Karma! Dulu Uang Jadi Tisu Toilet, Lihat Kondisi Penduduk Negara yang Hobi Foya-Foya Ini Sekarang


SURATKABAR.ID – Dikenal memiliki kekayaan yang berlimpah, penduduk negara ini sampai memiliki hobi yang tidak biasa. Penduduk Nauru sangat suka menghamburkan uang mereka. Salah satunya dengan menjadikannya sebagai tisu toilet.

Namun rupanya kini mereka tak lagi bisa melakukan kesenangan tersebut. Kok bisa?

Bak kena karma, saat ini penduduk Nauru justru menjadi jatuh melarat lantaran kebiasaan foya-foya mereka di masa lalu.

Nauru sendiri merupakan sebuah pulau kecil di Samudera Pasifik yang memiliki luas tak lebih dari 21 kilometer persegi.

Diselimuti Keindahan yang Bikin Betah

Seperti ditukil dari laman Grid.ID, Jumat (6/9/2019), Nauru adalah negara terkecil di Pasifik Selatan. Nauru juga tercatat sebagai negara terkecil ketiga menurut luas wilayah di dunia.

Baca Juga: Dikenal Kaya Raya! Wanita Ini Malah Diancam Diusir dari Inggris Usai Habiskan 308 Miliar

Awalnya, Nauru hanya dihuni oleh orang-orang Mikronesia dan Polinesia selama kurun waktu setidaknya 3 ribu tahun. Tempat ini terisolasi, kecuali dari pelaut atau narapidana yang melarikan diri.

Hingga pada akhir abad ke-19, Nauru dianeksasi dan diklaim sebagai koloni oleh Kekaisaran Jerman.

Peta Pulau Nauru

Bangsa Eropa rupanya berhasil menemukan deposit fosfat. Dan sejak saat itu pulau kecil ini pun menjadi tambang terbuka. Kekayaan alamnya dieksploitasi oleh kekuatan kolonial asing.

Usai akhirnya mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1968, penambangan diintensifkan hingga sebagian besar fosfat mereka berhasil dilucuti.

Dalam proses penambangan fosfat yang menyuburkan ladang di tempat yang sangat jauh, negara ini telah menderita banyak kerusakan di sejumlah lokasinya. Dan hari ini, Nauru hanya gurun tandus dengan puncak batu kapur bergerigi yang menutupi hingga 80 persen pulau.

Kondisi Nauru Kini

Pulau Nauru kala itu menghasilkan miliaran dolar hanya dari tambang fosfat yang kemudian digunakan dalam produksi pupuk. Para penduduknya dibayar untuk melakukan pekerjaan panas dan kotor, yakni menggali fosfat di antara fosil terumbu karang.

Berkat pekerjaan ini, mereka bisa memiliki banyak uang yang lalu dipakai untuk membeli tiket perjalanan belanja ke Hawaii, Guam, hingga Singapura.

Seorang kepala polisi Nauru bahkan sanggup membeli Lamborghini berwarna kuning. Hingga ia terlambat menyadari bahwa dirinya telah tumbuh menjadi terlalu gemuk untuk duduk di kursi belakang kemudi.

“Dari tahun 1970-an hingga 1990-an kami dihujani kekayaan tapi kami tidak tahu cara menanganinya,” ujar Evi Egir (40), salah seorang penduduk Pulau Nauru yang memainkan gitarnya di bawah rimbunnya pohon saat anak-anak berlarian di sekitar kakinya.

“Hampir tidak ada orang yang berpikir untuk menginvestasikan uang itu,” imbuhnya.

Manoa Tongamalo (43), yang terancam menjadi pengangguran mengatakan, “Banyak hal-hal bodoh terjadi. Orang-orang akan pergi ke toko, membeli beberapa permen, membayar dengan banyak uang dan tidak minta kembalian.”

“Mereka bahkan menggunakan uang itu sebagai kertas toilet.”

Lantaran keserakahan manusia dan kegemaran mereka hidup berfoya-foya, kini Nauru menjelma menjadi negara miskin. Berkat kebodohan mereka pula, keindahan alam pulau yang ditinggali kini hanya tinggal kenangan.