Inikah Alasan Sri Mulyani Rela Tinggalkan Gaji Milyaran Rupiah di AS, Demi Menjadi Menteri Jokowi?


1500x832xfoto-SRI-MULYANI-web.jpg.pagespeed.ic.-n5Vp7tFMj

Dalam sebuah sambutannya Menteri Keuangan terkini Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, Sri Mulyani menyatakan terhormat karena diminta kembali untuk menjadi menteri. Tapi banyak pertanyaan yang timbul, apakah alasan yang sebenarnya Sri Mulyani rela tinggalkan jabatan tinggi di World Bank untuk pulang kampung ke Tanah Air.

“Saya merasa terhormat diminta kembali. Saya siap bekerjasama dengan menteri lainnya di sisa masa jabatan ini. Semoga target pemerintah bisa segera terealisasi,” ucap Sri Mulyani seperti dilansir dari Tempo.

Wanita yang pernah mendapat gelar ‘salah satu wanita paling berpengaruh’ versi Forbes ini tampak bungah dan gembira. Bahkan keputusan Sri Mulyani untuk meninggalkan posisi sebagai Managing Director di World Bank sempat mengejutkan dunia.

Banyak yang tak menyangka mantan Menteri Keuangan di era Presiden SBY ini mau kembali pulang demi ‘turun jabatan’, kembali menjadi menteri. Apalagi diberitakan JPNN, punya jabatan di Bank Dunia, wanita berkacamata ini menerima gaji yang sangat besar. Dalam setahun total wanita bernama lengkap Sri Mulyani Indrawati ini menerima USD630.175, atau sekitar Rp8.192.27.000.

052836_827728_Gaji_SMI

Beberapa analisa pun mencuat ke permukaan terkait dengan kesediaan kembali Sri Mulyani untuk menjadi ‘penjaga brangkas’ Republik Indonesia.

Sedikit mundur kebelakang kala Sri Mulyani masih menjadi Menteri SBY, kasus Bank Century jelas menjadi satu masalah yang sempat menyandungnya saat itu.  Terakhir kali menjadi saksi dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada bulan Mei 2014, ia dimintai keterangan atas tersangka mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya.

Dalam sidang tersebut Sri Mulyani beralasan bahwa sikapnya dalam kasus Century didasari atas krisis dunia yang saat itu terjadi dan jangan sampai merembet ke Indonesia.

“Pada saat kita menghadapi krisis, ada potensi krisis buruk di sektor perbankan, jika ada bank yang gagal maka akan diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS),” paparnya saat bersaksi.
Kini  jelas di Kabinet Kerja, tekanan politik ke Sri Mulyani sudah tak seperti awal pemerintahan Joko Widodo, atau saat Sri Mulyani menghadapi tekanan antara politik dan krisis keuangan di era SBY. Dan  beriku analisa beberapa alasan Sri Mulyani mau pulang kampung.

Menipisnya Kekuatan Koalisi Partai
Pada awal terpilihnya presiden Joko Widodo, Koalisi Merah Putih lebih kuat dibanding partai pendukung pemerintah. Koalisi Indonesia Hebat hanya mempunyai dukungan 207 kursi di DPR. Dukungan 36,9 persen itu jauh lebih kecil dibanding kursi Koalisi Merah Putih, 353 kursi atau 63,1 persen.

Ketika itu Presiden Joko Widodo tak memilih Sri Mulyani dalam Kabinet Kerja. Meskipun, nama Sri Mulyani sempat muncul dalam bursa menteri Jokowi. Pada awal Oktober 2014 berdasarkan informasi yang dihimpun ,Sri Mulyani sudah bertemu Jokowi, Jusuf Kalla, dan Megawati Soekarnoputri.

Ketika ditanya mengenai pertemuan itu, Jokowi hanya tersenyum. “Nanti saja,” kata dia di ruang kerjanya, Kamis, 9 Oktober 2014.

Peta politik di parlemen sudah berubah. Partai politik yang berseberangan dengan Jokowi sudah mulai merapat seperti Golkar, Partai Amanat Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan. Jokowi bisa menjadi aman dengan komposisi kursi di DPR yang mendukungnya. Koalisi Indonesia Hebat ditambah partai baru pendukung Jokowi menjadi 386 kursi atau 68,9 persen. Sedangkan Koalisi Merah Putih hanya 174 kursi atau 31,1 persen.Kalaupun kasus Century dikaitkan dengan Sri Mulyani, Partai Demokrat yang memiliki 61 kursi dipastikan tak ikut membahas. Praktis kubu Koalisi Merah Putih hanya memiliki 113 kursi saja. Sehingga memang eskalasi politik akan mengecil, dan hal ini akan mempermudah kinerja Sri Mulyani.

525958_620

Faktor Aburizal Bakrie
Pada medio 2008, Sri Mulyani dan Aburizal Bakrie sempat  memperlihatkan  ketidakserasian. Beberapa masalah menjadi ramai pada waktu itu. Soal Lapindo, Sri Mulyani membuat kebijakan keras. Selaku Menteri Keuangan ia sempat menolak dana APBN 2006 dan 2007 dipakai untuk menanggulangi semburan lumpur itu.

Bukan itu saja, enam perusahaan Bakrie sempat disuspensi hampir sebulan oleh Sri Mulyani. Soal lain saat menjabat pelaksana tugas Menko Perekonomian, Sri Mulyani menolak keinginan Bakrie membeli 14 persen saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara. Sri Mulyani meminta seluruh saham divestasi Newmont dibeli oleh perusahaan negara.

Akhir dari perseteruan tersebut toh akhirnya  Sri Mulyani kandas dan memilih mundur pada Mei 2010. Dia mengungkapkan alasanya ketika memberikan kuliah umum bertajuk Kebijakan Publik dan Etika Publik di Ritz-Carlton.

“Sumbangan saya sebagai pejabat publik tak lagi dikehendaki dalam situasi politik di mana perkawinan keputusan itu begitu sangat dominan,” kata dia. “Orang bilang kartel (politik), saya bilang itu  namanya kawin.”

Berbeda dengan kondisi sekarang, konflik Partai Golkar yang berlarut-larut akhirnya melengserkan Aburizal Bakrie, seterunya dari pucuk pimpinan partai beringin.

Jelas kondisi ini akan sangat menguntungkan Sri Mulyani untuk bisa bergerak bebas menyusun strategi memperbaiki keuangan dan kondisi ekonomi Indonesia.

Sangat menarik untuk dinantikan apakah gebrakan yang akan dibuat Sri Mulyani, dan mungkinkah ada kekuatan-kekuatan politik lagi di era sekarang yang akan menerornya kembali?

  http://credit-n.ru/zaymyi-next.html


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaFoto Nikita Mirzani Lagi Begini Sama Anggota DPRD Ini Bikin Heboh!
Berita berikutnyaMenggemparkan! Susu Kecoak Ternyata Suplemen Super Bergizi di Masa Depan