5 Tradisi Seksual yang Aneh dari Bebagai Suku di Penjuru Dunia


122158-tradisi-seksual-aneh

Berhubungan seksual tentu saja merupakan salah satu kebutuhan manusia. Hampir setiap manusia memiliki hasrat untuk beriteraksi dengan lawan jenis untuk memnuhi kebutuhan biologisnya termasuk juga bertujuan untuk memperoleh keturunan.

Meski demikian, ternyata ada banyak tradisi-tradisi yang berhubungan dengan hubungan seksual yang anh yang ada di seluruh penjuru dunia. Mereka melakukan ritual-ritual atau kebiasaan yang dianggap tak wajar, terutama pada kehidupan modern saat ini.

Berikut beberapa tradisi unik dan aneh yang berkaitan dengan aktivitas seksual yang ada di berbagai negara yang dirilis oleh brilio.net.

1. Saut d’Eau, tradisi voodoo dalam seksual

Ketika kita berpergian ke Haiti dan mengunjungi air terjun Saut d’Eau selama bulan Juli, maka kita akan disuguhi sebuah aktivitas yang cukup cabul. Pada saat itu, para pelaku voodoo melakukan ritual perjalanan setiap musim panas untuk menyembah dewi cinta. Hal yang cukup unik adalah sekelompok orang tanpa pakaian berputar dan menggeliat-geliat di dalam lumpur bercampur dengan darah hewan kurban, dengan kepala sapi dan kambing dilemparkan ke dalam campuran.

2. Pemotongan organ intim pria Suku Mardudjara

Suku Mardudjara adalah suku yang berasal dari Australia. Salah satu tradisi yang cukup mengerikan dan biking ngilu adalah melakukan sunat barbar yang diikuti oleh kaum laki-laki yang dilanjutkan dengan menelan potongan kulit sunatnya sendiri.

Setelah sembuh, organ intim tersebut kemudian dipotong memanjang di bagian bawah, kadang-kadang sampai ke skrotum. Darah kemudian diteteskan di atas api yang dipercaya untuk pemurnian. Sejak saat itu, laki-laki akan buang air kecil dari bawah penisnya bukan dari uretra sebagaimana laki-laki pada umumnya.

aborigin

3. Berhubungan intim pada usia belia pada Suku Trobrianders.

Suku Trobrianders adalah salah satu penduduk asli di Papua Nugini. Pada suku ini, anak-anak perempuan sudah terbiasa berhubungan seksual pada usia yang cukup belia, yakni pada umur 6-8 tahun. Pria juga demikian, anak-anak laki-laki pada usia 10-12 tahun di suku ini sudah melakuakn hubungan intim. Hal tersebut berjalan sangan normal tanpa ada stigma negatif dari masyarakat sekitar.

Para wanita pada suku ini berpakaian sangat terbuka, bahkan hampir tampa penutup badan. Mereka bebas berhubungan intim kapan saja selama mereka mau.

Walau demikian, sebelum seseorang menikah, warga suku Trobrianders memiliki banyak pantangan makanan. Namun setelah menikah, mereka boleh keluar kapan saja dan makan apapun saja.

der_143730_2

4. Berbagi istri di Nepal

Praktik poliandri atau bersuami lebih dari satu adalah hal yang cukup sering dijumpai di masyarakat masyarakat polyandrous di Himalaya. Kemiskinan dan sempitnya lahan pertanian memicu praktik tersebut.

Keluarga yang memiliki lebih sari satu anak laki-laki namun hanya memiliki sedikit lahan untuk bercocok tanam, maka mereka kebanyakan memutuskan untuk menikahkan anak-anak lelaki mereka dengan satu wanita. Sehingga, mereka tidak perlu lagi membagi lahan pertanian yang ada.

Seperti yang diceritakan dalam film dokumenter National Geographic: Multiple Husbands, praktek ini bekerja dengan baik ketika istri mahir melakukan “penjadwalan” dengan masing-masing saudara laki-laki tersebut.

poliandri-nepal

5. Meminum air mani di Suku Sambians.

Untuk menjadi pria sejati dalam suku primitis di Papua Nugini ini, anak-anak lelaki sudah dipisahkan dengan ibu mereka dan juga dari kalangan wanita saat berusia tujuh tahun. Selama 10 tahun ke depan para bocah lelaki tersebut akan hidup bersama para pria dewasa. Selama masa itu mereka akan dididik agar menjadi lelaki jantan, mereka juga diharuskan meminum air mani para tetua yang dipercaya mempertahankan kekuatan dan pertumbuhan mereka hingga pada nanti akhirnya mereka dikembalikan ke suku untuk mencari istri.

minum-air-mani