Para Pengungsi ini di Dibujuk untuk Masuk Kristen


kristenisasi1

Kristenisasi di dunia nampaknya mulai hidup kembali. Kali ini di Yunani. Sejumlah relawan beragama Kristen di salah satu pusat penahanan suaka Yunani diduga melakukan kristenisasi kepada pengungsi di sana.

Berdasarkan informasi dari The Guardian, kejadian itu di awali kelompok relawan yang menyelipkan formulir pindah agama di dalam injil St John versi bahasa Arab. Kemudian, mereka mendistribusikannya kepada pencari suaka di kamp penahanan Moria di Lesbos.

Ketika proses distribusi berlangsung, para pekerja bantuan meminta pengungsi menandatangani formulir yang di dalamnya terdapat pernyataan berikut: “Saya mengakui saya adalah pendosa, saya meminta Yesus untuk memaafkan kesalahan saya dan memberikan kehidupan yang abadi. Saya ingin mencintai dan mematuhi kata-katanya.”, dikutip dari republika.co.id

kritenisasi

Kabarnya, para pengungsi yang sedang mengajukan suaka memang harus ditahan di kamp. Hal ini berdasar pada aturan kesepakatan migrasi Eropa-Turki.

Terkait dengan kejadian ini, para pencari suaka Muslim yang menerima booklet tersebut merasa keberatan dan menyebut hal ini merupakan masalah besar. Menurut salah satu pencari suaka, Mohamed, upaya Kristenisasi itu sudah dilakukan sejak bulan Ramadhan lalu di pada saat umat Islam menjumpai bulan sucinya.

Pencari suaka lain, Ahmed juga merasa keberatan dengan aksi kristenisasi itu. “Sama seperti agama lain, jika anda Kristen dan saya beri Anda Alquran, bagaimana perasaan Anda?,” tegasnya, Selasa (02/08/2016)

Berdasarkan informasi dari pengungsi, formulir itu disebarkan oleh dua orang perwakilan dari kelompok Euro Relief. Kelompok ini menjadi kelompok bantuan terbesar yang aktif di Moria. Sedangkan Kelompok amal lain mundur setelah protes melawan kesepakatan Eropa-Turki.

Euro Relief menyatakan tidak menyetujui distribusi formulir pindah agama tersebut. Namun, pihaknya tak bisa memungkiri apabila relawan membagikan formulir itu atas inisiatif sendiri.

“Saya sudah mengambil tindakan, sehingga relawan kami tahu betul bahwa mereka seharusnya tidak mendistribusikan kertas semacam itu. Kode etik kami dengan jelas menyatakan bahwa hal semacam ini merupakan sesuatu yang tidak dapat mereka lakukan, dan jika seseorang melakukannya maka kami sebagai sebuah organisasi akan mengambil tindakan untuk mendisiplinkan (mereka),” kata Direktur Euro Relief, Stefanos Samiotakis, dikutip dari theguardian.com.

Kejadian ini muncul pasca penutupan perbatasan Yunani – Jerman dan pemberlakuan kesepakatan Uni Eropa – Turki. Diketahui bahwa sejak awal 2015 hingga Maret 2016, sekitar sejuta pencari suaka diizinkan menyeberang dari Turki menuju Yunani. Kemudian pada Maret lalu, Makedonia menutup titik persimpangan pengungsi di perbatasan dengan Yunani.

Beberapa hari setelah itu, Uni Eropa menyetujui kesepakatan yang mengizinkan para pengungsi dideportasi kembali ke Turki mulai 18 Maret 2016. Reaksi kecaman oleh berbagai kelompok pemerhati HAM bermunculan dari kesepakatan ini lantaran dinilai bertentangan dengan hukum internasional.

Hingga saat ini, sekitar 57 ribu pencari suaka masih terdampar di Yunani. Sebagian besar mereka ditampung di daratan utama Yunani, namun ribuan lainnya terdampar di sejumlah pulau di Yunani, termasuk Lesbos.

Kondisi pengungsi yang amat memperihatinkan dengan kerap tidak mendapatkan akses listrik, air dan bahkan susu formula untuk bayi, membuat para pengungsi dan aktivis HAM sering mengutarakan kritikan namun tidak membuahkan hasil. Hal ini disebabkan aplikasi pengajuan suaka yang terlalu rumit dan lambat.

Salah satu pengungsi, Fatima menyatakan, hidup di kamp pengungsian penuh dengan rasa takut, putus asa, dan dibayangi aksi pelanggaran hukum. “Kami melihat kekerasan hampir setiap hari,” katanya, dikutip dari cnnindonesia.com

“Kami tidak merasa aman di sini, kami tidak merasa nyaman di sini,”, lanjutnya.

Saat ini, telah banyak lembaga HAM yang memperjuangkan nasib mereka namun terhenti dengan skema yang rumit dan berjalan lambat. Mereka memperkirakan, puluhan pengungsi akan terjebak di sana dalam jangka waktu yang lama.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaSetelah Menulis Pengakuan Freddy Budiman, Haris Azhar Malah Dikabarkan Jadi Tersangka
Berita berikutnyaApakah Warga Surabaya Tak Boleh Miliki Pemimpin yang Baik?