Adian Napitupulu Kini Mendukung Ahok, Dulu Mencaci. Berikut Pernyataan Pedas Dia di Masa Lalu


adian-napitupulu

Mantan aktivis yang kini menjadi politisi PDIP Adian Napitupulu sebelumnya kerap melayangkan kritik pedas terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun saat Ahok bergabung dengan PDIP dan berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, Adian menyatakan berada dalam barisan pendukung calon petahana tersebut.

Dilansir dari tribunnews.com, Adian berdalih bahwa pernyataan pedasnya pada masa sebelumnya hanya bagian dari upayanya menarik Ahok ke partai dan meninggalkan usahanya untuk maju lewat jalur independen.

“Pernyataan-pernyataan kemarin, saya itu hanya untuk menarik Ahok ke partai. Ahok harus berani maju lewat partai,” ujar Adian, Kamis (29/9/2016).

Selanjutnya Adian mengungkapkan pujiannya terhadap pasangan Ahok-Djarot. Baginya, pasangan tersebut sudah terbukti dan teruji dalam memimpin Ibu Kota.

“Pasangan yang sekarang sudah teruji sebenarnya Ahok-Djarot. Yang lain masih janji. Saya melihat Ahok-Djarot pilihan yang paling tepat untuk dipilih Jakarta,” ujar dalam sebuah diskusi bertajuk “Seteru Panas Pilkada DKI, Siapa Kuat?” di Kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (29/9/2016).

Seperti diketahui sebelumnya jika Adian kerap melontarkan penyataan yang keras terhadap Ahok saat PDIP belum resmi mendukung mantan bupati Belitung Timur tersebut sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

Adian bahkan pernah menilai Ahok sebagai orang yang masih sekelas anak remaja dan takut saat bertemu dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri,

“Diluar ngomong keras tapi pas ketemu Ibu Megawati dengkul lemas,” katanya, Sabtu (30/7/2016).

Ia juga pernah meminta Ahok untuk tidak banyak mengeluarkan pernyataan yang bisa menganggu jalannya pemerintahan dan situasi politik.

“‎Saran saya pada Ahok adalah mulai introspeksi diri dengan mengurangi pernyataan-pernyataan yang kontra produktif,”‎ katanya, Jumat (29/7/2016).

Anggota DPR tersebut menyarankan agar Ahok berbicara lebih santun dan meneduhkan. “Kenapa demikian? Karena Ahok bukan Gubernur dari ribuan gedung dan tembok tapi ia gubernur dari 10 juta manusia,” lanjutnya.

Ketua Dewan Pembina Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) juga pernah menyinggung Ahok perihal satu juta KTP yang diklaim telah diperoleh relawan pendukung Ahok, Teman Ahok. Ia menyindir lahirnya Teman Ahok serta relawan-relawan yang aktif didalamnya.

“Desain awal sang sutradara yang merekayasa lahirnya lima super hero muda yang tidak pernah berlatih politik, sama seperti menonton film tentang anak muda culun yang tiba-tiba jadi superhero karena di gigit laba-laba yang teradiasi. Film yang enak ditonton tapi sungguh tidak layak dipercaya apalagi diikuti,” kata Adian melalui pesan singkatnya, Selasa (12/7/2016).

Ia juga berpendapat jika munculnya Teman Ahok dengan berbagai cerita heroiknya membuat sulit dipercaya oleh masyarakat dan terkesan sebagai rekayasa.

“”Cerita lima anak muda yang tidak mengerti bisnis tapi tiba-tiba sanggup mengelola modal Rp 500 juta menjadi berlipat 1.300 % dalam waktu 1 tahun tentu cerita yang sangat Heroik,” lanjutnya.

Adian juga mempertanyakan mengenai kecepatan para relawan yang berhasil mengumpulkan sejuta KTP dalam waktu singkat.

“Cerita lima anak muda yang mengumpulkan 770.000 KTP dalam delapan bulan lalu dibakar, kemudian mengumpulkan lagi 1 juta KTP baru lengkap dengan formulir bertanda tangan hanya dalam waktu 90 hari tentu cerita yang amat sangat Heroik. Dua cerita yang heroik luar biasa itu tentu sangat dekat dengan kebohongan,” tambahnya

Menurut Adian, Ahok bersikap aneh karena menjadi ragu setelah relawannya mengklaim telah mendapat satu juta KTP.

“1 juta KTP sudah diklaim, sulit meralatnya, walau aneh, kok bisa Ahok justru menjadi ragu ketika 1 juta KTP dari syarat minimal 525.000 KTP justru sudah ada,” ujarnya.