Ternyata Johan Budi tak Sampaikan Pengakuan Freddy Budiman Ke Jokowi. Kenapa?


freddy

Sesaat setelah pengakuan mengejutkan dari Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar dengan mengatakan bahwa ada keterlibatan oknum TNI, Polri dan BNN sesuai dengan apa yang diucapkan Freddy Budiman pada tahun 2014 lalu, banyak pihak yang merasakan keganjilan.

Keganjilan terbesar adalah kenapa jika sudah mengetahui ada informasi penting itu, Haris tidak segera melaporkannya kepada pihak berwajib dan justru berkoar ketika Freddy telah dieksekusi mati pada akhir bulan Juli 2016 lalu.

Terkait dengan pelaporan yang terkesan mendadak ini, menurut Haris, dirinya sudah menghubungi Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Prabowo via telepon pada tanggal 25 Juli 2016 atau sebelum Freddy dieksekusi agar dapat difollo-wup ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Waktu itu, saya telepon sore. Sengaja saya sampaikan cerita itu Senin karena saya menunggu kepastian waktu pelaksanaan eksekusi dan masuknya nama Freddy ke dalam daftar. Soalnya kan itu dirahasiakan,” jelas Haris, seperti yang dilansir Kompas (3/8/2016).

Sayangnya, hingga satu hari sebelum Freddy dihukum mati atau pada tanggal 28 Juli 2016, dia tak kunjung mendapatkan konfirmasi akan perkembangan laporannya ke presiden oleh Johan, maka Haris kembali menuliskan laporan tersebut via WhatsApp.

Tak lama kemudian, menurut Haris, Johan langsung menghubunginya dan mengatakan bahwa laporan tersebut sudah disampaikan ke Jaksa Agung HM Prasetyo. Kembali tidak mendapatkan respon yang cukup dapat membuatnya lega, Haris akhirnya menyebarkan laporan tersebut via WhatsApp dan dibagikan oleh banyak orang yang pada waktu itu membaca pesannya ke berbagai media.

“Setelah menelepon saya, Johan bilang mau menyampaikan cerita Freddy ke Presiden. Saya ditelepon Johan sekitar jam 7 malam, tetapi karena tidak ada respons lanjutan, saya langsung sebarkan cerita itu melalui broadcast WhatsApp 4 jam sebelum eksekusi,” ungkap Haris.

Namun, sedikit berbeda dengan penjelasan Haris, Johan mengaku memang dirinya telah mendapatkan telepon mengenai laporan tersebut, namun karena tidak mendetail, dia tidak dapat menyampaikannya secara langsung ke Jokowi.

“Akhirnya, saya minta, Anda bisa enggak kasih kronologi untuk bahan saya menyampaikan itu ke Presiden,” kata Johan.

Johan sendiri juga mengaku baru mendapatkan informasi detailnya dari Haris pada hari Kamis, 28 Juli 2016, pukul 19.57 WIB melalui WhatsApp. Sayangnya, sekali lagi Johan mengatakan bahwa dia masih tidak dapat menyampaikannya ke presiden karena pada malam itu Jokowi sedang menghadiri Rapimnas Golkar.

“Saya telepon dia (Haris), saya bilang saya belum bisa sampaikan malam ini karena Presiden malam itu ke Golkar. Memangnya ‘Pak Lurah’ bisa langsung ditelepon? Posisi saya juga enggak lagi disebelah Presiden. Saya di rumah waktu itu,” jelas Johan.

Setelah eksekusi dilakukan dan pemberitaan mengenai ketersangkutan sejumlah orang di tubuh Polri, TNI dan BNN dalam kasus penyelundupan narkoba, Jokowi justru mengetahui informasinya dari media.

Ketika dimintai keterangan mengenai versinya dan penjelasan Haris, Johan tidak mau berkomentar lebih jauh lagi.

“Ya itu tadi jawabanya. Ceritanya begitu,” ucap Johan singkat.

Haris sendiri sengaja menunda untuk melaporkan apa yang dia dapat dari mulut Freddy sejak 2014 sampai 2016 karena dia menunggu momentum agar rakyat dan pihak-pihak terkait dapat langsung merespon dengan cepat.

“Jadi selain menunggu kepastian jadwal eksekusi dan masuknya Freddy ke dalam daftar, saya juga sengaja agar momentumnya pas. Jadi kalau momennya berdekatan dengan eksekusi Freddy kita semua akan selalu ingat cerita dia dan pengusutan pun harapannya akan berlangsung,” ungkap Haris.

Dikarenakan tudingan tersebut, 3 instansi pemerintah, yaitu TNI, Polri dan BNN melaporkan Haris ke Bareskrim karena disangkakan melanggar Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).