Kutip Surah Al Maidah Ayat 51, Ahok Dituding Lakukan Penistaan Agama


ahok

Semakin mendekati tahun 2017 dan tentunya Pilkada DKI Jakarta di tahun depan, semakin sengit pula pertarungan dalam dunia politik Tanah Air.

Salah satu calon yang bakal melaju ke pemilihan gubernur tersebut adalah Gubernur DKI Jakarta sekarang, Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dipanggil Ahok. Sayangnya, walaupun dia memiliki kualitas dan kredibilitas yang tinggi untuk membangun dan memajukan Ibu Kota, namun tidak sedikit yang tidak suka kepadanya dan selalu menyerangnya secara statemen.

Salah satunya apa yang baru-baru ini dilakukan oleh wakil ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Agustiar kepada Ahok. Agustiar menuduh Ahok telah melakukan dua tindak pidana, yang salah satunya adalah tudingan pencemaran atau penistaan agama.

Dalam tuduhannya tersebut, Agustiar mengatakan bahwa Ahok telah mengutip salah satu surah Alquran (Al Maidah ayat 51) untuk melarang umat Muslim agar tidak memilihnya karena jika tetap memilihnya maka selain bodoh juga melanggar apa yang tertulis dalam surah tersebut.

Surah Al Maidah ayat 51 memiliki artian bahwa ada larangan bagi umat muslim untuk menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpinnya dan Ahok mengatakan hal ini kepada masyarakat saat dia mengunjungi Pulau Pramuka, kepulauan Seribu, Jakarta pada hari Selasa (27/9/2016) kemarin.

“Saya tegaskan bapak ibu, jangan terpengaruh urusan Pilkada, kalau ada yang lebih baik jujur jangan pilih saya, kalau pilih saya bodoh. Masa punya duit motor Jepang. Beli motor China, kalau ada yang lebih baik pilih dia. Saya enggak memaksa bapak ibu milih saya, tapi kalau bapak ibu milih yang enggak berpengalaman bodoh namanya,” kata Ahok, seperti yang dikutip dari merdeka.com (27/9/2016).

Dikarenakan hal itu, maka ada 7 advokat dan salah satunya adalah Agustiar mendatangi kantor Bawaslu DKI dan melaporkan dugaan rasis serta penghinaan agama oleh Ahok tersebut.

“Surat Al Maidah ayat 51 sudah sangat jelas artinya yaitu larangan bagi umat muslim untuk mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk menjadi pemimpin. ACTA menaruh perhatian serius atas sikap Ahok yang beberapa hari lalu secara umum terbuka di depan umum mengatakan jangan pilih dia karena surat Al Maidah 51. Pernyataan tersebut sangat memprihatinkan karena diduga melanggar beberapa ketentuan hukum,” ungkap Agustiar.

Agustiar juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan Ahok tersebut sudah menyerempet SARA serta penghinaan terhadap agama, etnis dan ras tertentu.

Namun ketika ditanya apakah tudingan ACTA yang diwakili Agustiar ini adalah bentuk dari rasa tidak senang mereka terhadap Ahok sekaligus merupakan penghujatan terhadap Gubernur DKI Jakarta ini, Agustiar mengatakan tidak. ACTA menindaklanjuti hal ini agar Ahok lebih dicintai oleh masyarakat.

“Perbuatan SARA itu seseorang terhadap penghinaan terhadap agama etnis ras tertentu. Mengatakan untuk tidak memilih pemimpin yang bukan dari agama islam itu bukan rasis tapi syiar agama yang harus ditegakkan. Saya melakukan ini bukan untuk menghujat Ahok tapi sengaja untuk agar Ahok lebih dicintai oleh masyarakat Jakarta,” lanjutnya.

Tentunya bukan suatu hal yang aneh kenapa ACTA begitu getol berseberangan dengan Ahok karena beberapa waktu lalu, perkumpulan advokat ini juga menjadi salah satu penentang Ahok bersama Ahmad Dhani dan pihak-pihak yang tidak satu jalan dengan Ahok.

Bahkan, ketika di bulan April 2016 lalu ada berita mengenai pemanggilan Ahok oleh KPK terkait masalah dugaan korupsi pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras, organisasi tersebut memperlihatkan ekspresi kegembraannya (rmoljakarta.com – 13 April 2016).

Ahok sendiri ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut justru dengan santai menanggapi bahwa apa yang dilakukan ACTA berlebihan karena dia menganggap semua firman Tuhan dapat dikutip siapa saja, bahkan oleh orang yang tidak seagama sekalipun.

“Kenapa aku enggak boleh ngutip surat itu? Itu mah (ACTA) orang cuma ngomong. Semua firman Tuhan bisa dikutip kok. Kenapa aku enggak boleh ngutip firman Tuhan? Surat Al Maidah sebut, ‘jangan jadikan Yahudi dan Nasrani jadi pemimpinmu,” jelas Ahok.

Sedangkan dari pihak Bawaslu sendiri, mereka akan segera menindaklanjuti laporan dari ACTA ini. Jika nantinya memang terbukti melanggar pasal 156 KUHP junto pasal 28 ayat 2 UU No. 11 tahun 2008 UU ITE tentang penghinaan terhadap agama, maka mereka akan memprosesnya lebih lanjut.

“Kami akan menindaklanjuti apa yang dilaporkan. Kami akan melakukan rapat pleno untuk menentukan status pelaporan ini. Nanti juga kami akan menyampaikan penanganan kami,” ujar M. Jufri dari Bawaslu DKI Jakarta.