Alasan-alasan Kenapa Metode Full Day School Belum Bisa Diterapkan Serempak di Indonesia


DSC00166a

Hingga kini gerbong penolakan akan wacana Full Day School yang coba dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pengganti Anies Baswedan, Muhadjir Effendy, terus bermunculan.

Mulai dari orang biasa, selebritis Tanah Air, pejabat negara sampai dengan partai-partai politik mengatakan keberatannya jika metode tersebut diberlakukan.

Menurut Muhadjir Effendy, ide Full Day School tersebut bertujuan untuk mengalokasikan waktu setelah jam belajar reguler selesai dan anak tidak sendiri sepulang sekolah.

Bahkan Muhadjir juga mengatakan bahwa bagi siswa yang beragama Islam, maka akan dipanggilkan guru mengaji atau ustaz yang sudah diketahui track record mereka dalam memberikan pelajaran agama.

“Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja,” kata Muhadjir, seperti yang dilansir oleh Kompas (9/8/2016).

Walaupun mengatakan bahwa wacana tersebut masih berupa ide saja dan belum tentu juga diberlakukan jika tidak ada yang menyetujuinya, akan tetapi informasi sudah terlanjur mencuat dan melahirkan penolakan dari berbagai pihak. Bahkan sampai sekarang, ada 2 petisi online yang sudah mendapatkan lebih dari 25 ribu tanda tangan dari berbagai pihak.

Berikut ini alasan-alasan logis kenapa sistem Full Day School masih belum pantas untuk diterapkan di Indonesia.

1. Banyaknya sekolah yang masih tidak layak

kepala-sdn-8-keninjal_hartono_ok

Jika melihat sekolah-sekolah di daerah perkotaan, maka bukan menjadi tolok ukur untuk dijadikan alasan penolakan sistem Full Day School.

Akan tetapi jika mau menengok di banyak tempat di seluruh Indonesia, khususnya di daerah terpencil, ada ribuan sekolah yang kurang layak disebut tempat penimba ilmu. Mulai dari tempatnya yang sudah reyot dan hampir roboh, sampai dengan menggunakan fasilitas umum sebagai tempatnya karena tidak tersedianya bangunan, pos kampling sebagai tempat belajar contonya.

2. Banyaknya sekolah yang menumpang ke bangunan sekolah lain

52hardiknas-foto-sinarberitawyMBt

Tidak dapat dipungkiri bahwa dari dulu, ada sekolah-sekolah yang menumpang ke bangunan sekolah lain dan proses belajarnya dilakukan setelah sang pemilik bangunan sudah usai menyelenggarakan aktivitasnya.

Rata-rata sekolah ini akan menggunakan jam-jam siang hari. Jika Full Day School diberlakukan, lantas akan dikemanakan para siswa yang memiliki ‘jatah’ belajar mulai dari siang hari tersebut?

3. Banyaknya nasib guru honorer yang belum jelas

guru honorer

Setidaknya sebelum Mendikbud memikirkan ide pembelajaran sehari penuh tersebut, harus memikirkan terlebih dahulu nasib para guru-guru honorer yang tidak semua memiliki nasib baik dan mendapatkan pengangkatan sebagai guru tetap.

Sampai sekarang ini masih banyak guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun tapi masih belum juga mendapatkan pengangkatan. Mereka juga hanya mendapatkan gaji yang tidak tinggi karena statusnya hanyalah honorer.

4. Beban psikis dan psikologis

prosehat-peduli-stress-pada-anak-1

Mau tidak mau, secara langsung atau tidak, penerapan sistem Full Day School akan berimbas pada sisi psikis dan psikologis anak. Banyak anak akan mudah lelah dan capek yang mengakibatkan sisi psikologis mereka juga terganggu, yaitu gampang stres. Hal ini dikarenakan tuntutan yang harus mereka penuhi setiap harinya.

Mungkin bagi orang tua atau pengajar, hal itu penting dilakukan agar anak menjadi lebih cerdas dan pintar, akan tetapi seorang anak juga tetap manusia yang butuh istirahat dan suasana menyenangkan atau waktu bermain.

Jika Full Day School diberlakukan, maka berapa banyak anak yang akan terbebani oleh masalah psikis dan psikologis. Belum lagi ketika mereka sepulang dari sekolah masih harus mengikuti serangkaian pendidikan tambahan atau juga yang dari keluarga kurang mampu, mereka masih harus membantu orang tua untuk menjaga adik atau ikut bekerja.

5. Pembengkakan biaya

Tabungan-asuransi-pendidikan-manulife-indonesia-13

Di sisi orang tua, jika Full Day School diterapkan, maka mereka harus siap mengeluarkan biaya lebih untuk makan atau sejenisnya, walaupun nantinya sudah ada jatah makan siang atau sore yang diberikan oleh pihak sekolah. Akan tetapi, tentunya setiap orang tua tidak ingin anaknya mendapatkan makanan yang tidak mereka ketahui kadar kesehatannya, bukan? Oleh karenanya, pemberian bekal berlebih akan menjadi kendala tersendiri.

Sedangkan di pihak sekolah pun, anggaran juga akan membengkak karena mereka harus menyediakan konsumsi serta memperbaiki segala sarana dan prasarana. Ditambah lagi ketika sekolah mereka masih belum masuk dalam kategori layak sebagai tempat belajar, maka biaya yang dikeluarkan juga besar.

6. Faktor keamanan

65951-penculikan-anak-di-pgc-ini-yang-dialami-sintya-selama-3-hari-diculik

Mungkin banyak orang tua yang akan mengantar jemput anak mereka di sekolah, akan tetapi tidak sedikit pula yang tidak dapat melakukannya karena banyak faktor, seperti sakit atau juga karena harus bekerja. Dikarenakan hal ini, maka sang anak harus pulang dengan sendiri.

Dapat dibayangkan ketika mengikuti Full Day Scholl dan harus pulang sore, di mana rumah sang siswa sangat jauh, selain masalah angkutan umum yang di banyak tempat hanya terbatas, sisi keamanan juga harus menjadi perhatian. Tentunya masih teringat oleh suatu kejadian yang menimpa Yuyun beberapa bulan lalu, bukan? Dia berangkat dan pulang sekolah melewati jalan yang cenderung sepi dan akhirnya menjadi korban tindak kejahatan yang berujung pada hilangnya nyawa.

7. Berkurangnya rasa kekeluargaan

dampak-ibu-yang-mengalami-kecanduan-gadget

Dengan semakin bertambahnya waktu yang dipergunakan oleh anak di sekilah karena pemberlakuan Full Day School, maka secara otomatis akan berkurang waktu mereka bersama keluarga.

Semakin seringnya mereka kurang atau tidak berinteraksi dengan orang tua atau saudara, maka semakin biasa pula mereka ketika tidak harus bertemu atau berkomunikasi dengan saudara atau keluarganya.