Kisah Henk Ngantung, Gubernur DKI Etnis Tionghoa dan Non-Muslim Pertama yang Hidup Menderita Setelah Dicap PKI


SURATKABAR.ID – Henk Ngantung merupakan gubernur DKI Jakarta yang menjabat sejak Agustus 1964-Juli 1965. Masa jabatannya memanglah sangat singkat, namun ia terbilang juga ‘apes’. Bagaimana tidak, ia hanya menjabat beberapa waktu lalu dicopot tiba-tiba dari posisinya. Ia tercatat sebagai orang etnis Tionghoa dan non-Muslim pertama yang diangkat jadi Gubernur DKI.

Tidak lama setelah Henk Ngantung ditunjuk Presiden Soekarno sebagai gubenur, ia langsung jadi sasaran tembak rezim otoritarian Orde Baru. Bahkan Orde Baru melabeli Henk Ngantung sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena dicap begitu, ia tak pernah disidang dan diberi kesempatan untuk membela diri.

Karena cap PKI yang menempel pada dirinya itulah, membuat karir dari Henk jadi gagal total. Dilansir dari Kompas.com, Hetty Evelyn Ngantung Mamesah yang merupakan istri dari Henk menyebutkan karir suaminya hancur seketika pada 1965, era rezim Orba yang membantai ribuan bahkan jutaan nyawa lantaran dituduh komunis.

Baca juga: Saat Mantan Suami Kenang Momen Manis Bersama dengan Susi Pudjiastuti di Pantai Pangandaran

“Pagi-pagi di depan rumah kami di Tanah Abang II banyak RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) sedang mengepung tangsi Tjakrabirawa. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Kehidupan kami selanjutnya menjadi susah hingga harus jual rumah,” papar Evelyn.

Kemalangan terus menimpa kehidupan Henk dan istrinya. Mereka menjual rumah lantaran sudah tidak punya uang lagi. Bahkan setelah dicopot dari kursi Gubernur, Henk tidak mendapatkan uang pensiun. Barulah tahun 1980 ia diberi uang pensiun oleh pemerintah. Uang jual rumah itu dipakai untuk membeli rumah di permukiman padat penduduk di pinggir Jl. Dewi Sartika, Jakarta Timur dengan harga Rp 5,5 juta.

Setelah Henk tutup usia, sang istri tetap tinggal di rumah sempit dengan atap yang bocor dan kondisi yang bisa dibilang tidak layak. Banyak ruangan di rumah yang tak bisa lagi dipakai, ada banyak sketsa karya tangan Henk yang mengkrak dalam lemari. Salah satunya sketsa Tugu Selamat Datang. Satu-satunya ruangan yang aman adalah dapur, dan itu merupakan tempat tidurnya.

Barulah pada 24 April 2013, Pemprov DKI Jakarta berjanji memugar atap rumah Henk yang rusak parah. Pada pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama, Dinas Perumahan segera merenovasi atas rumah Pak Henk yang nyaris bocor dan roboh. Namun tak sampai setahun, pada tanggal 3 September 2014, Evelyn tutup usia.