Bangga! Fakta Ini Membuktikan Ternyata Pelaut Indonesia lah yang Pertama Kali Menemukan Benua Afrika?


Sejarah Kapal Jung Jawa

Selama ini sebagai penjelajah lautan, dunia telah mengenal dua nama besar yaitu Christopher Columbus dan juga Laksamana Chengho. Tapi siapa sangka ternyata jauh sebelum mereka nenek moyang kita sudah lebih dahulu mampu menjelajah hingga 1/3 bagian bumi.

Dilansir dari goodnewsfromIndonesia, salah satu bukti kehebatan nenek moyang kita di lautan bisa ditemukan dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan, disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu sudah menguasai lalu lintas pelayaran di “Laut Selatan”.

Sedangkan pelaut Jawa dulu “Orang Jawa” dikenal sebagai orang-orang yang sangat berpengalaman dalam seni navigasi, sampai mereka dianggap sebagai perintis di dunia untuk seni pelayaran berbasis rasi bintang ini, walaupun selama ini diyakini bahwa bangsa China lah penemu teknik ini dan kemudian diteruskan kepada orang Jawa. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa orang Jawa duluanlah yang berhasil berlayar ke Tanjung Harapan (Afrika) dan mengadakan hubungan dengan Madagaskar.

Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya penduduk asli Madagaskar yang memproklamirkan mereka adalah keturunan orang Jawa. Seperti itulah keterangan yang didapat dari catatan Diego de Couto dalam buku Da Asia, yang terbit pada 1645. Bahkan pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 itu mengatakan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika dan Madagaskar. Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan pada abad ke-16 berkulit coklat khas orang Jawa.

“Mereka mengaku keturunan Jawa,” kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Ternyata selain kemampuan navigasi yang mumpuni, rahasia para pelaut Nusantara, khususnya dari tanah Jawa bisa mencapai Tanjung Harapan, terletak pada kapalnya. Ya, mereka menggunakan Kapal Jung Jawa.

Jung Jawa sendiri merupakan Kapal Perang Nusantara yang mana  kala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an, kapal ini banyak mendominasi perairan Asia. Kapal yang juga digunakan untuk berdagang ini menguasai jalur rempah yang sangat vital, yakni antara Maluku, Jawa dan Malaka.

Bukti kepiawaian orang Jawa dalam membuat kapal ini juga tercatat dalam relief Candi Borobudur yang memvisualisasikan kapal bercadik- yang belakangan disebut sebagai “Kapal Borobudur”.

Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal. Kapal Borobudur telah memainkan peran utama dalam segala hal dalam bahasa Jawa pelayaran, selama ratusan ratus tahun sebelum abad ke-13. Memasuki abad ke-8 awal, kapal Borobudur digeser oleh Jung besar Jawa, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Kata ‘Jung’ digunakan pertama kali dalam perjalanan biksu Odrico jurnal, Jonhan de Marignolli, dan Ibnu Battuta berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14.

Mereka memuji kehebatan Kapal Jung Jawa raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dari karya kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.

Disebutkan, jung Nusantara memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal-kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Kapal Jung Jawa terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Nusantara untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513.

Bisa dikatakan, kapal jung Nusantara ini disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini. Teknologi Kuno Bangsa Indonesia yang Canggih – Di zaman dahulu kala, para nenek moyang kita sudah menemukan banyak penemuan yang terbilang canggih.

Tetapi sayang sekali banyak orang Indonesia sendiri tidak menyadarinya. Hilangnya Kapal Jung Jawa Dari Sejarah Indonesia Jung pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak hanya digunakan pada pelaut Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis ini. Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa lampau. Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (ujung selatan Vietnam) , Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka dan Makassar.

Hanya saja, keadaan itu berbanding terbalik menjelang akhir abad ke-17, ketika perang Jawa tidak bisa lagi membawa hasil bumi dengan jungnya ke pelbagai penjuru dunia. Bahkan, orang Jawa sudah tidak lagi punya galangan kapal. Kantor Maskapai Perdagangan Hindia-Belanda (VOC) di Batavia melaporkan pada 1677 bahwa orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal besar.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaInilah Sosok Pratiwi, Mahasiswi Cantik Pembuat Mi ‘Bikini’
Berita berikutnyaBaju Kontingen Indonesia, Dicibir di Dalam Negeri, Dipuji di Luar Negeri