Kisah Mengenaskan Mahasiswa Papua di Yogyakarta setelah Gagal Gelar Aksi Dukung Papua Merdeka


    DSC07150

    Entah apa yang harus dikatakan atau dikomentari, di satu sisi ada unsur kemanusian dan HAM di dalamnya, namun di sisi lain ada pelanggaran konstitusi NKRI.

    Beberapa waktu lalu ada sebuah kejadian yang cukup memprihatinkan menimpa para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di Yogyakarta. Dikatakan memprihatinkan karena mereka dikepung oleh sejumlah ormas beserta warga selama berjam-jam sehingga tidak dapat membeli makanan dan hanya minum air putih saja sebagai pengganjal lapar.

    Peristiwa bermula dari akan dilakukannya long march dengan mengambil rute Asrama Mahasiswa Papua di jalan Kusumanegara ke Titik Nol KM di Jalan panembahan Senopati oleh sejumlah mahasiswa asal Papua yang tergabung dalam Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB).

    Long march tersebut merupakan aksi damai yang rencana awalnya akan dilangsungkan pada hari Jumat (16/7/2016) oleh para anggota PRPPB untuk mendukung orang-orang yang tergabung dalam United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) atau Gerakan Pembebasan Papua menjadi anggota penuh di Melanesian Spearhead Group (MSG) atau sebuah organisasi lintas negara yang meliputi daerah kawasan Pasifik Selatan, sepertiFiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Vanuatu.

    Sayangnya, sebelum acara long march dimulai, secara tiba-tiba banyak personel dari kepolisian setempat memblokir semua akses keluar-masuk dan mengelilingi Asrama Mahasiswa Papua tersebut. Dikarenakan hal tersebut, para mahasiswa menolak pemblokiran dan mencoba melawan polisi yang berakibat saling dorong antara dua kubu.

    Bahkan sempat terjadi sedikit perkelahian antara pihak kepolisian dan mahasiswa Papua yang mencoba keluar dari asrama melalui jalan belakang. Tidak hanya itu saja, banyak para mahasiswa asal Papua yang berdomisili di berbagai tempat yang awalnya ingin mengikuti long march dan mendatangi tempat tersebut ditangkap oleh pihak kepolisian.

    Dikarenakan tidak ada akses untuk keluar atau masuk, maka urusan logistik dan makanan juga menjadi tersendat. Ditambah lagi berdatangannya sejumlah ormas dan warga yang ikut mencoba merangsek masuk ke dalam asrama. Untung saja, pihak kepolisian sigap dan menghalangi niat itu. Walaupun begitu, puluhan kata-kata kasar dan cenderung berbau rasis terus terdengar yang dialamatkan untuk para mahasiswa yang tertahan di dalam asrama.

    Karena kelaparan, para mahasiswa yang terkurung di dalam asrama akhirnya hanya dapat meminum air saja. Bahkan bantuan makanan dari solideritas warga sekitar yang disalurkan kepada Palang Merah Indonesia juga tidak boleh masuk ke kawasan asrama.

    Bantuan berupa makanan batu dapat dikirim dan diterima oleh para mahasiswa Papua tersebut sekitar pukul 21:00 WIB. Walaupun keadaan sudah agak mereda, namun pihak kepolisian tetap menyiagakan beberapa personel untuk menjaga kestabilan dan kekondusifan di daerah tersebut karena tidak menutup kemungkinan ada serangan dadakan yang dilakukan warga atau ormas yang sengaja menunggu kelengahan pihak keamanan.

    Polisi mengharapkan situasi kondusif. Kami menjaga agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebab mereka (para mahasiswa Papua) berencana menggelar unjuk rasa mendukung separatisme, Papua Merdeka, dan ada organisasi masyarakat yang tidak setuju,” jelas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY, AKBP Any Pudjiastuti, seperti yang dikutip dari CNN Indonesia (17/7/2016).

    Adapun mahasiswa-mahasiswa yang sebelumnya ditangkap, kini telah dibebaskan kembali. Namun salah satu dari mereka tetap dalam tahanan karena terbukti melaukan penyerangan kepada petugas.

    Sampai saat ini, kondisi sudah mulai terkendali, walaupun begitu, para mahasiswa di Asrama Mahasiswa Papua tersebut masih merasa ketakutan dan trauma karena kejadian yang mereka dapati sehari sebelumnya itu.

    “Asrama Papua masih dalam kepungan militer, tapi kami kini bisa beraktivitas, beda dengan Jumat kemarin. Jumat itu, untuk keluar pun sangat berbahaya bagi kami. Kami kelaparan karena tidak bisa keluar asrama cari makan,” ujar salah seorang mahasiswa Papua yang enggan disebutkan namanya.