Ini Kata Hamengku Buwono X, Anies Baswedan, Ahok Sampai dengan Deddy Corbuzier Terkait Wacana ‘Full Day School’


1322463-anak-sekolah-sedih-780x390

Memang sih, wacana tentang “Sekolah sehari penuh” atau “Full Day School” yang baru saja diwacanakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia terbaru menggantikan Anies Baswedan, Muhadjir Efenddy, baru tahap ide. Akan tetapi, dikarenakan sudah mendapatkan izin dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), maka kapan saja ide tersebut dapat diberlakukan dan menjadi pilot project.

Tanpa harus menunggu satu atau dua minggu, setelah wacana tersebut terdengar publik, banyak orang, khususnya netizen Indonesia yang keberatan dan menolak akan diberlakukannya sistem Full Day School.

Penolakan-penolakan semakin gencar dari hari ke hari, mulai dari masyarakat umum, atis atau selebritis sampai dengan para wakil rakyat. Contohnya saja, para artis yang sudah mengatakan keberataannya dan menyampaikan uneg-uneg mereka akan sistem Full Day School, antara lain Deddy Corbuzier, Rossa, Sophia Latjuba sampai dengan Ketua Umum Lembaga Pendidikan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau biasa disebut dengan Kak Seto.

“Saya tidak menolak. Tapi jika itu (wacana Full Day School) berjalan, gua akan keluarin anak gua dari sekolah. Anak-anak itu harus bermain dan sosialisasi. Bukan malah belajar dari pagi hingga sore hari,” ujar Deddy, seperti dikutip dari Tribunnews (10/8/2016).

Walaupun terkesan masih menyamarkan rasa ketidaksetujuannya, beberapa pejabat pemerintah, tokoh masyarakat sampai dengan partai politik di Tanah Air juga memiliki pendapat yang kurang lebih sama.

Seperti contohnya yang dilontarkan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mengatakan bahwa boleh saja memberlakukan metode tersebut, akan tetapi harus lebih bervariasi karena selain mendapatkan pelajaran di sekolah, terkadang anak juga masih harus mengikuti ekstra pendidikan lain, seperti les atau kursus. Hal ini dikhawatirkan justru membebani fisik dan psikologis anak.

Di lain pihak, ketika ditanya mengenai hal ini, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dipanggil Ahok hanya mengatakan bahwa sistem Full Day School masih akan dipelajari terlebih dahulu karena memang masih berupa ide saja. Sedangkan mantan Mendikbud Anies Baswedan justru tidak ingin memberikan komentar terkait wacana Full Day School.

“Saya tidak memberi komentar. Saya ingin menjaga etika. Sebagai mantan Mendikbud, menghormati menteri baru dan tidak ikut mengomentari kebijakan menteri yang baru,” jelas Anies Baswedan, seperti yang dilansir Kompas (9/8/2016).

Jika pejabat pemerintah rata-rata masih enggan berspekulasi dan mengobral opini, penolakan yang benar-benar tegas dan berani adalah seperti yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal Muryono dan Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum. Mereka dengan tegas menyatakan menolak akan wacana tersebut, apalagi jika benar-benar diberlakukan.

Alasannya, tidak semua sekolah, kota, kabupaten bahkan tempat-tempat di seluruh Indonesia siap akan pemberlakuan metode belajar tersebut dikarenakan banyak faktor.

“Itu harus diperhatikan. Di sini (Kendal), kalau sore anak-anak Muslim biasa mengaji di TPA. Kalau wacana Pak Menteri diberlakukan, banyak anak yang tidak belajar mengaji, stamina juga terkuras, dan masih banyak sekolah yang belum punya mushala dan kantin. Belum lagi banyak siswa yang rumahnya jauh dan angkutan umum hanya terbatas,” tegas Muryono.

Dari kubu partai politik sendiri, sudah ada 2 yang mengumumkan penolakan, yaitu dari Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Persatuan Pembangunan untuk wilayah Jawa Tengah. Mereka mensikapi bahwa penerapan metode Full Day School justru akan membuat sisi psikologis anak terganggu dan proses penyerapan pelajaran tidak akan efektif karena terlalu capek, sekaligus berimbas pada aspek ekonomi orang tua.

“Karena anak juga butuh istirahat dan kegiatan hiburan kesenian, olahraga, mainan, serta sore pendidikan nonformal. Dari aspek ekonomi, kebijakan ini akan memberatkan orang tua karena, jika jam sekolah sampai sore, itu tentu akan menambah biaya. Dari aspek geografis daerah ataupun kota, program ini membahayakan anak. Jika kegiatan belajar sampai sore, bisa saja akan ada anak yang baru sampai di rumah pada malam hari. Ini malah akan membahayakan kenyamanan anak,” ujar anggota Komisi Bidang Pendidikan DPRD Jawa Tengah dari PKB Jateng, Muhammad Zen (Tempo, 9/8/2016).

Badan perlindungan anak internasional, UNICEF, sendiri juga menyebutkan bahwa setiap anak memiliki hak untuk beristirahat dan juga mendapatkan kenyamanan berupa bermain dan sejenisnya. Jika wacana tersebut diberlakukan, maka sama saja Pemerintah Indonesia melanggar ketetapan yang diberlakukan UNICEF.

“Children have the right to rest and leisure, to engage in sport and play and recreational activities appropriate to the age of the child and to participate freely in cultural life and the arts”

Bahkan sampai sekarang sudah ada 2 petisi online yang telah mendapatkan ditandatangani oleh lebih dari 25 ribu orang untuk menolak wacana tersebut.

Dalam wacananya, Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan bahwa sistem Full Day School ini bukan berarti belajar seharian di sekolah, melainkan mengalokasikan jam-jam setelah waktu belajar reguler untuk kegiatan lain, seperti ekstra-kurikuler yang bermanfaat.

“Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja,” jelas Muhadjir Effendy.

Nah, bagaimana menurut Anda, layakkah anak-anak harus menjalani metode Full Day School setelah sebelumnya dipusingkan dengan Kurikulum 2013 yang menurut kebanyakan siswa sangat ‘menyiksa’ tersebut?


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaMendikbud dan Ide ‘Full Day School’ yang Mandul
Berita berikutnyaJika Ahok Terpilih, Ahmad Dhani Akan Pindah ke Kota Ini