Didiagnosa Mengidap Pneumonia, Hillary Clinton Diracun?


Hillary Clinton1

Hillary Clinton, calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat terpaksa harus beristirahat karena sakit yang dideritanya. Clinton didiagnosis mengidap pneumonia atau radang paru-paru basah. Akibat sakit yang dideritanya tersebut, Clinton terpaksa absen atau cuti kampanye untuk sementara waktu.

Sakitnya Clinton sendiri berawal saat ia menghadiri peringatan Tragedi 11 September di New York. Saat memperingati 15 tahunnya tragedi 11 September ini Clinton tiba-tiba lemas dan kepanasan.

Clinton kemudian diberikan pertolongan pertama dengan dipapah oleh agen Secret Service. Clinton juga pingsan setelah masuk ke dalam mobil. Berdasarkan keterangan dokter yang memeriksanya, Clinton mengidap radang paru-paru basah.

Akibat kondisi fisik yang dialaminya, Clinton meninggalkan peringatan tragedi 11 September tersebut lebih awal. Sejumlah rencana perjalanan Clinton pun terpaksa ditunda.

Peristiwa pingsannya Clinton ini justru ditanggapi dengan candaan di dunia maya. Netizen menganggap bahwa tim kampanye Clinton akan menuduh Rusia atas sakitnya seperti saat merek menuduh peretas Rusia sebagai pembocor email-emailnya.

Candaan tersebut akhirnya ditanggapi oleh Bennet Omalu, ahli Patologi Forensik warga Amerika Serikat. Bahkan, Bennet Omalu mengatakan bahwa kuat dugaan Clinton diracun pada 11 September lalu seperti dilansir tempo.co.

Omalu menemukan pola ensefalopati traumatik kronis sehingga menganjurkan Clinton untuk melakukan tes darah untuk melihat kemungkinan diracun.

“Saya harus menasehati tim kampanye Clinton. Mereka harus melakukan analisa toksikologi dalam darah. Sangat mungkin ia sudah diracun,”tulisnya dalam akun twitternya seperti dilansir dari Sputnik.

Mengejutkannya, Omalu menuliskan pula alasan mengapa dirinya meminta Clinton untuk melakukan uji analisis racun pada darahnya karena ia tak mempercayai Vladimir Putin dan Donald Trump.

Vladimir Putin yang merupakan sosok yang dikagumi Trump ini pernah disebut-sebut terlibat dalam kematian agen inteligen Alexander Litvinenko akibat racun di London pada tahun 2006 lalu.

Bahkan penyelidik menemukan bukti bahwa Rusia terlibat dalam kematian agen tersebut. Dengan demikian, tentu operasi ini tidak akan dapat berjalan tanpa persetujuan Putin.

Omalu adalah ahli patologi yang terkenal semenjak keberhasilannya mengungkap kematian mantan peman Pittsburgh Steelers saat bekerja di Kantor Koroner di kotanya. Omalu membuktikan bahwa pemain tersebut meninggal akibat pukulan di kepalanya saat bermain hingga mengakibatkan kerusakan otak.

Hasil pengamatan ahli patologi ini membuat gempar dan menjadi perbincangan di lini media massa. Terlebih mengenai dugaan Clinton diracun oleh rival politiknya ini menjadi pemberitaan dugaan adanya konspirasi terhadap Clinton.

Sakitnya Clinton membuat sejumlah jadwal kampanye yang seharusnya dilakukannya berubah.