Ahok atau Taufik yang Bohong?


ahok-taufikGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama  memanas lantaran disebut pernah menyetujui pemangkasan kontribusi tambahan 15 persen untuk pengembangan reklamasi.

Pria yang akrab disapa Ahok ini merasa difitnah oleh Ketua Balegda DPRD DKI Jakarta, Mohammad Taufik yang membuat pernyataan itu pada siding kasus suap reklamasi di Pengadilan TIpikor Jakarta.

Pernyataan Taufik itu dimulai dari perkataan yang dilontarkan Sanusi bahwa sempat ada pembicaraan informal antara Ahok dan Taufik di ruang VIP Gedung DPRD DKI Jakarta. Menurut Sanusi, pertemuan itu berlangsung sebelum sidang paripurna.

Dilansir dari kompas.com, dalam pertemuan itu, kata Sanusi, Taufik menunjukkan kepada Ahok mengenai tabel simulasi tambahan kontribusi sebesar 15 persen. Jika kontribusi ditambah 15 persen, maka pengembang harus membayar sebesar Rp48 triliun. Lantas Ahok kaget mendengar itu, menurut penjelasan Taufik,  “Wah, ini namanya kita merampok swasta.”

Saat itu, Taufik menjelaskan, Ahok menyetujui penurunan kontribusi tambahan bagi pengembang reklamasi. Cerita semacam ini juga pernah disampaikan Taufik saat menjadi saksi untuk terdakwa mantan Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja.

Namun, Ahok membantah keterangan Taufik. Ia merasa heran Taufik bisa berbohong ketika siding berlangsung. Padahal, sebelum memberi kesaksian, Taufik telah disumpah dibawah Al Quran untuk memberikan kesaksian yang benar.

“Bagaimana bisa dia berani fitnah di bawah sumpah lho. Makanya saya pikir, mereka anggap tuhan itu linglung. Apalagi Taufik kan? Pernah narapidana lho,” ujar Ahok di Balai Kota DKI, Selasa (6/92016), dikutip dari pojoksatu.id.

Namun, Ahok percaya bahwa rakyat bisa menilai mana yang jujur dan mana yang berbohong. Ahok juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah disodorkan tabel simulasi serta tidak pernah mengucapkan kalimat mengenai merampok pengembang.

“Mau fitnah saya, bilang saya setuju, lalu bilang, saya mau rampok pengusaha. Gila begitu lho, yang mau ngerampok elu apa gue,” tegas Ahok.

Tak hanya itu, Ahok menilai mantan rekannya di Gerindra itu mirip dengan Wakil Keut DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana yang kerap menyebar fitnah.

“Lama-lama dia gua pikir kayak haji Lulung juga, ada laporan kejiwaan dia kira nama gue yang muncul. Kacau ini,” ucap Ahok.

Meski ditentang Ahok, Taufik telah menyampaikan hal yang sebenarnya ketika diperiksa penyidik terkait pembahasan raperda reklamasi. Taufik membantah disebut telah memfitnah Ahok. Taufik juga mengungkapkan bahwa saksi dalam pertemuan itu adalah Sekretaris Daerah Saefullah.

“Yang bohong itu Ahok. Ada Sekda kok saksinya. Menurut saya, Ahok yang bohong dan dia enggak ngaku,” ujar Taufik, saat dihubungi kompas.com, Rabu (7/9/2016).

Menurut Taufik, Ahok tidak hanya berbohong mengenai dana tambahan kontribusi. Namun juga berbohong mengenai draf kedua raperda dalam persidangan. Ketika siding berlangsung, Sanusi menanyakan kepada gubernur DKI Jakarta apakah Ahok mengetahui soal draf kedua raperda yang berbeda dari draf sebelumnya.

Ada 13 pasal yang masuk dalam draf kedua. Padahal 13 pasal itu tidak pernah dibahas sebelumnya. “Dia juga bohong bilangnya eksekutif enggak pernah kasih draf kedua. Padahal, eksekutif lho menyelundupkan 13 pasal. Terus mau salahin kami? Orang dia yang selundupin,” ucap Taufik.

Pada persidangan sebelumnya, Ahok telah menjawab draf kedua itu. Menurut Ahok, dia tidak mengetahuinya. Ahok mengaku tidak mengetahui teknis dalam pembahasan raperda. Dia hanya mengurus kebijakan seperti kebijakan tambahan kontribusi.

Sedangkan Saefullah menyatakan tidak bersedia dilibatkan dalam perseteruan antara Ahok dan Taufik. “Omongan Pak Gubernur, silakan klarifikasinya ke Pak Gubernur. Omongan Taufik juga, silakan konfirmasi ke yang bersangkutan. Jangan ke saya, nanti kacau,” ujar dia saat ditemui di Gedung DPRD DKI, Rabu (7/9/2016), dikutip dari kompas.com.

Ketika rapat paripurna di Gedung DPRD, Syaefullah menjelaskan, dirinya tidak paham dengan yang dibicarakan antara Ahok dan Taufik. Saefullah duduk di posisi agak berjauhan dengan keduanya.

“Kan kadang dia berdua ngomong di sebelah sana, saya di sini kan enggak nyambung,” ucapnya.

Saefullah mengungkapkan pembahasan mengenai rancangan peraturan Raperda reklamasi selalu disampaikan dalam rapat resmi dan ada petugas dokumentasi yang merekam jalannya rapat. Sehingga apabila ada pembahasan mengenai rencana penurunan kontribusi tambahan antara Ahok dan Taufik tentunya sudah disampaikan melalui rapat yang didokumentasikan.

“Kan direkam semua, buktiin saja lewat rekaman. Kan memori saya terbatas. Jadi buktikan saja lewat rekaman,” pungkasnya.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaReza Kembali Dinyatakan Positif Narkoba
Berita berikutnyaJengah Dituduh Telantarkan Anak, Mario Teguh Tantang Kiswinar Tes DNA