Agus Harimurti dan Perjuangan Politik Dinasti Cikeas di 2019


agus-harimurti-2

Keputusan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mendorong putranya sulungnya maju dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang cukup mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, Agus Harimurti Yudhoyono harus mengakhiri karier militernya yang saat ini dianggap cukup cemerlang.

SBY melalui Partai Demokrat memang sejak awal tidak akan mendukung calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Bersama partai-partai lainya, Demokrat sejak beberapa bulan sebelumnya telah mencoba mengodok calon gubernur yang dianggap mumpuni yang bisa mengalahkan Ahok.

Sebelum nama Agus keluar, Sandiaga Uno santer menjadi calon yang akan diusung oleh partai-partai yang anti-Ahok. Akan tetapi, berdasarkan beberapa kalkulasi dari beberapa partai menganggap Sandi, sapaan akrab Sandiaga Uno masih belum bisa menandingi Ahok. Sementara itu, Gerindra sebagai pihak yang “menjual” Sandi tidak bersedia ditawar-tawa, bagi mereka Sandi adalah harga mati.

Komunikasi terkesan berjalan cukup alot, hingga akhirnya Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang tergabung dalam ‘poros cikeas’ memutuskan untuk ‘say good bye’ kepada Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kukuh mencalonkan Sandi.

Hal tersebut bisa juga diteropong dari sudut ketidakbisaan para tokoh sentral dari Demokrat, yakni SBY dan dari Gerindra, yakni Prabowo Subianto untuk bersatu. Mereka dikabarkan kurang bisa bersatu, bahkan saat Pilpres 2014 yang lampau, SBY memilih untuk netral meskipun besannya, Hatta Radjasa adalah calon wakil presiden dari Prabowo.

Aura ketidakakuran tersebut tetap terasa saat menentukan calon gubernur DKI Jakarta. Meskipun keduanya satu tujuan, mengalahkan Ahok, namun kenyataannya mereka belum bisa mengalahkan egonya masing-masing untuk bisa mengusung satu calon yang sama.

Nama Agus yang muncul dalam pilgub DKI kali ini pun sebenarnya yang tertangkap bukan untuk melawan Ahok. SBY terlihat sedang membidik sasaran yang lebih jauh, yakni konstalasi politik pada 2019 mendatang.

Mengubur karier militer anaknya yang sangat cemerlang untuk melawan Ahok yang sudah diatas angin tentu sulit diterima akal sehat. Sebagus apapun Agus, dia sudah kalah ‘start’ dengan Ahok yang sebenarnya telah mulai kampanye sejak mendirikan ‘Teman Ahok’.

Jakarta bisa dianggap sebagai barometer politik nasional. Joko Widodo (Jokowi) sebelum bertarung sebagai Presiden dan akhirnya memenangkan Pilpres juga melalui pertarungan di pilgub DKI Jakarta.

Agus, meski cemerlang dalam karier militernya, pada 2019 dia belum bisa dipaksakan untuk langsung ke politik bermodal pangkat militernya, dalam hal ini pertarungan di pilpres. Hal tersebut yang membuat SBY sepertinya menyiapkan putra mahkotanya tersebut lebih awal, yakni pada pilgub 2017.

SBY sendiri dalam politik telah menyiapkan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) sebagai penerus dinasti politiknya. Namun sepertinya Ibas dianggap belum siap atau tidak terlampau cakap untuk bisa didorong menjadi pemimpin.

Hal tersebut yang kemudian membuat SBY sedikit terpaksa mendorong Agus masuk ke politik labih awal.

Jika menang dalam pilgub DKI -meskipun peluangnya tipis- Agus akan relatif lebih mudah untuk masuk dalam percaturan politik pada 2019 medatang. Jika kalahpun sebenarnya sudah bisa menjadi bahan analisa sekaligus upaya cikeas memperkenalkan Agus ke publik.

Dalam beberapa hari kedepan hingga menjelang pilgub, media dan masyarakat akan mengulik kehidupan Agus serta menampilkan prestasi-prestasinya di dunia militer. Hal ini penting untuk mendongkrak citra.

Sosok Agus yang secara fisik cukup menarik, terlihat santun serta memiliki banyak prestasi yang menunjukan kecerdasannya akan diangkat secara habis-habisan di media dan berbagai perbincangan publik.

Perkenalan ini adalah sebuah modal awal agar Agus lebih bisa punya peluang untuk melanjutkan perjuangan politik ‘dinasti cikieas’ di 2019 mendatang.