Bupati Dedi Usung Konsep Sunda untuk Jaga Purwakarta


dedi-mulyadi

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi selalu memiliki cara unik untuk mengembangkan daerah yang dipimpinnya. Tak hanya dalam bidang pendidikan dan kesenian, Bupati Dedi juga menunjukkan kepeduliannya akan kelestarian lingkungan.

Kali ini, konsep Sunda yang dipilih untuk Bupati Dedi. Ia menjelaskan, ada tiga prinsip dasar tata kelola air dalam budaya Sunda, yakni leuwung kudu diawian, lengkob kudu di balongan, dan lebak kudu di sawahan. Setiap prinsip ini harus dilaksanakan dan saling mendukung satu sama lain.

Leuweung kudu diawian memiliki arti hutan harus ditanami bambu atau pepohonan. Prinsip kedua, lengkob kudu di balongan artinya lembah harus dipasangi kolam atau dana. Sementara itu, prinsip terakhir lebak kudu di sawahan memiliki arti daerah landai harus ditanami padi.

Ketiga prinsip menjaga kelestarian lingkungan berdasar konsep Sunda ini, sangat dimungkinkan untuk mencegah banjir karena adanya penyerapan air hujan yang baik mulai dari hutan hingga danau. Dengan begitu, pengairan untuk sawah pun dapat terpenuhi dengan baik.

Dedi juga menegaskan bahwa tanpa ketiga prinsip ini, banjir merupakan salah satu hal yang tak bisa dihindari. Karena selama ini yang dilakukan untuk mengatasi banjir bukanlah penyelesaian, melainkan hanya memindahkannya tanpa ada pemanfaatan yang baik.

Selain ketiga prinsip tersebut, Dedi juga melakukan pengawasan ketat dalam penebangan pohon. Dedi hanya mengijinkan pohon dengan usia dan kemiringan tertentu untuk ditebang. Misalnya pohon dengan kemiringan 60 derajat sebaiknya tidak ditebang, umurnya pun minimal 5 hingga 10 tahun.

Dedi mengaku, sebelum membuat keputusan besar untuk Purwakarta ini, ia sempat tidur di pinggir hutan Gunung Burangrang sebulan sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh tetua kampung pada zaman dahulu.

Cara Dedi mungkin terlihat unik dan tak lazim, tapi jika idenya dijalankan dengan baik, bukan hal yang tak mungkin kelestarian lingkungan Purwakarta dapat terjaga dengan baik.