Dianggap Menjadi Pihak yang Bertanggung Jawab Akan Beredarnya Alquran Palsu, Ini Jawaban Kemenag


al-quran

Masih saja berlanjut mengenai polemik akan surah Al Maidah 51 yang pernah diucapkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau kerap dipanggil Ahok. Kali ini, bukan lagi menyoal mengenai ucapan Ahok, akan tetapi ada satu kasus pembelokan terjemahan Alquran untuk surat Al Maidah 51.

Dalam suatu razia yang dilakukan oleh para petugas kepolisian dari Polsek Tangerang di toko-toko buku di 3 pusat perbelanjaan di daerah Tangerang, yaitu Tangerang City Mall, Mall Bale Kota dan Metropolis Town Square pada hari Minggu (23/10/2016) kemarin, didapati ada 16 penerbit yang mencetak Alquran dengan membelokkan terjemahan surah Al Maidah 51.

Dalam terjemahan versi para penerbit tersebut tertulis bahwa kata “pemimpin” menjadi “teman setia.” Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya razia tersebut karena banyak warga khususnya umat muslim yang merasa terganggu dengan pembelokan terjemahan itu.

“Benar kemarin sore kita melakukan kegiatan sebelum Ashar di tiga pusat perbelanjaan, Tangcity, Bale Kota dan Metos,” kata Wakapolsek Tangerang AKP Isa Ansori, seperti yang dikutip dari merdeka.com (24/10/2016).

Dalam hal ini, ada selentingan yang menyebutkan bahwa Kemenag yang bertanggung jawab akan pengubahan arti terjemahan dalam kalimah di Alquran tersebut. Akan tetapi, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kemenag, Muchlis M Hanafi menjelaskan bahwa memang ada banyak tafsir yang menegaskan kata “awliya.”

Dalam penjelasannya, Muchlis mengatakan bahwa terjemahan tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 yang mana Terjemahan Alquran Kementerian Agama itu telah mendapat tanda tashih dari LPMQ. Sayangnya, tidak banyak orang mengetahuinya dan akhirnya memunculkan polemik dan dianggap oleh banyak pihak sebagai Alquran palsu.

“Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Alquran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar,” jelas Muchlis.

Dalam penjelasannya, Muchlis mengatakan bahwa Terjemahan Alquran Kemenag mengalami 2 kali proses perbaikan dan penyempurnaan yang meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi.

Terbitan pertama adalah pada tahun 1965, kemudian dilakukan perbaikan dan penyempurnaan pada tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Bahkan dalam proses perbaikan dan penyempurnaannya itu tidak serta merta karena pendapat pribadi melainkan mengikutsertakan pendapat dan saran para ulama dan ahli di bidangnya, sementara Kementerian Agama hanya bertindak sebagai fasilitator saja.

Tim perbaikan danpenyempurnaan sendiri mengikutsertakan tokoh-tokoh terkenal seperti Quraish Shihab, Huzaimah T Yanggo, Yunan Yusuf, Malik Madani, KH Ahsin Sakho Muhammad, Muchlis M Hanafi, Rosehan Anwar, Abdul Ghofur Maemun, Amir Faesal Fath, Abbas Mansur Tamam, Umi Husnul Khotimah, Abdul Ghaffar Ruskhan, Dora Amalia, Sriyanto, dan banyak lainnya.

“Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Alquran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar,” ungkapnya.

Muchlis kemudian mencontohkan bahwa kata awliya disebutkan sebanyak 42 kali dalam Alquran. Untuk mengacu pada konteksnya agar tidak dipersepsikan simpang siur, maka hal itulah yang menjadi dasar perbaikan dan penyempurnaan.

Contohnya saja dalam surah Ali Imran ayat 28, Al Nisa ayat 139 dan 144 serta Al Maidah ayat 57. kata awliya diartikan pemimpin, sedangkan dalam Al Maidah ayat 51 dan Al Mumtahanah ayat 1 diartikan sebagai teman setia. Begitu pula dalam surah Al Taubah ayat 23, awliya memiliki arti pelindung dan pada An Nisa ayat 89 diterjemahkan dengan teman-teman.

“Kata wali diberi catatan kaki, wali jamaknya awliya, berarti ‘teman yang akrab’, juga berarti ‘pelindung’ atau ‘penolong’. Catatan kaki untuk kata wali pada Ali Imran ayat 28 berbunyi, “wali jamaknya awliya, berarti ‘teman yang akrab’, juga berarti ‘pemimpin’, ‘pelindung’ atau ‘penolong’,” jelas Muchlis.

AKP Isa Ansori turut mengatakan bahwa jika kasus yang menuding Ahok sebagai penista agama ini tidak muncul, maka terjemahan tersebut tidak akan terungkap seperti sekarang.

“Kalau Ahok tidak bilang ini (mengutip surah Al Maidah 51), (maka) tidak akan ketahuan. Memang ternyata itu sudah lama, rupanya benar Ahok. Ada yang mengubah kata-kata pemimpin menjadi teman setia. Kan menyimpang jauh itu. Begitu loh,” katanya.