Jusuf Kalla Sebut Bukan Al Maidah 51 yang Jadi Masalah, Tapi …


    j

    Masih bergulir menjadi polemik khusus terkait kasus ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau kerap dipanggil Ahok saat berbincang-bincang dengan warga Pulau Pramuka beberapa minggu lalu yang menurut banyak orang dianggap menistakan agama Islam, kali ini muncul lagi satu pendapat yang tak tangung-tanggung datangnya dari mana.

    Pendapat tersebut dilontarkan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dengan mengatakan bahwa kesalahan yang dibuat Ahok bukan terletak pada penggunaan atau mengutip surah Al Maidah 51, melainkan mantan Bupati Bangka Belitung Timur tersebut menggunakan kata “dibohongi.”

    “Itu, bukan ayat itu dipersoalkan, boleh baca semua, saya yang dipersoalkan kata bohong,” ungkap Jusuf Kalla yang juga menjadi Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), seperti yang diutip dari Jawa Pos (22/10/2016).

    Jusuf Kalla menekankan bahwa jika saja Ahok tidak mengikutsertakan kata “dibohongi” waktu itu, maka persoalan mungkin tidak menjadi serumit seperti sekarang ini. Dia juga menambahkan bahwa karena menggunakan AL Maidah 51 dengan menambahkan kata “dibohongi,” maka memiliki kesan yang lain.

    “Saudara-saudara sekalian, apabila tidak pilih saya karena ayat Al Maidah, itu ya nggak apa apa. Marah nggak orang, nggak marah kan, jadi yang (memicu) marah apa, kata bohong,” jelas Jusuf Kalla sembari menirukan ucapan Ahok tanpa menambahkan kata “dibohongi” dalam body kalimatnya.

    Tidak hanya mengulas masalah kata “dibohongi” saja, Jusuf Kalla juga mengatakan bahwa kasus yang menimpa Ahok ini seperti halnya yang dialami oleh calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang tidak disukai banyak orang di Negara Paman Sam sana.

    Menurutnya, Trump tidak disukai bukan lantaran partai yang mengusungnya, melainkan karena tabiat dan perilakunya yang dianggap tidak bagus untuk dijadikan sebagai seorang pemimpin. Memang Trump dalam kampanye politiknya, selalu melontarkan ucapan-ucapan yang rasis sampai dengan kontroversi dan hal itu menurut banyak pengamat justru menjadi blunder bagi dirinya sendiri.

    “Sama (seperti) Trump, kenapa orang menurun pemilh kepada Trump, karena (Trump suka) tuduh kiri kanan, bukan karena partainya,” lanjut Jusuf Kalla.

    Oleh karenanya, dalam menyongsong Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang akan digelar pada tahun 2017 mendatang, Jusuf Kalla mengingatkan dan menyarankan kepada semua kandidat calon gubernur dan wakilnya agar dapat menjaga sikap baik lesan, tulisan atau juga aksinya.

    Terlebih lagi agar tidak mengusung atau menyangkutpautkan unsur SARA dalam kampanye politiknya agar tidak mencederai keharmonisan demokrasi di Indonesia.