I Putu Sudiartana Batal Ajukan Nota Keberatan


putu

I Putu Sudiartana sang politisi Partai Demokrat yang didakwa sebagai tersangka dalam kasus penyuapan dan juga gratifikasi senilai Rp 2,7 milliar yang diberikan secara bertahap dari beberapa pihak, batal mengajukan nota keberatan dengan dakwaan Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Karena eksepsi menyangkut pokok perkara, ya kami langsung saja ke pokok perkara,” ujar pengacara Putu, Muhammad Burhanuddin di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (21/11/2016), dilansir oleh kompas.com.

Di sidang selanjutnya, akan dilanjutkan pemeriksaan saksi-saksi yang diduga mengetahui perkara.

Burhanuddin selaku pengacara hukum Putu menyampaikan bahwa kliennya bersedia untuk memberikan klarifikasi mengenai dakwaan KPK, namun klarifikasi tersebut tidak ingin disampaikan di dalam nota keberatan.

“Demi mempersingkat waktu dan mempercepat proses peradilan bagi Pak Putu,” kata dia.

I Putu Sudiartana didakwa dalam surat dakwaan kumulatif atas tindakan pidana menerima suap sebesar Rp 500 juta dan menerima gratifikasi sebesar Rp 2,7 milliar.

Sebelumnya, Anggota Komisi III DPR ini bersikukuh menyebutkan bahwa uang yang ia dapatkan merupakan sumbangan untuk Partai Demokrat.

Putu menjelaskan bahwa uang tersebut diserahkan kepada Yogan Askan, agar Yogan dapat diangkat sebagai DPD Partai Demokat di Provinsi Sumatera Barat.

“Mungkin dalam bahasa tubuhnya, Pak Yogan mau mengucapkan terima kasih, tapi kami (Demokrat) tidak pernah minta apapun, saya dikasi ponsel saja tidak mau,” ujar Putu di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Pernyataan tersebut Putu berikan pada saat di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (12/10/2016). Putu memberikan keterangan sebagai saksi atas terdakwa Yogan Askan.

Namun, dalam dakwaannya kali ini sudah terbukti bahwa uang Rp 500 juta yang diterima oleh Putu berasal dari pengusaha terkait pengusahaan dana alokasi khusus (DAK) kegiatan sarana dan prasarana penunjang Provinsi Sumatera Barat, pada APBN-P 2016.