4 Hal yang Buat Gerindra Yakin Prabowo Akan Kalahkan Jokowi pada 2019


gerindra3

SURATKABAR.ID Prabowo Sukbianto, rival politik Jokowi pada pertarungan Pilpres 2014 dikabarkan diusung kembali oleh Partai Gerindra sebagai capres pada pemilu 2019. Meskipun pemilihan presiden masih berlangsung tiga tahun lagi, Partai Gerindra telah mantap.

Menurut politisi Gerindra, Fadli Zon, ia yakin jika Partai Gerindra dapat mengalahkan Partai PDI Perjuangan yang saat ini sedang berada d atas angin. Fadli Zon mengaku bahwa ia yakin pada kemenangan pertarungan Pilpres 2019 dibandingkan dengan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 yang akan datang.

Fadli Zon juga menambahkan bahwa kemenangan Pilgub DKI 2017 masih tergantung dengan pasangannya. Sementara itu, Fadli Zon optimistis akan kemenangan Gerindra di tahun 2019.

Gerindra dan PKS merupakan partai yang konsisten yang berada diluar pemerintahan. Seperti diketahui sebelumnya bahwa PAN, Golkar, PPP yang dulunya tergabung dalam Koalisi Merah Putih sekarang merapat pada barisan pemerintahan.

Menjadi partai yang berada diluar pemerintah, Gerindra sering mengkritik kepemimpinan para eksekutif. Kebijakan – kebijakan dibawah kepemimpinan Jokowi menjadi sorotan. Gerindra optimis menang Pilpres 2019 karena Jokowi dinilai belum dapat memberikan kepuasan dibidang politik, sosial, dan lainnya.

Berikut merupakan hal-hal yang membuat Gerindra yakin Prabowo akan memenangkan Pilpres 2019 seperti dilansir merdeka.com

1. Hidup Rakyat Semakin Lama Semakin Susah

Salah satu kebijakan yang disoroti oleh Fadli Zon terhadap Jokowi adalah kehidupan rakyat yang semakin susah. Ia juga seringkali mendapatkan keluhan dari masyarakat tentang hal tersebut. Fadli juga menambahkan bahwa angka-angka yang dibeberkan pemerintah terlalu optimistis. Ia menganggap hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan yang sebenarnya. Ia juga mengkritik prinsip-prinsip ekonomi kerakyatan yang belum terlihat.

“Hidup petani dan nelayan dinilai makin susah. “Mereka tidak tahu mau jual ikan ke mana,” ungkapnya.

Begitupula dengan mencari pekerjaan dan penghidupan yang semakin lama dinilai semakin susah.

“Cari uang susah, cari pekerjaan susah,” ujar Fadli

2. Kegaduhan politik di pemerintahan

Menurut Fadli Zon, kegaduhan politik di pemerintahan justru membuat keuntungan tersendiri bagi Gerindra. Seperti misalnya pergantian belasan menteri hingga pelantikan Arcandra Tahar sebagai menteri yang pernah tersandung dwikewarganegaraan beberapa waktu lalu.

Fadli Zon juga mengkritik kebijakan Jokowi dalam memotong anggaran kementrian melihat situasi ekonomi yang sulit. Fadli Zon menilai Jokowi melanggar UU, karena pemotongan anggaran seharusnya tak bisa lewat Inpres dan harus dibahas dengan DPR dengan R-APBN Jilid II terlebih dahulu.

Begitupula dengan Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa yang sudag memprediksi bahwa kegaduhan politik ini akan menguntungkan partainya.

3. Pemerintah Dinilai Lebih Fokus Urusan Politik Daripada Ekonomi

Arief Puyono, salah satu politisi Gerindra menilai bahwa Jokowi terlalu sibuk dalam mengurusi urusan politik dibandingkan dengan ekonomi rakyat. Arief menilai bahwa Jokowi masih meninggalkan banyak pekerjaan rumah selama dua tahun belakangan ini.

“Hari ini Pak Jokowi jangan mikir maju dulu (Pilpres 2019) tapi memperbaiki perekonomian. Pak Jokowi sudah tidak optimal, keuangan lagi sakit,”ungkapnya.

Arief juga mengungkapkan bahwa Jokowi belum memberikan sesuatu yang berrti.

“Pak Jokowi sepertinya rajin, aktivitas beliau belum menghasilkan apa-apa, lebih baik fokus dulu ngurus negara,” ujarnya kepada wartawan saat dihubungi, Jakarta, Rabu (1/6/2016) lalu.

Arief juga mengungkapkan bahwa Jokowi sebaiknya meniru Presiden Ri ke-6 Susilo bambang Yudhoyono yang fokus dalam memperbaiki negara.

4. Banyaknya Buruh yang Terkena PHK

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Roberth Rouw juga mengungkapkan hal yang senada. Ia mengkritik perihal banyaknya buruh yang terkena PHK pada era pemerintahan Jokowi.

Roberth mengkritik ekonomi yang tidak kondusif dan banyaknya investor yang mem-PHK karyawannya.

“Katanya ekonomi kita meroket, tapi PHK di mana-mana sekarang. Jadi yang meroket itu adalah PHK-nya bukan ekonomi nasionalnya,” ujar Roberth di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2016).

Roberth mengungkapkan jika banyak buruh yang di PHK maka akan menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaDisomasi, Deddy Corbuzier Tantang Balik Pihak Mario Teguh
Berita berikutnyaPenyandang Disabilitas Ini Dikecam Setelah Kritik Warkop DKI Reborn