Masih Ingat Bripka Seladi? Uang Bantuan Untuknya Malah Dibagikan ke Pemulung


121241620160807-095259780x390

Bagi warga Kota Malang pada umumnya, walaupun tidak mengenal, pastinya setidaknya tahu akan sosok polisi jujur yang sempat diundang ke Jakarta karena ketulusannya dalam mengabdi ke negara.

Bripka Seladi adalah anggota Polres Malang Kota yang sempat menjadi buah perbincangan baik di media massa, dunia maya sampai dengan di warung-warung kopi pinggir jalan. Dia tetap hidup sederhana walaupun bekerja sebagai polisi. Bahkan seusai bekerja di Polres Malang Kota, Bripka Seladi langsung berganti pakaian dan menjadi pemulung untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Dia tidak mau menerima uang suap selama menjabat sebagai polisi dari awal bertugas sampai sekarang ini. Dia lebih memilih untuk bekerja sebagai pemulung sampah daripada harus menerima uang suap yang menurutnya sangat hina jika dilakukan.

Tentu saja, dengan dedikasinya, kesederhanaan dan kejujurannya ini, Bripka Seladi mendapatkan limpahan rezeki dari berbagai pihak, seperti salah satunya dari Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo. Selama 2 bulan, Bripka Seladi mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 4 juta per bulannya.

Menurut Bambang Soesatyo, hal itu berhak didapatkan oleh Bripka Seladi karena merasa pria yang sudah menapaki usia lanjut itu pantas mendapatkannya dan wajib menjadi teladan bagi semua orang, khususnya bagi para polisi lainnya.

Bambang menjanjikan bahwa uang yang dambilkan bukan dari kas negara itu, melainkan dari gaji pokoknya sendiri tersebut akan diberikan selama tujuh bulan berturut-turut dan sekarang baru memasuki bulan kedua.

Uniknya, mendapatkan hadiah itu, Bripka Seladi mungkin dapat menggunakan dana hadiah itu untuk membuka usaha baru atau membantu perekonomian keluarganya, namun justru dia membagikan rezeki itu kepada rekan-rekannya sesama pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Segaran yang berada di Jalan Mayjen Sungkono, Sukun, Malang.

Dengan berjajar rapi, puluhan pengemis itu mendapatkan petuah bijak serta bergiliran menerima lembaran Rupian dari Bripka Seladi. Walaupun tidak banyak, namun menurut Bripka Seladi, uang tersebut diharap dapat membantu sesama yang lebih membutuhkan dibanding dirinya.

“Uang itu adalah rezeki bersama-sama. Uangnya bisa buat tambahan beli beras atau rokok,” jelas Bripka Seladi, seperti yang dikutip dari Jawa Pos (8/8/2016).

Awalnya, dia hanya memberikan uang tersebut sebesar Rp 15 ribu untuk satu pemulung, tapi karena ternyata masih tersisa, dia kembali membagikan rezeki tersebut secara merata sampai benar-benar tidak bersisa lagi.

Setidaknya ada sekitar 50 orang pemulung yang mendapatkan rezeki dari Bripka Seladi pada hari Minggu (7/8/2016) kemarin tersebut. Dalam membagikan uang itu, Bripka Seladi tidak mengenakan pakaian dinasnya, melainkan baju dan celana biasa seperti halnya ketika dia gunakan saat menjadi pemulung.

Sebelum membagikan, Bripka Seladi juga mewanti-wanti dan berpesan kepada semua orang akan bahaya narkoba serta penggunaan dan penyebarannya.

“Jangan sampai karena diiming-imingi bayaran besar, lalu mau disuruh mengantarkan barang atau dititipi barang tidak jelas, bisa saja itu narkoba. Sebaiknya berhati-hati. lebih baik, pemulung (tetap) bekerja sebagai pemulung apa adanya tetapi yang didapatkan berkah,” lanjutnya.

Bripka Seladi memiliki misi mulia tersebut karena dia merasa bahwa pemulung rentan dimanfaatkan jaringan pengedar narkoba dengan iming-iming bayaran yang cukup tinggi. Di samping itu, pemahaman dan tingkat pendidikan rendah membuat mereka lebih tergiur akan jumlah Rupian yang bakal diterima daripada memikirkan risiko ke depannya.

Selama ini, di TPA tersebut, Bripka Seladi sudah membina kurang lebih 100 orang pemulung dan pengamen serta aktif memberikan penyuluhan akan ketertiban dan keamanan di masyarakat, termasuk keamanan dalam berlalu lintas.