Tak Disangka! Soeharto Ternyata Sering Menyamar Ketika Blusukan


Mantan Presiden Soeharto

SURATKABAR.ID – Mantan Presiden Republik Indonesia, Soeharto pada hari Rabu (8/6/2016) tepat 95 tahun yang lalu lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Mantan presiden yang juga dikenal dengan julukan The Smiling General ini lahir pada 8 Juni 1921.

Terlepas dari kontroversinya selama 32 tahun menjabat, Soeharto ternyata memiliki sisi lain yang tersembunyi yang tidak diketahui oleh masyarakat. Salah satu hal yang menarik adalah kegemarannya melakukan penyamaran (incognito) atau yang dimasa kini lebih populer disebut dengan blusukan seperti dikutip republika.co.id.

Memperingati hari kelahiran mantan presiden Soeharto, Abah Alwi merawikan kisah-kisah kehidupan Soeharto lengkap dengan ‘penyamaran’ (incognito) yang selama ini dilakukannya. Soeharto sering melakukan ini untuk mendengarkan dan melihat langsung dinamika kehidupan yang sesungguhnya terjadi dimasyarakat.

Bermula pada pertengahan 1970 an, Soeharto gemar menyamar ke sejumlah desa dengan menggunakan mobil jip, bukan mobil kepresidenan. Kedatangan Soeharto ke sejumlah desa benar-benar dilakukan dengan cara ‘menyamar’. Kunjungan yang dilakukan Soeharto pun benar-benar rahasia dan tidak diketahui oleh siapapun.

Rombongan yang dibawa tidak lebih dari tiga kendaraan yang meliputi didalamnya ajudan dan para pengawal. Pejabat daerah dan para menteri juga tidak diberitahu sebelumnya. Hal ini dilakukan agar ia benar-benar dapat berbicara langsung dengan rakyat secara alami tanpa dipengaruhi oleh pihak manapun.

Wartawan Antara, Pattirajawane yang saat itu berprofesi sebagai wartawan sejak era pemerintahan Bung Karno pun diminta datang oleh Kepala Dokumentasi dan Media Massa Sekretariat Negara, Dwipayana, atau yang akrab disebut Pak Dipo untuk turut mengikuti perjalanan Soeharto.

“Besok Anda berangkat ikut Presiden Soeharto,” kata Pattirajawane sembari menirukan kata-kata Pak Dipo seperti dikutip republika.co.id.

soeharto-menyamar-lagi-ngupi

Dipo menambahkan, perjalanan yang akan dilakukan Soeharto sifatnya adalah rahasia dan tidak boleh diketahui siapapun. Termasuk istri dan teman-teman kantor. Soeharto sendiri memilih Patti karena ia merupakan wartawan yang sudah senior dan menguasai bahasa Jawa dengan baik.

Keesokan harinya, Soeharto beserta rombongan berangkat menuju pelosok desa untuk berdialog secara langsung dengan rakyat kecil. Ia juga membawa Saidi, fotografer kepercayaannnya untuk mengabadikan momen perjalanan dan penyamarannya.

Soeharto melakukan perjalanan ke Majalengka dan ia menyamar menjadi seorang mantri. Uniknya, kegemarannya dalam menyamar ini pernah diketahui oleh seorang warga desa. Warga desa pun melaporkannya kepada kepala desa dan akhirnya kepala desa tersebut kalang kabut. Bahkan, kepala desa tersebut rela menggedor-gedor sebuah toko hanya untuk mendapatkan kan blacu untuk sprei alas tidur presiden seperti dikutip republika.co.id.

Ketika meninjau sekolah inpres di Cilacap pun Soeharto juga melakukan hal yang serupa. Bahkan, ia menendang tembok bangunan sekolah tersebut hingga runtuh.

“Siapa anemer (pemborong–Red) bangunan ini?” seperti dikutip republika.co.id

Sontak, kedatangan Soeharto tersebut membuat pejabat daerah Cilacap kebingungan dan memburunya.

Lain halnya dengan cerita Soeharto yang saat itu menyamar dan mengikuti rapat petani di kelurahan. Berhubung Soeharto adalah anak seorang petani, ia mengkoreksi paparan tentang cara penggunaan pupuk dan ukuran pupuk ketika rapat.

Penyamaran Soeharto yang dilakukan sangat rapi tersebut bahkan tidak diketahui oleh Ismail Saleh yang saat itu menjabat sebagai sekretaris kabinet dan pemimpin umum LKBN Antara. Ia memanggil Patti dan lantas memarahinya lantaran tidak diberitahu perihal kunjungan Soeharto tersebut.

“Saya ini sekretaris kabinet, kenapa kamu tidak kasih tahu saya?” kata Ismail Saleh seperti dituturkan Patti seperti dikutip republika.co.id.

Ketika ulang tahunnya yang ke 64, mantan presiden kedua di Republik Indonesia ini pun menerima kunjungan sebanyak 50 orang dari SD Petukangan dan Jakarta International School, Jakarta Selatan. Mereka datang untuk mendeklamasikan puisi dan duduk bersama bu Tien.

Yang tak kalah menyentuh adalah ungkapan hati anak-anak SD Petukangan kepada Pak Harto, “Semoga panjang umur, semoga sering tersenyum.” Seperti dikutip republika.co.id

Lebih dari 23 ribu surat per tahunnya diterima oleh Soeharto. Bahkan salah satu diantaranya minta sepeda mini dan dikabulkannya. Semakin tua, sosok Soeharto semakin dekat dihati anak-anak.