Dua Anak Korban Ledakan Di Gereja Samarinda Alami Luka Bakar Serius


 

korban-ledakan

Korban dari ledakan bom jenis low eksplosif di halaman Gereja Oikumene, Jalan Cipto Mangunkusomo, Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/11/2016), adalah lima orang anak-anak. Salah satu diantaranya sudah boleh pulang sedangkan keempat lainnya masih dirawat intensif di RSUD IA Moeis.

“Semua korban ledakan ada lima orang, satu orang sudah boleh pulang tadi,” kata Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Safaruddin usai menyambangi korban ledakan, di RSUD IA Moeis.

Safaruddin meminta warga Samarinda tetap aman dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Safruddin juga memastikan bahwa Kamtibnas di Samarinda berjalan kondusif dan terkendali.

“Semua saya minta tenang. Polri dan TNI akan meningkatkan keamanan di tempat-tempat yang kita anggap rawan,” ujar Safaruddin.

“Sekarang kita kembangkan, apakah ada jaringan lain di Samarinda. Seperti apa pengembangannya, tentu belum bisa saya sampaikan. Kita lakukan penyelidikan secara komprehensif,” ujar Safaruddin.

Walikota Samarinda Syaharie Jaang memastikan Pemkot menanggung seluruh biaya pengobatan bagi kelima korban tersebut.

“Semua dijamin pemerintah kota. Saya sudah beritahukan kepada orangtua korban, manajemen rumah sakit, berikan penyembuhan yang terbaik. Jangan pikirkan biayanya,” kata Jaang.

Saat ini dua dari lima dirujuk ke RSUD AW Syachranie Samarinda. Keduanya, mengalami luka bakar cukup serius di tangan dan wajah, terkena ledakan.

Dilansir dari merdeka.com, kedua pasien balita korban ledakan itu adalah Triniti Hutayan (3) dan Intan Marbun (2,5). Keduanya menderita kesakitan di bagian lengan, badan dan wajah, hal ini membuat petugas medis RSIA Moeis segera bergegas untuk menanganinya dengan cara secepat mungkin membawa korban ke RSUD AW Syachranie, milik Pemprov Kalimantan Timur.

“Parah, kondisinya terluka bakar. Ini kita rujuk supaya dapat perawatan lebih intensif,” kata petugas medis RSUD IA Moeis kepada merdeka.com, Minggu (13/11).

Data diperoleh identitas korban, yakni:

1.Intan Marbon, anak perempuan berusia 2,5 tahun tinggal di Kelurahan Harapan Baru, Samarinda.
2. Triniti Hutahayan (3) tinggal di Harapan Baru.
3. Alfaro Sinaga, anak laki-laki berusia 5 tahun, tinggal di asrama polisi kilometer 4 Samarinda-Balikpapan.
4. Anita anak perempuan 4 tahun tinggal di Harapan Baru.

“Ya, salah satu korban adalah anak polisi (Alfaro Sinaga),” kata salah seorang petugas RSUD IA Moeis.

 


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaGempa 7,4 SR Di Selandia Baru Picu Tsunami
Berita berikutnyaBersiaplah, Supermoon Teristimewa sejak Indonesia Merdeka Akan Menyapa