Kisah Perjuangan Tutik Handayani, Penderita Facial Cleft dari Lumajang


    Tutik Handayani

    Tutik Handayani, seorang gadis asal Lumajang, Jawa Timur selalu mengenakan kerudung dan penutup wajah ke manapun sepanjang hidupnya. Gadis berusia 16 tahun ini mengalami kelainan facial cleft di wajahnya yang membuat orang lain merasa takut.

    Kelainan facial cleft disebut juga sumbing wajah, ketika struktur wajah korban tidak sesempurna orang normal lain pada umumnya. Jika pada penderita facial cleft yang lain kelainan dapat teratasi dengan baik karena tergolong ringan, namun tidak dengan facial cleft yang dialaminya.

    Tutik tidak memiliki rahang atas yang sempurna. Sehingga, semua bagian giginya kelihatan. Begitupula keadaan bibirnya tidak ada yang menutupi. Selain itu, kelopak mata gadis tersebut terbuka sehingga bola matanya tidak bisa terlihat.

    “Semuanya takut pada saya, makanya saya tidak bisa sekolah,”ujarnya seperti dilansir jawapos.com.

    Tutik sendiri menjalani operasi facial cleftnya di Rumah Sakit Universitas Airlangga.

    Tutik mengalami kesulitan bahkan hanya sekedar untuk berbicara. Ia membutuhkan usaha keras untuk membuka rahang atasnya yang tidak sempurna. Suaranya pun tak jelas karena bibir bawahnya tertarik ke kiri. Bagian bibir atasnya pun hanya tersisa bagian kanan dan kiri dengan selebar satu sentimeter.

    Gadis kelahiran 5 november 1999 ini terlahir dari keluarga sederhana. Saat masih hidup, ayahnya bekerja sebagai buruh kasar. Sedangkan ibunya, Fatmawati, berjualan jajanan di SD Uranggantung, Kecamatan Sukodono, Lumajang.

    Ayah Tutik meninggal ketika ia berusia dua tahun. Tutik pun tidak pernah mendapatkan sentuhan medis sejak dini.

    “Toh, dia tidak pernah merasakan sakit dengan wajahnya yang seperti itu, makanya tidak pernah dibawa ke dokter,” ujar Fatmawati saat mendampingi Tutik di RSUA kemarin.

    Saat diperiksa dengan menggunakan ultrasonografi (USG) Tutik ternyata memiliki penglihatan yang tidak normal. Hanya mata kirinya saja yang ada namun tidak dapat menangkap cahaya.

    Sehari-hari, Tutik membantu ibunya dengan merawat adiknya di rumah. Kesehariannya memang seringkali dihabiskan di rumah, lantaran ia selalu diejek oleh teman-temannya jika keluar.

    “Bahkan, ketika bertemu anak kecil, mereka takut dan menangis,”ungkapnya.

    Tutik memasuki ruang operasi tepat pukul 12.00 WIB pada (188/2016) kemarin. Dalam operasi pertamanya ini, ia ditangani oleh empat dokter spesialis yang dipimpin oleh dr. Magda H, SpBP-RE (KKF). Tiga dokter yang lain yakni dr Putri, dr Nurdin Z. SpM, dan dr Prihatma SpAn.

    Operasi Tutik sendiri berjalan dengan lancar. Terhitung tiga hari sejak operasi dilakukan, Tutik dapat pulang.