Salut! Korban Pelecehan Seksual Ini Bangkit dan Akhirnya …


    Penyintas

    Indonesia saat ini sedang mengalami masa-masa memprihatinkan berkenaan dengan perlindungan anak dan perempuan. Kasus pelecehan seksual dan p*********n terhadap anak dan perempuan di Indonesia dapat dikatakan sudah mencapai fase darurat. Bahkan, beberapa kasus diantaranya dilakukan dengan keji dan sama sekali tidak pantas disebut manusiawi.

    Salah satunya dialami oleh seorang wanita, L (22) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Pengalaman kelam dan memilukan tersebut terjadi pada akhir tahun 2009. Saat itu, seorang guru yang seharusnya digugu dan ditiru justru tega melakukan hal yang semestinya tidak dilakukan terhadap korban seperti dilansir Harian Umum Solopos.

    Pelaku yang notabene mantan guru SD korban ini tega menyetubuhi L hingga beberapa kali. Guru yang seharusnya menjadi teladan justru menjadi penghancur impian dan masa depannya. Kejadian itu sendiri terjadi saat korban berusia 17 tahun ketika ia duduk di kelas X di salah satu SMK di Sragen.

    Jelas peristiwa tersebut memukul mentalnya menjadi hancur berkeping-keping. Bagi pelaku dan pihak yang tidak peduli mungkin akan menganggap hal ini adalah sesuatu yang biasa. Akan tetapi bagi korban, ingatan masa lalu dan luka batin yang ditanggung adalah seumur hidup.

    Ditambah lagi, korban tinggal di daerah pedesaan yang tidak ramah terhadap korban perkosaan. Bahkan, tidak sedikit dari masyarakat justru menyalahkan dan memberikan label kepada korban sebagai bukan wanita baik-baik.

    “Ada yang bilang saya itu berusaha merebut suami orang,” ungkap L (22) di Sekretariat Aliansi Perempuan Peduli Sukowati (APPS) di Sambirejo, Sragen, seperti dikutip Harian Umum Solopos.

    Tantangan yang dihadapi korban tidak berhenti disitu saja. Lingkungan tempat dimana ia seharusnya mendapatkan ilmu, yakni sekolah pun juga kurang dapat menerimanya. Terutama dari reaksi teman-teman sebaya (sekolah) yang menyudutkan dan mengecilkannya. Hinaan tersebut membuat harga dirinya terluka dan ia menjadi enggan berangkat ke sekolah.

    Cobaan yang bertubi-tubi ini pernah membuatnya terbesit keinginan untuk b***h diri. Bahkan, ia pernah menarik diri dari kehidupan sosial selama dua bulan.

    Penghakiman sosial yang ia terima pernah membuatnya menjadi merasa tidak berharga. Kepercayaan dirinya menghilang. Korban merasa hidupnya sudah ternoda dan khawatir suatu saat nanti tidak akan ada pria yang mau mencintainya dan menikahinya.

    Beruntung, perkenalannya dengan Sugiarsi, Ketua APPS memberikannya semangat dan harapan baru dalam menjalani hidup.

    “Sejak kenal mami (sapaan akrab Sugiarsi), saya rutin diterapi. Biasanya saya diantar kedua orang tua saya untuk diterapi,” ujar L seperti dikutip pada Harian Umum Solopos.

    L adalah salah satu survivor (penyintas) atau yang dikenal dengan seseorang yang bertahan hidup dalam kasus kekerasan seksual. Tentu sangat tidak mudah bagi seorang penyintas kekerasan seksual untuk bangkit kembali dan bertahan. Putusan hukuman tujuh tahun penjara bagi pelaku tidak ada artinya lagi bagi L. Butuh lima tahun lamanya untuk membuatnya kembali bangkit dalam menjalani kehidupan.

    Begitu cepat waktu berjalan. Tak terasa, tujuh tahun semenjak kejadian tersebut berlalu dan L kini telah melangsungkan ijab kabulnya di Kantor Urusan Agama (KUA) Gesi. Seseorang yang mau menerima dan mencintainya dengan tulus tersebut adalah tetangganya sendiri. Tentu saja suaminya mengetahui betul seluk beluk dan masa lalu L.

    Terkadang diperjalanan, L berpapasan dengan pelaku. Awalnya ketika berpapasan dengan pelaku, L merasakan diselimuti rasa ketakutan. Namun, ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk membuang jauh-jauh rasa takut itu. Apapun yang terjadi, ia berusaha untuk berjalan dengan tegak dan tak goyah dengan apapun.