Kepala BIN Sebut Indonesia Berpotensi Diserang ISIS


    Seiring dengan pemberitaan mengenai penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf terhadap beberapa ABK asal Tanah Air, kewaspadaan pemerintah Indonesia akan bahaya terorisme semakin diperketat.

    Bahkan dalam hal ini, sepak terjang simpatisan ISIS di Indonesia terus dipantau. Hal ini dikarenakan potensi serangan yang dilakukan oleh kelompok garis keras Negara Islam Irak dan Suriah tersebut cukup besar. Setidaknya hal itulah yang dikemukakan oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

    “Potensinya (serangan ISIS di Indonesia) tentu gede ya,” jelas Sutiyoso, seperti yang dilansir kompas.com (11/7/2016).

    Sutiyoso mengatakan hal tersebut bukan tanpa dasar, karena dia memperkirakan jumlah simpatisan ISIS dan mantan kombatan Suriah di Indonesia sangat banyak. Ditambah lagi dengan bergabungnya sejumlah mantan narapidana perkara terorisme dengan simpatisan ISIS di Indonesia.

    Untuk itu, BIN benar-benar melakukan pemantauan secara ketat terhadap kelompok-kelompok ini. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk tindakan nyata setelah Indonesia kecolongan dan terjadinya aksi peledakan bom di Jalan Thamrin, Jakarta beberapa waktu silam.

    Bahkan, upaya penanganan secara ketat yang dilakukan BIN ini juga merupakan suatu jawaban atas seruan aksi amaliyah atau aksi teror di negara masing-masing seperti yang diserukan oleh juru bicara ISIS sebelumnya. Hal tersebut juga dikonfirmasikan oleh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

    “Betul, ada seruan dari Jubir ISIS untuk melakukan amaliyah di seluruh dunia,” kata Badrodin

    Agar lebih maksimal lagi dalam penanganannya, Sutiyoso berharap agar pemerintah segera menyelesaikan pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

    “Karena itu, segera revisi UU Terorisme. Itu memberikan aparat untuk bertindak cepat. Deteksi dini menjadi semakin dikedepankan,” ujarnya.