Untuk Dapat Beasiswa Ini, Calon Penerima Wajib Ikuti Uji Keperawanan


    GetArticleImage

    Mendapatkan pendidikan yang layak adalah suatu hak setiap orang di seluruh dunia. Akan tetapi, apa jadinya jika hal itu terkendala dana?

    Banyak orang yang ingin terus melanjutkan pendidikan harus berjuang mati-matian agar mendapatkan biaya yang dipergunakan untuk mendanainya, namun tidak sedikit pula yang beruntung untuk dapat mencapai gelar tertentu tanpa harus mengeluarkan dana yang cukup besar, yaitu melalui beasiswa, contohnya.

    Akan tetapi, ada satu hal yang unik, menarik sekaligus dapat dikatakan sedikit nyeleneh terjadi di suatu wilayah pedesaan di Afrika Selatan. Dikatakan begitu karena ada program beasiswa yang dapat diterima dan dipergunakan oleh siapa saja, khususnya wanita, namun memiliki syarat tinggi.

    Syarat yang dimaksud adalah barang siapa yang ingin mendapatkan beasiswa, maka dia wajib dapat membuktikan bahwa dirinya masih perawan atau belum pernah berhubungan intim sama sekali.

    Walaupun dikatakan nyeleneh, akan tetapi hal tersebut sudah menjadi tradisi di daerah itu. Bahkan tidak sedikit yang rela melakukan uji keperawanan guna mendapatkan beasiswa itu. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh seorang gadis asal Desa KwaZulu-Natal, Afrika Selatan, Thubelihle Dlodlo (18).

    “Menjaga agar tetap perawan adalah satu-satunya kesempatan bagi saya untuk mendapatkan pendidikan karena orang tua saya tidak mampu untuk menyekolahkan saya. Uji keperawanan adalah bagian dari budaya saya, itu bukan merupakan pelanggaran privasi saya dan saya merasa bangga setelah saya dikukuhkan bahwa saya benar-benar perawan,” jelasnya, seperti yang dilansir oleh BBC pada tanggal 10 Februari 2016 lalu.

    Tradisi dan prasyarat seperti ini diberlakukan karena banyaknya wanita yang melakukan hubungan badan pra-nikah. Di daerah tersebut, usia yang sudah dikatakan layak untuk dapat bebas berhubungan badan adalah ketika yang bersangkutan sudah menginjak umur 16 tahun.

    Sayangnya, biarpun banyak yang merasa hal itu tidak patut dipermasalahkan, akan tetapi uji keperawanan ini mendapatkan kecaman dari banyak pihak, seperti salah satunya adalah kelompok hak asasi manusia.

    “Apa yang benar-benar mengkhawatirkan adalah bahwa mereka hanya berfokus pada anak perempuan dan ini diskriminatif dan tidak akan mengatasi masalah-masalah terkait kehamilan remaja dan tingkat infeksi HIV,” kata Palesa Mpapa dari kelompok kampanye People Opposing Women Abuse.