Hebat! Inilah Peran Indonesia dalam Kemenangan Vietnam Atas Amerika


timthumb

Salah satu borok terbesar yang membuat negara Adi Daya, Amerika Serikat, adalah ketika harus kalah ketika melawan Vietnam yang notabene hanya sebuah negara kecil di Asia. Apakah rahasia kemenangan Vietnam mengalahkan negeri Paman Sam itu?

Bermula dari perang dingin antara USSR atau Uni Sovyet (Rusia sekarang) dan Amerika Serikat, negeri Paman Sam itu mencoba menunjukkan kehebatannya dengan membantu Vietnam yang sedang dilanda konflik pada tahun 1957.

Dirasa memiliki andil akan meredanya ketegangan dan konflik, Amerika Serikat menjadi sedikit pongah dan mulai ikut campur dalam beberapa lini pemerintahan di negara yang juga memiliki nama lain Viet Chong atau IndoChina itu.

Ketegangan memuncak ketika pada tahun 1965 kembali terjadi perpecahan dalam intern Vietnam yang akhirnya terbagi menjadi blok selatan (Republik Vietnam) dan blok utara (Demokratik). Dikarenakan bosan dan muak atas ulah Amerika Serikat yang merasa super-power dan mengatur banyak hal, kubu utara mulai menarik diri dan meminta bantuan USSR untuk memerangi kubu Demokratik.

Tanpa disangka, pembelotan tersebut membuat Amerika Serikat berang dan memberikan bantuan penuh terhadap kubu selatan. Tidak hanya itu saja, Amerika Serikat mengajak serta sekutunya, seperti Australia, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru dan Filipina melawan Vietnam utara yang mendapatkan bantuan dari USSR, Cina dan Korea Utara yang notabene anti-Amerika.

a

Peperangan memuncak pada tahun 1968, kubu Republik Vietnam  yang mendapatkan sokongan banyak pihak memiliki kekuatan tentara lebih dari 1,2 juta pasukan mulai menggempur pihak utara yang hanya berkekuatan sekitar 520 ribu pasukan saja. Pasukan selatan juga dipersenjatai dengan segala peralatan militer canggih pada zaman itu.

Bersenjatakan ala kadarnya dan pasukan yang hanya separuh saja, pasukan utara dengan gagah berani menghadapi segala agresi yang dilancarkan dengan memanfaatkan medan tempur yang telah mereka kuasai, seperti hutan rimba berlumpur sampai dengan rawa yang mematikan karena dihuni hewan-hewan buas, seperti buaya atau ular berbisa.

Dikarenakan buta akan medan tempur, pasukan utara termasuk tentara sokongan dari Amerika Serikat dan sekutunya dibantai habis-habisan. Dalam peperangan yang mencapai 5 tahun tersebut, pasukan selatan banyak mengalami kekalahan dan Amerika Serikat juga merugi atas peperangan yang bukan miliknya itu. Amerika Serikat secara resmi ‘menyerah’ dan meninggalkan Vietnam pada tanggal 29 Maret 1973.

Walaupun begitu, sampai sekarang ini, Amerika Serikat menolak tudingan bahwa mereka kalah perang melawan tentara Viet Chong. Mereka hanya mengatakan bahwa memang sudah saatnya untuk mundur dan tidak mencampuri urusan dalam negeri suatu negara.

Pada tanggal 30 April 1975, perang saudara di Vietnam tersebut berhenti dengan hasil bergabungnya kubu utara dan selatan menjadi satu. Perang yang dimulai dari tahun 1957-1975 tersebut merenggut banyak korban jiwa dan harta benda.

Di perang Vietnam tersebut, ada sekitar 58 ribu lebih pasukan Amerika Serikat yang tewas dan sebagian besar dari mereka masih berusia muda, yaitu antara 22-24 tahun yang ikut dalam wajib militer dan dikirim langsung ke Vietnam untuk berperang. Selain itu, mereka juga tidak memiliki pengalaman dalam peperangan langsung.

vietnam002

Ternyata, ada rahasia di balik kemenangan tentara utara dalam menggempur dan membantai pasukan Amerika Serikat serta pihak selatan, yaitu berasal dari Indonesia. Kok bisa? Ya, usut punya usut ternyata strategi perang pasukan utara tersebut mengadopsi langsung dari sistem taktis dan taktik perang gerilya yang sudah dilakukan Indonesia ketika melawan para penjajah dari Belanda sampai Jepang.

Bahkan melalui buku hasil terbitan Jenderal A. H. Nasution yang berjudul “Pokok-Pokok Perang Gerilya” dipelajari secara mendalam oleh para pemimpin perang pasukan utara. Ditambah lagi dalam penerapan perang gerilya tersebut, medan yang terdapat di daerah utara dan di Indonesia juga tidak jauh berbeda, seperti hutan tropis atau juga sungai-sungai yang dapat dijadikan persembunyian.

Bahkan para pimpinan pasukan utara tidak meniru strategi Mao Tsu Tung yang juga merupakan ahli perang gerilya karena kondisi alam dan masyarakat di Cina dan Vietnam berbeda, namun lebih condong sama seperti yang ada di Indonesia.

Tidak hanya itu saja, strategi yang dilakukan pasukan utara juga meniru langsung apa yang dilakukan Jenderal Sudirman pada saat melakukan peperangan di hutan, sungai dan pegunungan. Para pasukan Viet Cong tidak melakukan serangan frontal karena hal itu merupakan tindakan konyol yang dapat membunuh mereka semua secara langsung, melainkan menyerang beberapa pos atau titik-titik strategis dan menghadang patroli musuh yang lewat.

Selain itu, dalam strategi perang gerilya yang sama dilakukan oleh para pejuang era kemerdakaan Indonesia tersebut juga memperhitungkan sisi untung rugi, yaitu hanya dengan sedikit pasukan mampu membuat kerusakan atau meninggalnya tentara musuh dalam jumlah besar dengan cara menyusup atau sabotase dan perangkap.