Dianggap Ancaman bagi Amerika, Dewa Judi Asal Kalimantan Ini Jadi Buruan FBI


SURATKABAR.ID – Dunia judi yang mewah serta penuh gemerlap kerap membuat orang silau mata hingga terbius dan ingin terjun ke dalamnya. Nah, di dalam industri perjudian dunia, Paul Phua bukanlah nama yang asing.

Meski Paul Phua berasal dari Kalimanta, namun ia berkewarganegaraan Malaysia. Ia memiliki pengaruh yang terbilang sangat besar di dunia judi dunia. Saking besarnya pengaruh pria yang dijuluki Dewa Judi ini, ia sampai menjadi buruan FBI karena dianggap ancaman bagi Pemerintah Amerika Serikat.

Seperti yang dilansir Grid.ID dari lama Intisari yang mengutip ESPN, pada Minggu (15/9/2019), Paul Phua menjalani hidup yang penuh kesederhanaan. Ia telah membangun kerajaan judinya sendiri di banyak negara. Mulai dari Hong Kong, Las Vegas, London, hingga Melbourne.

Dan jauh sebelum ia dikenal sebagai sang Dewa Judi, Paul Phua hanya seorang pekerja konstruksi biasa. Hidupnya perlahan mulai berubah ketika ia mengikuti perjudian kecil di Kuala Lumpur yang ternyata memberikannya keuntungan sangat besar.

Baca Juga: Pria Berpenghasilan Rp 128 Juta per Hari Ini Mencoba Hidup Jadi Gelandangan, Begini Hasilnya

Paul Phua diduga telah menghasilkan keuntungan setidaknya US$ 400 juta atau yang setara dengan Rp 6 triliun.

Macau menjadi tempat pertama ia melangkah menuju industri perjudian dunia. Saat itu, ia hanya menjadi seorang operator jamuan makan VIP. Hingga pada tahun 2006 ia mencoba peruntungan dengan menjadi pemain poker.

Tahun 2010, para pemain judi terkenal, seperti Tom Dwan, Phil Ivey, Chau Giang, Patrik Antonius, dan John Juanda, yang dulunya berfokus ke Las Vegas mulai berpindah ke Macau. Jejak mereka diikuti pemin judi profesional lainnya pada 2011.

Lalu pada 2012, Paul Phua mencoba peruntungannya di dunia judi dengan mengikuti World Series of Poker 2012 sebesar 1.000.000 dolar AS, atau setara dengan Rp 15 miliar Big One untuk satu acara Drop. Di kesempatan itu ia memenangkan Aspers 100 ribu Poundsterling atau sekitar Rp 1,9 miliar High Roller.

Ia berhasil mengalahkan Richard Yong ketika bermain di London dan mengantongi uang sebesar Rp 24 miliar. Sejak sepak terjangnya di industri judi sempat terhenti di tahun 2014 lantaran ia masuk dalam daftar buronan FBI.

Pada 15 Agustus 2014, ia diadili oleh Departemen Kehakiman lantaran bersama tujuh orang lainnya telah menjalankan perusahaan ilegal dalam pertaruhan Piala Dunia di tahun 2014. Namun kasus Paul Phua dinilai lebih dari sekadar taruhan dalam pertandingan sepak bola saja.

Alasannya, aktivitas Paul Phua tentang peredaran uang di Las Vegas dan pengaruhnya terhadap sistem keuangan Amerika Serikat meningkatkan kekhawatiran pemerintah negara adidaya tersebut. Namun rupanya upaya penangkapan Paul Phua tak berjalan mulus.

FBI lengah dalam surat perintah yang seharusnya bisa melumpuhkan Paul Phua. Alhasil, sang Dewa Judi pun terbukti tak bersalah. Namun ada juga yang mengatakan jika di balik pengadilan tersebut ada campur tangan elit.