Ternyata Letjen (Purn) S Prabowo Masuk Daftar Hitam Singapura


    gatotMantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen (Purn) Suryo Prabowo mengalami peristiwa kurang mengenakkan saat transit di Bandara Changi, Singapura, Rabu (17/8/2016).  Suryo yang baru kembali dari Fiji menggunakan maskapai penerbangan fijir Airways FJ361 terpaksa tertahan di bandara tersebut ketika hendak mengambil barang-barangnya di tempat pengambilan.

    Dia tidak mengetahui bahwa pihak imigrasi Singapura telah memasukkan namanya di dalam daftar hitam orang-orang yang dilarang masuk ke Singapura. Saat diperiksa, petugas yang memeriksa tidak memberikan alasan yang jelas mengenai penahanan tersebut dan penyebab namanya ada dalam daftar hitam imigrasi.

    “Alasan black list tidak mereka sampaikan, yang mereka tanya juga tidak penting-penting amat, dapat nomor hp, alamat email, dan saya berikna akun fb saya. Ketika mereka minta data pribadi saya, mereka saya minta lihat di google dan aku fb saya,” kata mantan wakil kepala staf angkatan darat (KSAD) Rabu (17/8/2016) malam WIB seperti dikutip dari republika.co.id

    Suryo pun menjelaskan kronologis peristiwa yang menimpanya tersebut. Ketika pukul 05.20 waktu Singapura, ia transit di Bandara Changi dan keluar dari terminal untuk mengambil bagasi dikarenakan harus pindah pesawat untuk menuju Indonesia demi mengikuti HUT RI ke 71 di Indonesia.  Suryo lahir di Semarang, Jawa tengah pada 15 Juli 1954.

    “Saya dari Fijike ke Singapura (naik Fiji Airlines) FJ361, dan dari singapura ke Jakarta naik SQ952. Di Fiji meninjau Kompi Zeni Kostrad yang sedang melaksanakan operasi bantuan kemanusiaan” kata dosen UNHAN tersebut.

    Di imigrasi Singapura, ia terkejut lantaran masuk dalam daftar hitam orang yang tidak boleh masuk ke Singapura. Dia pun ditanya banyak hal selama sekitar 1 jam lebih terkait riwayat selama hidup. Suryo mengaku, petugas Imigrasi menanyakan orang-orang yang tidak dikenalnya seperti Indra M.

    4-pasang-badan-letjen-suryo-prabowo-untuk-prabowo-hatta

    Anehnya, petugas Imigrasi tersebut tidak meminta maaf atas perlakuan mereka terhadap Suryo padahal hal tersebut sangat menyita waktu. “Setelah itu mereka Cuma asyik berdiskusi sendiri lalu mengembalikan paspor saya tanpa minta maaf, dan lalu saya melanjutkan penerbangan saya ke Jakarta,” ujar Suryo.

    Mantan panglima kodam Jaya itu menjelaskan, “Udah itu saja ya, cerita saya di hari proklamasi kemerdekaan Indonesia,” kata Suryo dalam catatannya di Facebook.

    Selain itu, ia memutuskan hubungan teman-temannya di media sosial. “O ya …. Kalau mau gak di black list seperti saya, teman-teman Facebook supaya unfollow saya. Dirgahayu Indonesia.”

    Menyikapi hal tersebut Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo sangat kecewa terhadap Singapura. Ia menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Singapura atas peristiwa itu

    “Jadi TNI sudah berkoordinasi, kemudian Kabais sudah ke Atase Pertahanan Singapura di sini. Dan kami sudah mengirim surat kepada Kemenlu agar menyampaikan nota protes,” tutur Gatot di Gelanggang Olahraga (GOR) Ahmad Yani Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (19/8/2016), dilansir dari liputan6.com

    Gatot menyatakan tidak menutup kemungkinan dirinya juga akan di black list oleh pihak Imigrasi Singapura. Namun kejadian yang terjadi kepada Suryo sangat salah dan tidak tepat. Meski dengan alasan salah paham, pihak Singapura seharusnya meminta maaf.

    “Bisa jadi suatu saat saya pun akan di-blacklist. Seharusnya kalau blacklist seperti itu salah, kalau salah harusnya adalah meminta maaf dan mengantarkan sampai ke sana. Itu etikanya kan demikian. Tapi ini salah, ya sudah dilepas begitu aja. Nanti semua orang kan dipanggil-panggilin enggak baik itu,” jelas Gatot.

    Dikuti dari Wikipedia, Johannes Suryo Prabowo (lahir di Kota Semarang, Jawa Tengah, 15 Juni 1954; umur 62 tahun) adalah seorang tokoh militer dan politisi Indonesia. Ia telah menjabat sebagai Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia (1 April 2011-30 Juni 2012) dan Wakil Gubernur Timor Timur (1998). Perwira TNI AD korps Zeni ini merupakan lulusan AKABRI (sekarang Akmil) tahun 1976, mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama sebagai taruna lulusan terbaik.

    Suryo menikah di Medan dengan Sri Hariaty br Pelawi, pada 30 Maret 1986. Keduanya adalah putra dan putri dari Prajurit TNI AD. Dari pernikahannya tersebut mereka dikaruniai dua putra yaitu Petrus Paramayudo Prabowo yang lahir di Medan tahun 1988, dan Andreas Paramawidya Wisesa Prabowo yang dilahirkan di Ambon tahun 1992.

    Keluarganya berasal dari  Madura dan Solo, lalu menikah dengan wanita Batak Karo, yang semuanya memiliki budaya dan agama yang spesifik. Dikarenakan selama hidupnya ia telah bertugas hampir di seluruh bagian Indonesia. Maka Suryo tumbuh menjadi anak bangsa yang sangat pluralisme dan nasionalisme

    Karena itu, di setiap kesempatan dia selalu mengharapkan, agar Bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa dan agama dapat hidup harmonis dalam keberagaman yang ada.

    Sementara itu kecintaannya kepada anak-anak muda menjadikan Suryo sering memberikan saran kepada para orang tua, untuk tidak memaksakan anak-anaknya mengikuti berbagai pendidikan formal dan nonformal yang dipenuhi dengan banyak ancaman dan larangan.

    Fenomena pendidikan sekarang menjadikan generasi muda Indonesia kehilangan kreativitas positifnya. Menurutnya anak-anak memiliki masa depan mereka sendiri dan sangat sulit dimengerti oleh orang tua.

    Setelah pada akhir tahun 1972 menyelesaikan pendidikan di SMA Pangudi Luhur 1 Jakarta, dengan prestasi tidak terlalu menonjol, Suryo langsung mendaftarkan diri untuk menjadi Taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) saat itu. Selama berstatus Taruna Akabri pada tahun 1974, ia sempat ditugaskan dalam ‘pertukaran taruna’ dengan Taruna dari RMC (Royal Military College) Duntroon, Australia.

    Setelah menyelesaikan pendidikan di AKABRI dengan mendapat predikat terbaik, sebagaimana perwira lainnya, dia mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai pendidikan spesialisasi, di antaranya seperti kursus spesialisasi Nubika (Nuklir Biologi dan Kimia), kursus penjinakan bahan peledak, kursus dasar para dan kursus pandu udara.

    Sedangkan pendidikan lainnya adalah Suslapa, Seskoad dan Lemhanas KRA 14. Hampir seluruh pendidikan diselesaikan dengan predikat terbaik. Meski sering mengikuti latihan bersama negara sahabat, dan seminar di luar negeri, namun seluruh pendidikannya diperoleh di dalam negeri.