**s serta p*********n yang diprakarsai oleh Gatot Brajamusti juga wara-wiri mewarnai televisi dan media massa Indonesia. Terhitung sebagai kasus yang berlarut-larut, setelah pengusutan demi pengusutan dilakukan, akhirnya Gatoto Brajamusti mengakui ritual s**s yang kerap dilakukannya selama 9 tahun di padepokan Brajamusti.

    Lebih disayangkan lagi, Dewi Aminah sang istri juga mengetahui perbuatan suaminya yang tak terpuji itu. Reza Artamevia, penyanyi pop Indonesia yang dulu pernah menjadi murid Gatot di padepokan, serta Elma Theana; pemain sinetron yang juga pernah menjadi asisten pribadi Gatit, turut memberikan kesaksian guna mengungkap kebenaran sesungguhnya dari kasus ini.

    Kombes Pol Awi Setiyono mengungkap kepada bintang.com, hubungan badan itu tidak hanya dilakukan satu per satu dengan murid perempuannya, melainkan juga secara ‘menage a trois’.

    Kasus dugaan pencabulan Gatot Brajamusti tersingkap sewaktu ada seorang korban melaporkan Gatot Brajamusti atas tuduhan p*********n. Bahkan sejumlah perempuan mantan murid Gatot Brajamusti juga meminta perlindungan hukum untuk melaporkan Gatot Brajamusti sebagai korban s**s Gatot.

    “Aa Gatot (panggilan Gatot) memperdayai korbannya dengan sabu-sabu, kemudian melakukan pesta s**s,” ucap Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono di markasnya (Selasa, 27/09/2016, dalam tempo.co). Awi mengatakan pesta s**s diduga telah dilakukan Aa Gatot selama berlangsung sembilan tahun sejak 2007 hingga 2016.

    Selain tuduhan mencabuli sejumlah perempuan, Gatot juga dijerat sebagai pemakai sabu-sabu, memiliki senjata api ilegal dan memelihara satwa langka dilindungi, yakni elang brontok yang masih hidup dan harimau Sumatera yang sudah diawetkan (tribunnews.com). Pada penggeledahan yang dilakukan di rumah Gatot kawasan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, polisi menemukan sejumlah narkoba serta senjata api dengan amunisi aktif.

    Kuasa hukum Aa Gatot menegaskan bahwa apa yang dilakukan Gatot terhadap CT (salah satu pelapor/ korban), tidak dapat digolongkan sebagai aksi pelecehan seksual. Sebab, peristiwa itu berlangsung saat keduanya sudah menikah secara siri. Sang pengacara juga merasa janggal, karena Gatot Brajamusti sudah dijadikan tersangka sedangkan hasil visum pun belum ada.

    Penyelidikan berkembang setelah diketahui CT ingin meminta pengakuan atas anak yang lahir dari hasil hubungannya dengan Gatot. Pihak Gatot Brajamusti berharap semestinya CT bukan melaporkan, tapi menunjukkan hasil visum karena tes DNA telah menunjukkan tidak adanya pelecehan seksual.

    “Artinya kalau kemudian ingin dapat pengakuan anak, bukan dengan cara melaporkannya. Lalu dengan ada dugaan p*********n, tes DNA tidak menunjukkan pelecehan seksual. Yang bisa mengindikasikan itu tes visum, selama ini tidak ada tes visum,” ujar Achmad Rifai, kuasa hukum Gatot Brajamusti, terakhir ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jaksel, kepada tribunnews.com (Sabtu, 10/12/2016).

    Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Kasus Pembunuhan Berencana Dan Penipuan Penggandaan Uang

    Dimas Kanjeng Taat Pribadi adalah paranormal berusia 46 tahun asal Probolinggo, Jawa Timur. 22 Septermber 2016, Dimas Kanjeng dibekuk pihak yang berwajib di padepokannya yang megah dan mentereng karena dituduh membunuh dua pengikutnya, selain disangka melakukan penipuan dan penggelapan berkedok penggandaan uang.

    Penahanan yang melibatkan lebih dari seribu personil aparat tersebut dilakukan mengingat sebelumnya, puluhan orang telah melapor ke polisi dengan membawa sejumlah barang bukti. Barbuk terdiri dari emas batangan, uang palsu serta benda aneh alat pengganda uang.

    Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal I Made Sukadana mengklaim bahwa sejumlah anggota TNI dan Polri menjadi ‘murid’ Padepokan Dimas Kanjeng. Namun sebenarnya, mereka hanya dijadikan tameng padepokan itu. “Saat hendak menggerebek padepokan, Polda Jatim sudah berkoordinasi dengan kami karena ada beberapa oknum TNI di sana,” ungkapnya pada tempo.co (30/092016).

    Sukadana menyatakan, rincian data anggota TNI yang menjadi tameng ada di Polda Jatim. Dia menanggapi pertanyaan pers tentang temuan Polda jatim bahwa pembunuhan dilakukan Tim Pelindung Dimas Kanjeng atas perintah Dimas Kanjeng.  Pelaku pembunuhan ada sembilan orang, yang sebagian merupakan anggota TNI yang desersi.

    Ada fakta menarik lainnya dari kasus ini. Tersangka Dimas Kanjeng sengaja merekrut beberapa kakek berjenggot putih panjang guna dijadikan mahaguru abal-abal di padepokan miliknya. Dimas Kanjeng sengaja meminta bantuan Vijay, seorang keturunan India untuk “berburu” para kakek berjenggot putih. Vijay mencari dan menemukan salah satunya di ibu kota.

    Para mahaguru direkrut dan diberikan perannya masing-masing. Sebelumnya, mereka diberikan nama khusus saat istigasah. Kemudian, mereka ditugaskan untuk memimpin para murid melantunkan doa-doa tertentu di padepokan.

    Ratim alias Abah Abdul Rohman adalah salah satunya. Kakek berjenggot putih ini berusia 65 tahun. Ia tinggal di Jl. Asia Baru, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

    “Kerja saya iya penjual warung kopi di Jakarta. Saya diajak oleh Pak Vijay, agar memimpin doa itu saja. Doa itu saya baca setiap kegiatan istigasah. Iya seperti minta doa keselamatan dari dunia akhirat dan minta rejeki,” cetus pria penjual warung kopi tersebut kepada polisi (merdeka.com, 07/11/2016).

    Adapun acara istigasah lebih banyak digelar di Makassar dan Probolinggo, tergantung situasi kondisi. Di Makassar, Ratim kerap diperkenalkan sebagai keturunan Wali Songo; Sunan Kalijaga. Sedangkan untuk wilayah Probolinggo, Dimas Kanjeng memperkenalkan Ratim sebagai keturunan Sunan Ampel.

    Disebutkan bahwa para mahaguru abal-abal ini dibekali uang sejuta sampai 1,5 juta Rupiah seusai memimpin doa untuk para murid padepokan Dimas Kanjeng.

    Hal serupa juga diungkapkan Murjang alias Abah Nogososro, tinggal di Kepa Duri, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dan Abdul Karim alias Abah Sulaiman, yang hidupnya lebih banyak dihabiskan di pinggiran jalan sekitar Jalan Poncol Kepa Duri, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sebagai pemulung.

    “Terus terang saja. Saya tidak tahu apa-apa. Sekolah saja tidak. Saya tahunya itu duit dan duit, dapat duit. Setelah dapat duit pulang, dan kadang diberi Rp 1 juta, juga Rp 1,5 juta,” ungkap Murjang alias Abah Morgososro kepada tim kepolisian.

    Dimas Kanjeng Taat Pribadi beserta 5 tersangka lainnya kemudian dijerat hukuman mati atas pembunuhan berencana yang telah dilakukannya, yakni pasal 338 dan 340 KUHP mengenai dalang pengatur dan penyuruh Pembunuhan Berencana. Sementara itu empat tersangka lainnya masih menjadi buronan polisi (tempo.co).

    Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Wakil Gubernur Jawa Timur yang juga merupakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menghimbau, “Jangan karena omongan teman dan diiming-imingi sesuatu yang tak masuk akal, kemudian ikut-ikutan bergabung serta menaati semua yang diajarkan meski sesungguhnya di luar nalar dan ilmu. Cari guru yang paham agama.”

    Sianida, Jessica Wongso

    Akhirnya Jessica Wongso dituntut hukuman 20 tahun penjara menyoal kematian Wayan Mina Salihin dengan racun sianida, demikian seperti diulas oleh bbc.com/indonesia.

    Dalam sidang yang dilaksanakan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (05/10/2016), jaksa menjelaskan bahwa berdasarkan barang bukti berupa keterangan saksi, ahli, dan terdakwa, diperoleh fakta-fakta hukum yang tidak bisa disangkal.

    Semuanya memenuhi tiga unsur dalam pembunuhan berencana, yakni disengaja, direncanakan, dan menghilangkan nyawa orang lain.

    Jaksa mendakwa Jessica dengan pasal 340 KUHP yang berbunyi, “Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun.”

    Persidangan terhadap Jessica selama ini dinilai diwarnai banyak kontroversi, selain melibatkan begitu banyak ahli otopsi dan pakar psikologi.