Meski Dalam Berpolitik Mengaku Sering Dikhianati, Prabowo Tak Mau “Baper”


006737900_1480589360-20161201_setya-novanto-temui-prabowo-hel1-1

SURATKABAR.ID Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subiakto mengatakan bahwa pengkhianatan merupakan konsekuensi yang harus dialami dalam kehidupan, terutama dalam dunia politik.

Dilansir dari Kompas TV, Prabowo bahkan mengaku sering dikhianati oleh orang – orang disekitarnya .

“Tidak mungkin menghindari pengkhianatan. Itu salah satu sifat manusia. Tapi saya tidak mungkin berkhianat,” ujar Prabowo, saat diwawancara Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosiana Silalahi.

“Saya sering dikhianati, saya sering dicurangi, saya sering diledek, ‘Ah, Prabowo gampang dibohongi’. Yang penting saya tidak berkhianat, saya tidak curang,” kata dia

Prabowo mengatakan, selama ini dia memiliki prinsip kepemimpinan dengan memberikan contoh kepada anak buah atau bawahan.

Menurut dia, jika pemimpin tidak melakukan perbuatan negatif seperti mencuri atau berkhianat, tentu bawahannya akan melakukan hal yang sama.

“Saya jalankan hidup pakai nilai-nilai pendekar, membela kebenaran. Bagaimana bisa kalau kita curang, kalau kita berkhianat?” ucapnya.

Menurut Prabowo, menjadi korban pengkhianatan malah akan menjadikan seseorang lebih waspada.

Karena itu Prabowo mengaku tidak perlu “baper” atau bawa perasaan ketika menjadi korban pengkhianatan.

“Kalau mau sungguh-sungguh mengabdi, kita harus korban,” kata mantan Panglima Kostrad dan Danjen Kopassus ini.

“Pengabdian itu kan pengorbanan. Korban waktu, tenaga, harta, nyawa, apalagi perasaan. Perasaan pribadi harus siap, siap disakiti, siap difitnah, siap dihina,” ujarnya.

Sementara, terkait kasus makar yang kini mendera elit politi, Prabowo menyarankan aparat penegak hukum sebagai kepanjangan tangan pemerintah–untuk berhati-hati dalam penangkapan kasus dugaan makar.

Prabowo menekankan agar hukum dapat diterapkan secara adil kepada semua kalangan, baik kepada kalangan elite maupun rakyat bawah.

“Selalu saya anjurkan bahwa kita bertindak selalu dengan hati-hati dan dengan seadil-adilnya,” kata Prabowo di Kantor DPP Partai Gerindra, Ragunan, Jakarta Selatan, seperti dilansir dari Liputan6

“Jadi saya lihat, bangsa Indonesia ini sering elite-elite tidak punya empati kepada rakyat bawah,” tegas dia.

Menurut Prabowo, jika rasa empati sudah pudar, bangsa Indonesia mudah menjalankan sesuai rekayasa.

“Dengan tidak punya empati, kita juga punya sifat sering rekayasa, sering nipu, sering bohong,” ujar dia.

ika sudah demikian, kata Prabowo, kepercayaan dan dukungan dari rakyat akan hilang kepada pemerintah dan elite politik.

“Kalau sudah ada ketidakpercayaan pada sistem, lembaga negara, ini repot. Kita tidak bisa bernegara berbangsa dengan baik,” kata dia.

Menurut mantan Danjen Kopassus itu, untuk melaksanakan kehidupan bernegara dibutuhkan kepercayaan antara pemimpin dan rakyatnya.