Mirisnya Islam di Negara yang Mudah Terbakar


hariansib_-14-Ormas-Islam-Minta-Presiden-Cabut-Izin-Ormas-Radikal

Tidak dapat dipungkiri bahwa walaupun bukan berada di jazirah Arab atau di Timur Tengah yang dapat dikatakan sebagai tempat di mana negara-negara Islam ‘berkumpul,’ akan tetapi Indonesia yang notabene berada jauh di Asia Tenggara merupakan negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia hingga saat ini.

Sebelum Islam masuk ke Tanah Air, masyarakat Indonesia rata-rata menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, lantas banyak di antaranya yang lambat laun memeluk agama Hindu dan Buddha. Ketika muslim dari Gujarat datang ke Tanah Air untuk urusan dagang dan syiar agama, secara perlahan, agama IslamĀ juga dianut oleh masyarakat Indonesia yang awalnya beragama Hindu.

Proses Islamisasi di Tanah Air membutuhkan waktu yang cukup lama karena selalu ada pertentangan dari berbagai pihak, khususnya masyarakat atau kerajaan-kerajaan Hindu kuno yang tidak mau memeluk agama Islam. Namun pada akhirnya, banyak yang hijrah dari kepercayaan dan agama awal mereka ke Islam.

Pada awal kemerdekaan, sempat muncul pemikiran bahwa Indonesia harusĀ berlandaskan atau berazaskan hukum Islam sesuai dengan khilafah, akan tetapi menurut banyak cendekia lainnya, hal itu tidak dapat dilakukan karena walaupun negeri ini mayoritas penduduknya beragama Islam, namun ada juga penganut agama dan kepercayaan lainnya yang hidup berdampingan.

Pada akhirnya, kesepakatan yang terbentuk adalah penggunaan azas keragaman dalam kebinekaan yang terangkum dalam Bhinneka Tunggal Ika atau “Berbeda-beda Namun Tetap Satu Jua.”

Azas tersebut digunakan secara bertahun-tahun dari presiden pertama sampai sekarang. Sayangnya, ketika era teknologi sudah menggelanyut dan masuk ke setiap lini kehidupan masyarakat, orang-orang Indonesia, pada khususnya umat muslim di Tanah Air seakan kehilangan pijakan akan kebinekaan dan lebih condong ingin menang sendiri. Entah karena merasa menjadi yang mayoritas atau karena beralasan ‘diserang’ terlebih dahulu.

Banyak kasus terkait masalah agama yang dalam beberapa tahun ini bermunculan dan menyeret pada perpecahan antar-umat beragama di Indonesia. Hal tersebut juga merembet ke banyak hal, seperti terjadinya kerusuhan yang dilandasi kesukuan sampai dengan perselisihan orang-orang yang berada dalam satu agama dan keyakinan.

Contoh paling baru adalah kasus Saeni yang dirazia oleh petugas Satpol PP di Serang, Banten. Banyak orang yang mengecam tindakan petugas karena melanggar hak Saeni dalam mencari nafkah. Akan tetapi pihak petugas mengatakan bahwa mereka melakukan penindakan sudah sesuai struktur dan Perda yang berlaku.

Kericuhan semakin meluas ketika masalah tidak hanya membahas siapa yang salah, apakah Saeni yang mencari nafkah ataukah petugas Satpol PP yang bertindak sesuai Perda, melainkan boleh tidaknya seseorang berjualan makanan di siang hari pada bulan Ramadan.

Menurut pihak yang pro terhadap Saeni, apa yang dilakukan wanita tersebut adalah sah-sah saja walaupun berjualan di siang hari di bulan puasa. Yang patut dipertanyakan adalah sisi keimanan seseorang yang tergoda untuk membatalkan puasa hanya lantaran melihat ada hidangan di depan mereka.

Sedangkan bagi pihak yang kontra menyatakan bahwa apa yang dilakukan Saeni termasuk berdosa dan juga termasuk tidak menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Berbagai analisis, penuturan sampai dengan caci maki yang berujung pertengkaran, bermunculan di media sosial karena di Indonesia. Hanya melalui media seperti inilah setiap orang berhak dan bebas mengutarakan pendapat tanpa harus takut ketahuan jati dirinya walaupun apa yang dilontarkannya tidak sesuai, tidak berdasar sampai dengan menyakiti pihak lainnya.

Tidak hanya itu saja, contoh kasus lain dan yang masih hangat dibicarakan adalah terkait penistaan agama. Baru-baru ini didapati ada 2 orang remaja yang kedapatan berfoto dengan pose menginjak Alquran.

Tentu saja hal ini mendapatkan beragam kritik, cacian, makian sampai bullying massal di sosial media. Mulai dari harapan agar sang pelaku dihukum, sampai dengan doa-doa agar dia segera dicabut nyawanya oleh Tuhan.

Bahkan yang tak kalah barunya, ada postingan yang muncul di Facebook dan telah dikomentari ratusan orang dan di-share sebanyak puluhan kali yang menampilkan seorang wanita menghujat Islam dan menampilkan foto menginjak Alquran.

Seperti kasus sebelumnya, reaksi marah dan benci terhadap pelaku langsung berkobar tanpa mengetahui terlebih dahulu kebenarannya. Padahal jika dilihat-lihat, nampaknya akun Facebook tersebut bukanlah akun asli, melainkan hanya dibuat oleh orang yang tak bertanggung jawab dan sengaja memicu kontroversi atau membuat provokasi di tengah masyarakat Indonesia yang mudah tersulut emosinya ini. Namun sudah banyak yang langsung menunjukkan kemarahannya tanpa melakukan ross-check terlebih dahulu.

Sebagai bahan pemikiran lain, sangat jarang sekali ada reaksi berlebihan sampai memicu pertikaian yang dilakukan oleh pemeluk agama atau kepercayaan lain ketika ajaran dan yang menyangkut agama mereka dihujat. Rata-rata mereka hanya diam dan tidak bereaksi berlebihan. Mereka takut karena merasa menjadi yang minoritas ataukah mereka cukup pintar untuk tidak menanggapi isu yang menyangkut SARA tersebut?

Lantas pertanyaannya adalah kenapa orang Indonesia, pada khususnya yang beragama Islam, mudah sekali marah dan tersulut emosi ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran agama mereka atau ketika agama mereka dihina?

Di era sekarang ini, diyakini atau tidak bahkan dipercaya atau tidak, sifat dasar orang Indonesia, khususnya yang suka beraktivitas di jejaring sosial lebih suka ikut-ikutan atas segala hal yang sedang tren dan dibicarakan. Tanpa melakukan pencarian informasi yang lebih akurat, rata-rata akan langsung mengikuti tren yang memiliki massa lebih besar dan kemudian ikut melakukan penghakiman.

Hal ini tidak lepas dari pola didik dari kecil yang mana banyak orang tua (walaupun tidak semua) membiasakan anak mereka untuk melarang mengetahui sesuatu hal yang belum semestinya mereka konsumsi atau ketahui. Bahkan tidak sedikit pula yang memiliki keterbatasan hak untuk memiliki pendapat dan kebebasan dalam mengungkapkan pandangannya sendiri.

Rata-rata, para orang tua atau juga pendidik lainnya akan lebih mengarahkan kemana alur pemikiran anak atau para remaja daripada mereka harus memikirkannya sendiri. Oleh karenanya, banyak dari mereka yang akhirnya mencari-cari tahu sendiri kebenaran suatu informasi yang mereka dapatkan dari kecil.

Dikarenakan hal itu, bukan suatu hal yang mengada-ada jika dikatakan bahwa orang Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang takut untuk salah, takut untuk berbeda, takut untuk dianggap aneh dan takut untuk dilihat sebagai seorang yang tidak normal.

Begitu pula dalam hal beragama dan pemikiran tentang segala hal yang diajarkan. Tidak sedikit dari mereka akan langsung bereaksi dan marah ketika Islam atau segala hal yang terkait dihina, dihujat atau dilecehkan, setelah melihat ada rombongan reaksi sejenis yang bermunculan. Aksi ‘soliderisme’ seperti ini terus menguat dari hari ke hari.

Bahkan ketika ada upaya yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, maka dengan mudah orang-orang akan mengatakan bahwa hal tersebut haram sampai dengan menyebutnya kafir atau mengatakan bahwa darahnya halal untuk ditumpahkan. Sebegitu murahnya-kah nyawa seorang manusia?

Reaksi berlebihan tanpa mengetahui dasar dan hanya ikut-ikutan seperti ini justru akan membuat citra Islam sebagai agama damai sangat tercoreng dan ditertawakan oleh pemeluk agama lain.

Lantas, siapa yang patut disalahkan? Well, tidak ada yang benar atau salah dalam hal ini karena semuanya kembali kepada diri sendiri. Semua orang berhak beropini dan semua orang memiliki keyakinan sendiri-sendiri. Termasuk dalam keyakinan sebesar apa iman mereka dan seberapa jauh mereka berhasil menafsirkan ayat demi ayat dalam kitab suci.

Pada intinya, seperti yang tercantum dalam Alquran, “Lakum dinukum waliyadin” – Al Kafirun (Untukmu agamamu, untukku agamaku). Setiap orang berhak memeluk sampai menjalankan apa yang sudah menjadi keyakinan mereka tanpa mengganggu pemeluk agama dan kepercayaan lainnya.

Tuhan pun mengirimkan manusia sebagai wakilnya di bumi untuk menjadikannya tempat yang damai. Jadi, tetap dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang damai, namun hanya segelintir pemeluknya yang justru berhasil membuatnya tercoreng dengan penafsiran dan pembenaran menurut pemikiran masing-masing.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaWow! Dua Tahun Jabat Gubernur DKI Kekayaan Ahok Naik Sebanyak Ini
Berita berikutnyaBerani! Sandiaga Uno Keluarkan Kritik Pedas Buat Ahok