Ini Perdebatan Sengit Antara Adian Napitupulu dan Eko Patrio Soal Pilkada DKI Jakarta


eko-adian

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Adian Napitupulu memberikan komentar terkait pencalonan anak sulung Presiden keenam Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni dalam pesta demokrasi DKI Jakarta 2017.

Menurut Adian, pencalonan Agus – Sylviana tidak memiliki persiapan yang matang dan cenderung memaksakan. Untuk itu, ia menyarankan kepada seluruh masyarakat DKI Jakarta agar tidak memilih pasangan calon tersebut.

“Jangan pilih yang terpaksa dipilih. Calon yang diusung itu harus sukarela, bukan terpaksa,” kata Adian, dalam diskusi jitunews.com dengan tema ‘Seteru Panas Pilkada DKI, Siapa Kuat?’, di Kaffeine, SCBD Lot 8, Jakarta Selatan, Kamis (29/9/2016).

Adian mengeluarkan statement-nya itu bermula dari cerita yang dilontarkan oleh Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) DKI Jakarta, Eko Hendro Purnomo atau yang akrab disapa Eko Patrio, yang menceritakan mengenai pengusungan pasangan calon Agus – Sylviana.

Perdebatan antara Adian – Eko dimulai saat melihat polling Agus – Silviana yang tidak tepat ketika poros Cikeas yang terdiri dari Parta Demokrat, PKB, PAN dan PPP memutuskan keduanya untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta.

“Dari survei itu kita lihat ada rekayasa. Kenapa rekayasa, karena takut kalah. Pencalonan saja baru beberapa hari lalu, gimana surveinya? Sosialisasi baru ada bahkan warga tidak menduga, lucu saja bagi saya,” kata Adian, dikutip dari merdeka.com.

Kemudian Eko pun menceritakan mengenai keputusan pencalonan Agus – Sylviana yang dilalui dalam waktu 48 jam setelah tiga partai berpisah dari koalisi kekeluargaan.

“Awal sejujurnya kan koalisi kekeluargaan dibentuk tujuh partai, nah kita sepakat mengajukan Risma, kita kan sekarang bicara partai yang punya ideologis. Nah ideologis sesungguhnya partai mengajukan kadernya sendiri. Catet. Sekarang banyak yang enggak bener. PAN mah dibanding PDIP, Gerindra cuma dua kursi, sadar diri,” kata Eko.

Eko menambahkan, partai yang memiliki kursi yang cukup di DPRD DKI Jakarta malah tidak mengusung calon dari kadernya sendiri.

“Ini kursi banyak tapi enggak ngajuin kadernya. Bicara partai ideologis. Saya melihat setelah Risma, Sandi, Yusril, RR, ini kan tokoh hebat, saya ajukan ke koalisi kekeluargaan, dibuang mentah-mentah ini tokoh,” lanjut Eko.

“Tiba-tiba last minute PDIP ajukan Ahok-Djarot, kaget kita, ya sudah, komunikasi jadi pecah koalisi kekeluargaan karena menunggu saudara tua (PDIP) kita tidak sesuai. Terus kondisinya terjadi lagi komunikasi tak terbangun antara Gerindra dan PKS mengajukan di luar kepala kita,” sambungnya.

Adian pun menyerang balik komentar yang dilontarkan oleh Eko. Apabila cerita yang disampaikan Eko benar adanya, dirinya menganggap pengusungan Agus – Sylviana cenderung dipaksakan.

Menurut cerita Eko, dirinya adalah saksi sejarah di Cikeas dalam pencalonan Agus – Sylviana. Menurut Eko, ketika PDIP memutuskan untuk mengusung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, komunikasi menjadi berantakan.

Komunikasi tambah tak karuan ketika PKS mengajukan nama Mardani Ali untuk mendampingi Sandiaga Uno dalam pencalonannya.

“Kita tidak punya persiapan apa-apa, apalagi mengurus pembentukan tim media, hatters dan lain-lain. Yang terpenting adalah paslon bisa segera mendaftarkan diri segera,” ujar Eko.

Dalam diskusi bertajuk ‘Seteru Panas Pilkada DKI, Siapa Kuat?’ itu, hadir enam pembicara yang berpengaruh dalam Pilkada DKI Jakarta. Keenam pembicara tersebut adalah Cawagub DKI Jakarta, Sandiaga Uno; Politisi PDIP, Adian Napitupulu; Ketua DPW PAN DKI Jakarta, Eko Hendro Purnomo; Sekretaris Fraksi Partai Hanura DPR RI, Dadang Rusdiana; Anggota DPD RI, AM Fatwa; dan Dosen Fisip UI, Vishnu Juwono.