Disebut-Sebut Pantas Sebagai Presiden, Panglima TNI: Lebih Baik Saja jadi Tumbal


    jenderal-tni-gatot-nurmantyo-kompas_20150702_094741

    Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo belakangan menjadi buah bibir masyarakat. Bahkan dikait-kaitkan dengan kepantasan dirinya untuk menjadi Presiden Republik Indonesia. Hal tersebut bermula ketika pembawa acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Karni Ilyas yang menyebut Gatot cocok menjadi presiden.

    Menanggapi hal tersebut Gatot menegaskan jika dirinya tidak memiliki nafsu untuk menjadi Presiden. Ia menyatakan jika dirinya sebagai TNI mengakui Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah panglima tertinggi, sehingga ia mengaku siap menjalankan apapun perintah Presiden.

    “Dalam situasi seperti ini sampai kemarin, Presiden Jokowi ada Pak Tito (Kapolri) diwakili Kapolda Metro Jaya, Presiden Jokowi perintahkan, sekali lagi, beliau sampaikan, sebagai panglima tertinggi, saya perintahkan kepada TNI jaga Bhinneka Tunggal Ika,” kata Gatot pada acara ILC, Selasa (8/11/2016).

    Baginya, TNI merupakan garda paling depan yang siap untuk diperintahkan oleh Presiden untuk menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia juga menegaskan jika TNI akan menghadapi kekuatan-kekuatan yang ingin mengganggu kesatuan dan persatuan bangsa.

    “Maka beliau (Presiden Jokowi) adalah atasan saya. Saya sebagai umat muslim pernah bersumpah pada 15 Maret 1982, antara lain. Demi Allah saya bersumpah, diatas Alquran nih Pak Karni. Setia kepada Pancasila dan UUD 1945, itu poin pertama,” kata Gatot.

    Gatot kemudian menyatakan poin ke tiga pada janji prajurit TNI yang harus taat kepada perintah atasan.

    “Ketiga demi Allah saya bersumpah taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan. Apabila saya berkeinginan jadi presiden maka saya melanggar sumpah saya. Umur saya sudah 56 Pak Karni, kata ustaz bilang, kehidupan dunia hanya sekejap saja. Kehidupan abadi ada disana,” kata Gatot.

    Ia lantas menyatakan jika dirinya lebih memilih untuk mengorbankan dirinya untuk kesatuan bangsa dibanding harus jadi Presiden.

    “Saya lebih baik jadi tumbal untuk melaksanakan menjaga Bhinneka Tunggal Ika, daripada saya jadi presiden,” tambahnya.