Ketua Dewan Presidium Jari 98: Ulah The Jakmania Kampungan!


    IMG-20160627-WA0010

    Kerusuhan yang terjadi di Stadion Gelora Bung Karno antara suporter fanatik Persija Jakarta, The Jakmania, melawan aparat keamanan terus mendapatkan reaksi dan respon dari berbagai pihak. Salah satunya berasal dari Ketua Dewan Presidium Jari 98 Willy Prakarsa.

    Menurut Willy, apa yang dilakukan para pelaku terhadap petugas yang mengamankan jalannya pertandingan sangat brutal dan tidak sepatutnya dilakukan. Bahkan dia mengecam tindakan tersebut.

    Pada saat terjadinya bentrokan, salah seorang dari 5 anggota polisi yang cedera adalah Brigadir Hanafi. Dia menderita luka cukup parah, terutama pada bagian muka. Hingga kini, Hanafi masih terbaring di rumah sakit dalam keadaan kritis karena bola mata sebelah kirinya pecah dan beberapa bagian dari wajah juga kepalanya harus mendapatkan banyak jahitan karena pukulan serta lemparan benda-benda keras.

    “Kami mengecam tindakan brutal dan anarkis suporter The Jakmania. Tindakan mereka justru tambah mencoreng nama Jakmania itu sendiri. Ini kampungan,” tegas Willy, seperti yang dilansir oleh Okezone (27/6/2016).

    Dikarenakan hal tersebut, Willy mendesak agar Komnas HAM segera turun tangan dan menindaklanuti kasus penganiayaan tersebut karena jika lambat dalam merespon tragedi ini, maka permasalahan akan semakin meluas.

    “Komnas HAM jangan diam saja dan bisu lihat peristiwa ini. Jangan sampai publik ikut-ikutan kecam,”lanjutnya.

    Tidak hanya itu saja, Willy menginginkan agar penegakan hukum atas kasus ini segera dapat dilakukan dan dilakukan pengusutan secara tuntas juga cepat, serta meminta agar pengurus Persija wajib ikut bertanggung jawab atas kasus pengeroyokan dan penganiayaan tersebut.

    “Usut tuntas pelakunya dan aktor di belakang layarnya. Pengurus Persija juga wajib bertanggung jawab,” tegasnya.

    Bentrokan terjadi setelah Persija Jakarta selaku tuan rumah harus kebobolan oleh gol yang dilesakkan Hilton Moreira dari Sriwijaya FC menjelang menit ke-80. Dikarenakan gol inilah The Jakmania meresponnya dengan bertindak anarkis, menyalakan flare dan turun ke lapangan.

    Karena suasana semakin tidak kondusif, berdasarkan imbauan dari penyelenggara pertandingan yang mendapatkan persetujuan baik dari official Persija Jakarta dan Sriwijaya FC, maka wasit terpaksa harus menghentikan pertandingan.

    Bukannya masalah selesai, The Jakmania justru semakin marah dan mulai merusak beberapa perangkat di tempat kejadian, seperti billboard di pinggir lapangan. Aparat yang disiagakan pun harus dibuat kocar-kacir dan melarikan diri karena massa semakin brutal dan seperti tidak takut lagi untuk melakukan aksi anarkis.

    Alhasil, selain beberapa bagian dari Stadion Gelora Bung Karno mengalami kerusakan dan terbakarnya motor juga mobil, ada 5 orang anggota polisi yang mengalami luka serius karena dikeroyok dan dianiaya suporter, salah satunya adalah Brigadir Hanafi itu.