Ini Jawaban Bripka Seladi Tanggapi Cibiran Orang Terkait Profesi Lainnya Sebagai Pemulung


Seladi, Brigadir Kepala Polisi yang Juga Berprofesi Sebagai Pemulung Sampah - Cover

Selama ini kesan yang terbersit di masyarakat pada umumnya tentang sosok polisi adalah seseorang yang mengenakan pakaian dinas, bertugas sebagai penegak hukum dan juga hidup berkecukupan. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang memiliki rekening ratusan juta atau juga sampai miliaran.

Akan tetapi, hal tersebut sangat kontras jika Anda melihat dan membandingkan dengan sosok polisi yang bertugas di Satuan Polisi Lalu Lintas Polres Malang satu ini, yaitu Brigadir Kepala (Bripka) Seladi.

Seladi adalah seorang bintara polisi yang sehari-hari bertugas seperti layaknya para penegak hukum pada umumnya. Sekilas tidak ada yang aneh dari pria yang sudah berumur di atas 50 tahun satu ini. Akan tetapi yang namanya sontak terkenal sekarang ini adalah profesi ganda yang dia lakoni sejak bertahun-tahun tersebut.

Profesi ganda yang dimaksud adalah selain menjadi bintara polisi, Seladi juga menjadi seorang pemulung yang dia lakoni selepas bertugas atau ketika ada waktu luang. Tentunya menjadi satu hal yang aneh melihat ada seorang dengan jabatan Bripka namun justru menjadi seorang pemulung.

Apa yang dilakukan Seladi ini bukan sebagai penarik sensasi belaka, karena memang dia melakukannya untuk mencari tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Memang, Seladi dikenal sebagai seorang polisi sederhana dan jujur. Bahkan dia menolak untuk menerima uang suap karena menurutnya hal tersebut melanggar integrasi institusi dan amanah sebagai aparat penegak hukum. Oleh karenanya, dia tidak malu atau merasa canggung untuk mencari uang tambahan selain dari gaji bintara sebagai pemulung sampah.

Seladi, Brigadir Kepala Polisi yang Juga Berprofesi Sebagai Pemulung Sampah - A

Awalnya, Seladi melihat banyak sampah yang menurutnya dapat ‘diubah’ menjadi uang atau dijual lagi di sekitar Markas Polres Malang. Dengan tidak malu terhadap rekan seprofesinya, dia memunguti sampah-sampah tersebut dan membawanya pulang kemudian menjualnya kepada pengepul.

Dari lingkup tempat kerja dan juga beberapa pertokoan di sekitar, Seladi mulai merambah jalanan untuk mendapatkan sampah yang layak jual. Bersama dengan anaknya yang merupakan merupakan lulusan Diploma 2 Jurusan Informatika di salah satu universitas negeri di Kota Malang tersebut, Seladi membawa pulang uang antara Rp 35-50 ribu saja.

Apa yang dilakukan Seladi ternyata membuahkan hasil yang cukup dapat membuat orang lain salut, yaitu dia berhasil menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, membeli mobil pickup sebagai sarana pengangkut dan menyewa sebuah rumah kecil milik temannya sebagai tempat menyimpan dan memilah sampah.

Dalam benaknya, jika suatu pekerjaan dilakukan secara ikhlas dan penuh ikhtiar, niscaya akan berbuah hasil yang baik. Seladi tidak terlalu memperdulikan pandangan dan omongan orang lain karena menurutnya dia bisa saja menjadi seperti orang tersebut, akan tetapi orang-orang yang mencibirnya kemungkinan tidak dapat menjadi seperti dirinya.