Benarkah Kudeta Turki adalah Rekayasa?


160715-turkey-coup-mn-16_a89f7311f0636e5fe5b4a949cf8f92da.nbcnews-fp-1200-800

Setelah kasus penabrakan yang terjadi di Nice, Prancis, dunia serempak menoleh ke arah Turki di mana telah dilakukan kudeta militer yang pada akhirnya berhasil digagalkan oleh militer yang masih setia dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan beserta rakyat.

Walaupun menimbulkan korban jiwa dan sedikit kekacauan pada saat terjadinya aksi militer mendadak tersebut, akan tetapi ada anggapan bahwa kudeta militer itu merupakan setingan alias palsu dan sengaja dibuat atau direkayasa.

Pernyataan bahwa kudeta militer yang terjadi di Turki tersebut hanyalah sebuah konspirasi teori berasal dari tulisan seorang pewarta bernama Adam Lusher dari situs Theindependent.co.uk (16/7/2016).

Dalam laman tersebut mengatakan bahwa Erdogan sengaja membuat Turki seolah sedang dalam masa genting karena ada kudeta yang dilakukan oleh militer bersenjata lengkap. Akan tetapi hal itu menurut banyak pihak justru memperlihatkan kepalsuan akan kudeta tersebut.

Bahkan para pengamat politik juga mulai berspekulasi bahwa jika benar kudeta tersebut adalah rekayasa, maka hal itu merupakan salah astu upaya Erdogan untuk membersihkan lawan-lawannya di pemerintahan atau juga di kubu militer dan semakin menambah cengkeramannya ke Turki.

Seorang koresponden senior European Union di Politico, Ryan Heath turut mengomentari kudeta tersebut setelah mendapatkan sumber dari ‘dalam’ bahwa ada upaya khusus untuk memunculkan “pejuang demokrasi” yang tak lain adalah Erdogan dan menciptakan teror berkedok kudeta.

Tentunya menjadi satu hal yang cukup memprihatinkan ketika rakyat didorong untuk percaya bahwa pemerintahan dan presiden mereka sedang dikudeta dan Turki dalam kondisi bahaya. Oleh karenanya, maka diharapkan bantuan segenap rakyat, terutama yang pro terhadap Erdogan, untuk membantu melenyapkan para pemberontak.

Di sisi lain, hal yang tak kalah memprihatinkan adalah terletak pada para tentara berpangkat rendahan yang ikut dalam aksi tersebut. Menurut postingan di sebuah group Facebook, KataKita, mengatakan bahwa dari hasil interogasi yang dilakukan kepada para tentara yang ikut terlibat dalam kudeta tersebut, mereka justru tidak tahu menahu bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah upaya menggulingkan pemerintahan yang sedang berjalan. Mereka hanya mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan tersebut merupakan perintah dari para komandan sebagai rangkaian dari latihan.

Dapat dikatakan bahwa jika memang benar kudeta tersebut merupakan kudeta palsu, maka para tentara yang terlibat dapat diibaratkan sebuah pion yang sengaja dimanfaatkan para petinggi di atasnya untuk menaikkan popularitas semata.

Strategi tipu daya yang lebih dikenal dengan nama Operation False Flag seperti ini bukan sekali saja dilakukan karena dari tahun ke tahun cara tersebut sudah pernah diterapkan oleh berbagai pihak.

Contohnya saja pada tahun 1931 oleh pemerintah Jepang yang berusaha membuat pemerintah boneka di Manchuria, pada tragedi Gleiwitc pada tahun 1939, oleh Adolf Hitler pada tahun 1940 sampai dengan teori konspirasi peledakan Gedung WTC di Amerika Serikat pada tanggal 9 September 2001 atau juga yang menurut banyak pihak termasuk sebagai salah satu konspirasi terbesar di Indonesia yang dikenal dengan nama G30S/PKI.

Sebagai penguat pemikiran bahwa kudeta di Turki ini merupakan rekayasa adalah Erdogan terpilih pada tahun 2014 lalu dengan perolehan suara yang berbanding sangat tipis dengan pihak oposisi, yaitu 52% yang memilihnya dan 48% yang kontra terhadapnya.

Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, ribuan orang-orang yang kontra terhadapnya dan melakukan ejekan, sindiran sampai kritikan kepadanya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Bahkan seusai kudeta yang terjadi pada hari Jumat (15/7/2016) kemarin, sudah ada 2000 lebih tentara yang ditangkap karena dianggap terlibat dalam aksi pemberontakan.

Walaupun banyak pihak yang beranggapan bahwa apa yang terjadi pada hari Jumat lalu itu hanyalah rekayasa politik, namun tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa memang telah terjadi kudeta dan hal tersebut bukanlah mengada-ada.