Ahok Buka Suara Mengenai Alasan Megawati Pilih Dirinya dan Isu Uang Mahar 10 Triliun


ahok

Setelah sempat mengalami pasang surut dalam mendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam Pilkada Gubernur DKI, akhirnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menyatakan ketegasannya.

Sebelumnya, Ahok memang ingin berjuang sendiri di jalur independen dalam Pilgub DKI ini, namun karena kualitas dan dedikasi total yang diberikannya dalam merombak wajah Ibu Kota, secara perlahan namun pasti, banyak partai-partai yang menyatakan dukungannya dan yang paling akhir ini adalah PDI-P.

Dukungan besar yang dilakukan oleh PDI-P terhadap Ahok karena pria yang pernah menjabat sebagai Gubernur di Bangka Belitung ini akan ditandemkan dengan calon dari partai berlogo banteng, Djarot, sebagai wakilnya kelak.

Sebelumnya, Ahok sempat dibuat bingung karena hingga menjelang malam, belum ada kepastian apakah PDI-P berkenan mengusungnya atau tidak.

Bahkan dia juga akhirnya kembali ke Balai Kota karena tidak ada kepastian. Setelah beberapa saat, akhirnya muncul pemberitahuan bahwa Ketua PDI-P, Megawati Soekarnoputri menyatakan kesiapannya untuk mengusung Ahok sebagai calon Gubernur DKI Jakarta di periode mendatang bersama Djarot sebagai wakilnya.

Dalam suatu wawancara, Ahok juga menjelaskan alasan khusus kenapa PDI-P setuju memberikan dukungan bahkan akan mengusung dirinya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta periode mendatang, yaitu karena terkait ideologi Pancasila.

Mega menginginkan bahwa calon yang akan diusungnya benar-benar menerapkan ideologi Pancasila dan Ahok memiliki kans kuat dalam menjalankan hal tersebut.

Bahkan Ahok juga mengatakan bahwa Mega sempat marah karena disarankan untuk menarik dukungan karena Ahok berasal dari golongan minoritas.

“Makanya, dia marah, saya lihat salahlah kalau orang ngusul ke Bu Mega jangan pilih Ahok karena Ahok minoritas, bahaya SARA, tambah ngamuk dia, tambah marah,” ujar Ahok, seperti yang dilansir oleh Kompas (21/9/2016).

Selain itu, ada alasan-alasan lain yang membuat Mega menyetujui mendukung dan mengusung Ahok, seperti kepuasan warga Jakarta ketika dipimpin Ahok karena masyarakat Ibu Kota pada umumnya justru kurang puas akan kepemimpinan Gubernur DKI sebelumnya, Fauzi Bowo.

Bahkan, hal itulah yang melandasi kenapa dia ditandemkan dengan Joko Widodo (Jokowi) saat Pilpres lalu.

“Dulu tingkat kepuasan warga DKI kepada Foke rendah. Kalau sekarang kan tingkat kepuasan kepada kami tinggi. Jadi, beda konsepnya,” lanjutnya.

Disinggung mengenai isu tentang mahar politik sebesar Rp 10 triliun, Ahok dengan tegas membantahnya.

“Kalau ada (mahar) Rp 10 triliun mah gue tidur saja. Kamu tahu enggak Rp 1 triliun itu kalau didepositokan berapa duit sebulan? Hampir Rp 60 miliar sebulan,” ungkap Ahok lagi.